
Suara pintu terdobrak.
Suta terkejut karena melihat Abay sedang meronta-ronta. Seperti orang yang lehernya tercekik. Seperti orang yang meminta tolong agar tak tenggelam ke dalam air.
Samar-samar Suta melihat penampakan wanita dengan bagian kaki tubuh ular. Wanita ular itu tampak sedang mencekik Abay.
Mendadak tangan kiri Suta terangkat setinggi bahu, lalu tangan kirinya yang terjulur ke depan itu bergerak maju ke arah wanita ular.
"Hei, kenapa ini?" Suta menjerit kaget.
Nyi Malini menengok ke belakang. Matanya terbelalak, tangan Suta membawa sinar hijau keputihan yang dia takuti. Karena itu dia cepat melepaskan tangannya dari leher Abay, lalu melayang pergi. Seperti asap yang melayang naik ke langit.
"Aku titipkan jiwamu sesaat lagi Abay!" teriak Nyi Malini sebelum menghilang.
Abay terbebas. Namun sebelum dia bisa menarik napas lega, tangan Suta yang terlanjur terjulur ke depan itu mengenai wajahnya.
"Aduh!" teriak Abay kesakitan. Meski dia tak mengalami luka berdarah, tetapi tamparan Suta di pipinya cukup keras.
Suta yang kaget karena tangannya tak bisa dikendalikan, di detik terakhir mencoba mengibaskan tangannya menjauh dari wajah Abay. Eh, tahunya malah dia terkesan menampar Abay.
"Papa Abay, maaf aku tak sengaja!" Suta berdiri bengong.
"Pedas juga tamparanmu, ya. Tetapi tak masalah, setidaknya aku selamat!" Abay mengusap pipi kanannya yang terkena tangan Suta.
Suta tak menjawab.
"Karena kamu sudah pulang, sebaiknya Papa juga pergi!" Abay merasa tinggal di rumah Wati tidaklah aman.
Padahal kalau Abay mau berpikir, dia bisa pakai Suta sebagai tameng agar Nyi Malini tak berani mendekati dirinya. Karena sesaat Suta datang, Nyi Malini segera pergi.
Kalau perlu, Abay pinjam atau beli saja cincin yang ada di tangan Suta.
Tetapi Abay tak tahu dan Suta pun tak yakin, cincinnya cocok untuk Abay.
"Papa mau ke mana?" tanya Suta.
"Ke mana saja, asal ada tempat aman," jawab Abay.
Suta berkerut kening. Dia tak memahami jawaban Abay.
Abay berjalan sampai ke depan pintu. Di situlah dia berdiri sejenak dan menatap Suta marah. Karena dia mendengar pertanyaan Suta yang dianggapnya kurang ajar.
"Papa apa ikut pesugihan?"
"Kamu anak kecil tahu apa, heh?" bentak Abay.
"Maaf, Pa. Dua kali aku menemui kejadian yang nyaris sama. Pertama, walau Maya tak cerita padaku, tapi aku merasa dia selamat dari korban tumbal. Kedua, aku melihat Papa pergi dari rumah temanku, namanya Yuri dan itu belum lama ini, Papa pergi terburu-buru naik motor. Aku tahu itu Papa, karena aku ingat perban di kepala Papa," jelas Suta.
__ADS_1
"Kamu...." Abay melotot.
"Kalau Papa mau aku bisa saja pinjamkan cincin," ucap Suta.
Namun Abay tak mendengar ucapan terakhir Suta. Karena dia sudah pergi terlebih dahulu dengan membanting pintu.
Suta mengelus dadanya. Dia kaget, tetapi sekaligus sedih. Dengan reaksi Abay, dia pun mengerti tebakannya benar.
Jika Abay merasa tak melakukan pesugihan, Abay tak akan marah.
Tetapi Abay sudah pergi jauh. Dia berjalan cepat, hingga hampir saja menabrak seorang nenek.
"Hei, anak muda. Jalan itu pakai kaki dan mata harus sinkron, jangan grasak-grusuk, hampir saja nabrak Nini," ucap si nenek itu, yang dari wajahnya dia Nini Ai adanya.
"Maaf, Nini. Aku sedang banyak pikiran," jawab Abay yang meski pun dilanda emosi dalam hatinya. Dia juga tak akan berani melawan seorang tua. Buktinya dia sangat hormat pada mertuanya.
