
"Kamu simpan saja cincin ini!" Dina serahkan cincin milik Suta kembali ke tangan Yuri.
"Tapi Kak...." Yuri menatap bingung Dina dan dia tak bisa melanjutkan ucapannya.
"Kenapa? Tak mau?" tanya Dina.
"Aku...."
"Simpan saja!" Dina tersenyum.
"Tidak, aku tidak mau!" Yuri menggeleng.
"Terus kamu mau apa? Aku pun tak mau menerima cincin itu?" Dina ikut menggeleng.
Sejenak mereka berdua terdiam. Cincin berada di telapak tangan Yuri.
Di kejauhan terdengar suara sirene ambulans.
"Sudah datang!" teriak seseorang dari arah ruang tamu.
Dina segera berdiri dan berlari ke depan. Yuri tak mau sendirian di kamar, dia ikut berjalan ke luar kamar Dina dan cincin kembali masuk ke dalam sakunya.
Yuri tak sekolah hari ini, dia meminta ijin pada orang tuanya, karena mendengar kabar kematian Suta.
Dua mobil ambulans berhenti di dekat tenda biru yang telah dipasang. Lalu tampak orang beramai-ramai mengangkat peti mati berisi mayat Suta dan Said.
Dina menghampiri Sasan yang berjalan dari mobil milik Andi yang dia tumpangi. Sasan terlihat sedih dan lemas.
"Bapak." Dina merangkul Sasan.
"Suta sudah mati Dina. Dia... dia...." Sasan terluka dan terpukul hatinya.
*
Abay yang tangan dan kakinya terikat rantai itu berjalan tertatih-tatih bersama budak yang lainnya. Mereka baru saja bekerja keras, menambang emas dan bahkan sempat Abay tersiksa.
Beberapa waktu sebelum akhirnya pekerjaan paksa selesai, Abay diseret ke arah tungku api besar. Lalu dia dilempar ke dalam tungku api tersebut bersama 4 budak lainnya.
Mereka berteriak kesakitan, panasnya api membakar tubuh. Begitu sakit dan perih, hingga tak terasa mereka jatuh dan anehnya, tubuh mereka boleh saja menjadi hitam, tetapi tidak menjadi abu.
Hingga mereka dikeluarkan dari dalam tungku api dengan kondisi tubuh gosong.
Abay dan yang lainnya dijajarkan. Terlihat seorang manusia ular membawa ember besar berisi air.
__ADS_1
Air pun disiram ke tubuh Abay dan yang lainnya. Hingga beberapa detik kemudian, Abay berserta yang lainnya terjaga dan berteriak.
"Ampun."
"Tolong."
"Sakit."
"Ah."
"Nyi Malini lepaskan aku!" teriak Abay.
"Huh, setelah bersenang-senang di dunia dari hasil harta kami, kamu mau minta dilepaskan. Enak saja!" ejek pria manusia ular yang bertugas sebagai mandor pada Abay.
Abay pun melihat bayangan tali cambuk menyambar ke arahnya.
"Aduh!" Abay yang tadinya duduk, kini jatuh dengan dada menerima cambukan.
Darah mengalir, tetapi tak lama luka mengering dan darah pun berhenti.
"Cepat bangun dan pulang ke tempat kalian!" bentak si mandor yang baru saja mencambuk Abay tadi.
Abay dan puluhan budak lainnya, wanita dan pria berjalan beriringan. Mereka menuju dua tempat gedung terpisah. Di antara budak-budak wanita itu terdapat Santi dan Poppy yang masih dendam pada Abay, sisanya yang tahu Abay sebagai biang kerok pun benci, hanya saja mereka sudah terlalu letih menerima siksa dan kerja keras yang tiada habisnya.
Sebelum mencapai gedung tempat para budak, Abay dan yang lainnya harus melewati lapangan depan istana. Di mana ada tiang setinggi 4 meter berdiri dengan sesosok tubuh tergantung, tubuh tanpa kepala dengan tangan terikat. Tetapi kepalanya si pemilik tubuh berada tepat di sebelah tubuhnya. Sama-sama tergantung.
