ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 65


__ADS_3

Ketika Abay berdiam diri di dalam kamar rahasia bersama istri rahasianya, Dina juga duduk diam di lantai di depan cermin yang terpasang di lemari pakaian.


Dina tak sendiri, dia sedang menatap pada Bwalika yang berdiri di belakangnya.


"Kenapa? Kak Lika kenapa menyuruhku menyentil ke arah meja di depanku? Peristiwa tadi itu sungguh mengerikan!" Tatapan mata Dina menyorot menuntut penjelasan. Sinar mata yang terpantul dari cermin menuju ke Bwalika.


Dina tak perlu menengok, cukup melihat melalui cermin. Dia sedang mempertanyakan perihal kejadian di Kopi's Jaman Now tadi.


"Demi keselamatan dirimu dan juga temanmu si Maya itu. Lupa, aku juga terpaksa menolong si jahat Ami," jawab Bwalika tenang.


"Keselamatan atas apa? Apa ada orang yang mau berbuat jahat pada kami bertiga?" Dina merasa heran.


"Tentu saja. Kalau tak ada yang jahat, buat apa aku turun tangan?" seru Bwalika berupa pertanyaan.


"Tapi aku tak melihat ada orang jahat di sekitarku. Itu pun tempat ramai. Jadi penjahat tak akan mungkin beraksi," bantah Dina.


"Kamu terlalu polos dan lugu, Dina. Kejahatan itu dapat terjadi kapan dan di mana saja. Tak peduli waktu dan juga tempat ramai ataupun sepi. Waspada itu harus dan perlu, hati-hati. Walau hal itu pun kadang percuma, hanya orang baik yang selalu diberikan keselamatan. Sekali berbuat baik, akan datang balasan yang baik pula." Bwalika tertawa.


Dina terdiam.


"Sekarang, apa kamu ada kenal satu dari tiga pemuda yang tadi?" tanya Bwalika.


"Ada, namanya Adul. Dia tetangga dari Suta."


"Suta, temanmu yang membuat kita bertemu itu, apa benar?" tanya Bwalika lagi.


"Ya, dia." Dina membenarkan.


"Suta...." Bwalika terdiam sejenak. "Sebaiknya kamu dan dia jangan sampai jatuh dalam kisah asmara!"


"Kenapa bicara hal itu? Aku masih kecil, malas bicara apa itu yang namanya asmara atau cinta-cintaan seperti itu. Kembali saja pada Adul itu!" Dina meminta Bwalika tak larikan topik semakin jauh.


"Ya, ya, ya. Baiklah... Adul dan kedua temannya itu sebenarnya mau berkenalan dengan kalian bertiga."


"Adul sudah kenal aku, mungkin juga dia sudah melihat Kak Ami dan Maya. Masa iya dia mau kenal aku lagi?" serobot Dina.


"Maksudku, Adul itu berkata pada kedua temannya. Kalau dia menyukai dirimu dan si mulut busuk Ami. Tetapi kedua temannya itu mempunyai niat jahat yang lain. Karena itu aku marah, aku tak rela kamu disakiti mereka.


"Sebentar Kak Lika, aku masih bingung...." Dina menarik napas lebih dulu, lalu berkata. "Darimana Kak Lika bisa tahu, mereka punya niat dan mau berbuat jahat pada kami bertiga?"

__ADS_1


"Aku ini apa?" tanya Bwalika bukannya menjawab.


"Jin dari jenis ular," jawab Dina.


"Kalau kamu tahu aku ini jin, berarti kamu harusnya paham... tak sembarang orang bisa melihat diriku."


"Ah, iya... aku lupa dan tak bisa berpikir ke arah itu. Tahu begini, kenapa aku tak mati saja?" Dina tertawa.


"Karena itu, aku mendengar kedua temannya Adul itu berbisik dan menerangkan rencana jahat mereka pada Adul," ucap Bwalika tak terpancing ucapan Dina sebelumnya.


"Rencana apa?"


"Mereka berencana mengajak kalian bertiga pergi ke markas besar, tempat di mana mereka sering kali berbuat tak senonoh dan jahat."


"Aku akan menolak jika diajak pergi!" seru Dina cepat.


"Kamu bisa saja menolak, tetapi Ami... apa kamu bisa menahan keinginan Ami yang senang berdekatan dengan cowok? Apa kamu tak ingat kejadian dulu?" tanya Bwalika.


Dina pun teringat akan Rey. Pemuda yang disukai Ami, yang akhirnya harus mati di tangan Bwalika.