"Banyak pikiran apa merasa takut?"
"Nini darimana tahu, kalau aku sedang ketakutan?" tanya Abay kaget.
"Ikut Nini, kita bicara!" ajak Nini Ai.
Meski Abay merasa curiga, tetapi dia tanpa ragu mengikuti Nini Ai yang belum dia kenal namanya itu.
Nini Ai mengajak Abay terus berjalan menyusuri jalan yang becek akibat banyaknya genangan air.
Di samping mesjid ada sebuah warung yang masih tutup, karena pedagangnya baru buka malam hari. Abay pernah datang ke warung itu, warung nasi goreng.
Di dalam warung ada bangku panjang kayu. Nini Ai mengajak Abay duduk.
"Kamu Abay bukan?" tanya Nini Ai.
"Dari mana Nini bisa tahu namaku?" tanya Abay.
"Dari Dina," jawab Nini Ai santai.
"Dina, anakku?" Mata Abay terbelalak.
"Lebih tepatnya anak tirimu, apa betul?" tanya Nini Ai.
"Iya, betul."
"Kamu tahu siapa aku?" Nini Ai menatap Abay.
Abay mencoba memperhatikan Nini Ai dengan seksama. Sekilas wajah Nini Ai mempunyai kemiripan dengan Endah, terutama di bagian hidung dan mulutnya.
"Apa kamu pernah dengar nama Ai Rosmi?"
__ADS_1
"Hah! Apa Nini ini teman dari Almarhumah Ibuku? Yang dikabarkan menghilang sejak muda dulu, adik dari mertuaku Pak Entis?" kaget Abay tak terkira.
"Aku bukan menghilang, tetapi mengikuti suamiku." Nini Ai tersenyum.
"Apa Dina tahu, kalau Nini ini Neneknya?" tanya Abay.
"Tidak. Aku belum memberitahu dirinya. Nanti saja."
"Oh, begitu," ucap Abay.
"Abay, apa kamu mau tobat?" tanya Nini Ai mendadak.
Abay terdiam.
"Pada dasarnya kamu ini anak baik. Aku kenal kamu waktu kecil dulu, kamu termasuk anak yang sabar dan mengalah. Tetapi kenapa, kenapa saat kamu sudah besar malah salah langkah? Mengapa kamu harus mendekati yang jahat? Mengapa kamu lupa pada pelajar agama mu?" tanya Nini Ai agak gemas.
"Semua berawal dari cemburu, Ni. Aku kehilangan Endah yang aku cintai, karena harta. Lalu Endah dengan pria lain. Hingga aku gelap mata," ucap Abay mulai menitikkan air mata.
"Apa kamu menyesal?"
"Sangat, Ni!"
"Kamu mau bertobat?"
"Mau, Ni."
"Kalau begitu kamu harus berkorban lebih dulu, apa kamu sanggup?"
"Asal bukan berkorban dengan nyawa manusia lainnya saja lagi, Ni. Aku sudah tak sanggup lagi harus memilih korban manusia lain. Aku berdosa sangat besar."
"Tidak, kamu berkorban dirimu sendiri. Setelah selamat, kamu akan jalani hidup sulit dan susah lebih dulu, sebelum kembali normal."
"Aku." Abay meragu.
"Jika kamu benar mau bertobat, pulang ke rumahmu dan tunggu di sana. Suatu hari Dina akan mendatangi rumahmu itu!" Nini Ai lalu berdiri. "Dina yang nantinya akan membawamu keluar dari istana manusia ular itu, karena dia sayang padamu sebab dirimu sebenarnya Ayah yang baik."
Abay termenung. Hingga dia tak sadar, jika Nini Ai sudah menjauh dari sisinya.
"Baik, aku akan pulang Ni!" sahut Abay sambil mengangkat kepalanya. Tetapi Nini Ai tak ada.
Bergegas Abay keluar dari warung. Saat itu kebetulan ada seorang pemuda sedang naik motor.
"Dik, mau antar Bapak nggak? Nanti Bapak kasih uang 200 ribu, deh! Ke alamat ini...." Abay sebut alamat rumahnya.
"Lah, kebetulan itu Pak. Saya juga mau ke sana. Masalah uang nggak perlu, Pak. Asal doanya saja deh!" Pemuda itu tersenyum.
Abay tak ragu lagi, dia membonceng si pemuda untuk pulang dan menjalani pengorbanannya.
__ADS_1