Mendadak terdengar suara terompet bersahutan.
"Berhenti di sini!" teriak si mandor galak.
Saat itu rombongan budak di bagi dua. Berjalan di sebelah kiri dalam 2 barisan panjang ke belakang itu budak para pria dan yang kanan budak para wanita.
Abay berada di barisan depan. Di bagian depan budak wanita ada Santi dan Poppy.
Para budak yang berhenti berjalan, melihat ada ratusan manusia ular bermunculan yang lalu membentuk barisan dalam bentuk kotak.
Mandor manusia ular yang berjumlah sekitar 10 itu pun ikut bergabung, hingga para budak dapat saling bicara.
Tampak para manusia ular, pria dan wanita seperti bersiap untuk perang. Apa yang terjadi, Abay tak tahu.
"Abay, seharusnya kamu berada di tiang kayu itu. Lebih pantas buat dirimu!" ejek Poppy.
Abay terdiam.
__ADS_1
"Aku dapat kabar, katanya yang tergantung itu gadis manusia ular pengkhianat. Namanya Bwalika," ucap Santi.
"Apa kesiapan mereka ini berkaitan dengan Bwalika itu?" tanya Abay sambil menatap Santi.
"Huh, mana aku tahu! Kamu tanya saja pada Nyi Malini. Bukannya dia kekasihmu? Istri rahasia yang membuat dirimu kaya raya? Lalu kami menjadi korban nafsu busukmu itu?" umpat Santi.
"Iya, aku heran... ada manusia lebih memilih beristri jin ular," ejek Poppy.
"Abay!" teriak seseorang dari arah belakang.
Abay menengok. Dia mendapati seorang pria muda yang menatapnya benci.
"Kawan-kawan, kita hukum Abay. Dia yang telah membuat kita hidup di sini menjadi budak!"
Cukup sekali pemuda itu berbicara, apinya pun menyebar.
Abay yang kaget berusaha untuk lari. Tetapi dia tak bisa, karena kakinya terikat rantai.
Yang bisa dilakukan Abay hanyalah berteriak minta tolong. Tetapi pada siapa?
Suara tinju, bunyi tendangan dan teriakan kemarahan datang silih berganti. Abay menjerit kesakitan, dia menyesal dan dia pun tak bisa lagi meminta tolong.
Tak adanya mandor manusia ular membuat para budak yang lainnya berani menyiksa Abay. Kebanyakan korban yang dijadikan tumbal olehnya, tetapi ada juga yang ikut-ikutan.
"Berhenti, bubar semuanya!"
Para budak yang sedang asyik mengeroyok Abay, lalu berhenti dan berjalan kembali ke tempat mereka masing-masing.
Tubuh Abay yang tergeletak bersimbah darah itu tampak lemah. Tetapi itu hanya sesaat, sebentar lagi dia akan bisa bangun berdiri. Meski darah mengucur, walau tubuh hancur akan kembali utuh.
Siksa demi siksa akan diterima para budak, sampai jiwa mereka bisa terlepas dari kurungan istana ular Nyi Malini. Meski pun bebas, mereka tak akan kembali ke dunia, sebab badan kasar mereka telah tertimbun tanah. Kecuali Abay yang tubuhnya tertimbun para ular di rumahnya sendiri, dia masih punya kesempatan untuk hidup lagi di dunia, karena tubuhnya belum bersatu dengan tanah.
Benar saja, Abay tak lama bangun berdiri. Tetapi rasa sakit di tubuhnya bekas pukulan, tendangan dan injakan masih terasa.
"Kamu ikut!" Mandor ular yang kejam itu sudah datang. Dia menyuruh dua temannya untuk menyeret Abay pergi.
"Aku mau di bawa ke mana?" tanya Abay.
"Nanti kamu juga akan tahu!"
Abay terdiam.
Sebenarnya apa yang terjadi di kerajaan istana ular Nyi Malini, hingga terlihat mereka seperti bersiap untuk menerima kehadiran musuh.
__ADS_1
Semua karena Dina.