"Jika Ami mau ikut dengan mereka, apa yang kamu akan lakukan?" tanya Bwalika yang merasa cukup untuk Dina termenung.


"Itulah, tetapi apa kamu bisa menjaga dirimu dan yang lain, jika kedua teman Adul itu telah siap dengan obat tidur mereka?" desak Bwalika.


"Kalau aku sedang tidur, mana mungkin aku tahu apa yang terjadi di dekatku. Apalagi jika tidurku itu tak wajar."


"Hahaha, karena itu aku minta kamu gerakan jarimu seperti orang yang menyentil. Gunanya untuk itu, memberi mereka hukuman! Kecuali Adul, dia termasuk pemuda yang baik karena menolak untuk ikut serta rencana jahat kedua temannya."


Dina pun akhirnya mengerti, maksud Bwalika baik. Tetapi caranya memberi hukuman itu cukup mengerikan.


"Mengingat dirimu, aku tak bikin mati mereka itu sudah baik dan murah. Tetapi aku buat mereka cacat wajah, hingga malu untuk mendekati anak gadis. Aku tak tahu sudah berapa anak gadis yang terjebak dan harus menjadi korban mereka berdua, hanya saja mulai sekarang mereka sudah tak punya kemampuan lagi untuk berbuat jahat."


"Apa aku harus berterima kasih pada Kak Lika? Jika iya, aku harap Kak Lika cukup sampai di sini membantu diriku!" Dina berdiri dari duduknya, lalu memutar tubuhnya.


"Kenapa?" tanya Bwalika kaget.


"Kebaikan Kak Lika, aku rasa sudah cukup. Bukan aku menolak pertemanan dan pertolongan Kak Lika. Hanya saja, aku tak bisa menerima kebaikan Kak Lika seumur hidup. Sebab aku punya Tuhan, aku pun diberi tahu, jangan bergantung dan meminta pertolongan pada jin seperti Kak Lika. Maaf," ucap Dina lembut.


"Ya, aku tahu itu. Tetapi aku berbuat seperti ini, bukan bermaksud untuk memindahkan iman dan kepercayaan terhadap Tuhan dari dalam hatimu kepadaku. Percayalah, aku melakukan ini karena ingin kamu dapat menjalani takdirmu yang sejati!"

__ADS_1


"Urusan takdirku, itu biar menjadi urusanku!" Dina berseru tegas.


"Tapi, Dina...."


"Kak LIka, aku lelah. Mau tidur!" potong Dina.


"Baiklah. Padahal aku masih ingin bicara tentang Papamu dan juga Nenek asing yang membuat aku kabur itu. Tentu kamu masih ingat akan cerita itu kan?"


"Nini Ai, ya?" tanya Dina tertarik.


"Ya, dia." Bwalika mengangguk.


Dina tak jadi tidur, karena dia penasaran pada Nini Ai itu.


"Nini Ai telah menemui Papamu. Tetapi usahanya gagal dan pada akhirnya bergantung padamu."


Dina menatap bingung pada Bwalika, sebelum akhirnya dia berkata.


"Aku masih belum paham, Nini Ai itu mau apa dengan Papaku? Lalu kenapa harus aku yang diharapkan?"


"Apa kamu masih ingat, saat aku bilang di usia kelima belas nanti, kamu harus pergi dari sini?" tanya Bwalika.


"Ya, aku masih ingat itu Kak," jawab Dina.


"Kepergianmu itu nantinya akan menemui Nini Ai. Kamu harus belajar dari dirinya, apa yang disuruhnya untuk kamu pelajari, kamu harus turuti. Itu jika kamu memang mencintai Papamu Abay, yang bukan...." Bwalika cepat menutup mulutnya, karena belum saatnya dia bercerita tentang Abay dan Endah pada Dina.


"Yang bukan apa?" tanya Dina karena penasaran dan curiga, Bwalika tak jadi bicara.


"Kalau kamu benar mencintai dan hormat pada Papamu, kamu harus tolong dia dari jeratan siluman ular Nyi Malini!" seru Bwalika yang pelan-pelan mulai menghilang.


"Kak Lika, tunggu! Kak...." teriak Dina bergema hingga keluar kamar.


"Nanti kita bertemu lagi, Dina! Pesanku, jangan pernah kamu bercerita pada Papamu tentang siluman ular atau kamu akan celaka. Belum saatnya, belum saatnya Dina...."


"Kak Lika...." Dina berteriak sekali lagi.


"Dina buka pintu! Ada apa kamu?" teriak Wati sambil gedor pintu kamar.


"Dina, lo kenapa?" Ami juga ikut berteriak panik.

__ADS_1


__ADS_2