
Di ruang tamu rumah Wati.
Abay duduk bersandar sofa. Kedua tangannya di atas kepala. Dia sedang tenggelam dalam alam pikirannya. Terasa kehilangan Dina membuatnya gelisah.
Meski di dalam surat Dina tertulis dua tahun lagi akan pulang, tetapi apa Dina mau bertemu Abay?
Itulah yang jadi pertanyaan di hati Abay saat ini. Dina telah bertemu Sasan, ayah kandungnya dan apa tak mungkin Dina melupakan dirinya?
Sayangnya Dina tak menulis jika dia ada maksud untuk menyelamatkan Abay saat kembali nanti.
Kalau hal itu tertulis, tentu Abay akan bersenang hati. Namun tindakan Dina sudah benar, kalau dia menulis itu bisa jadi akan membuat runyam hidup Abay, membuat Wati dan Ami curiga, buat apa Abay diselamatkan? Dari hal apa Abay perlu diselamatkan?
Pertanyaan yang akan membuat Abay semakin pusing kepala. Seperti saat ini, Wati telah datang ke ruang tamu, membawa segelas kopi untuk Abay.
"Kopi buatmu!" Wati duduk di kursi tunggal, di sebelah kiri Abay yang duduk di kursi panjang ruang tamu.
Abay sekedar melirik Wati. Lalu kembali tenggelam dalam lamunannya.
Wati menunggu beberapa jenak.
"Abay," panggil Wati setelah merasa cukup dirinya berdiam diri.
Abay menghela napas terlebih dahulu, baru dia turunkan tangannya dari atas kepala dan lepaskan punggungnya dari busa kursi. Kini dia duduk dalam posisi tegap, malah cenderung lebih dekat dengan meja. Mungkin supaya lebih mudah mengambil kopi.
"Minum kopinya dulu. Ibu mau bicara!" perintah Wati seolah tak boleh dibantah.
Abay menjawab dengan meraih gelas kopinya. Lalu diseruput sedikit saja, sekali seruputan.
"Sudah bisa menjawab kan?" ucap Wati
"Ibu mau tanya apa?" tanya Abay sambil membetulkan letak duduknya, agar bisa menatap wajah Wati lebih enak dan nyaman.
Wati tak melarang Abay menaikkan satu kakinya ke atas kursi.
"Apa benar kamu bukan Ayah kandung Dina?" Wati mulai bertanya.
"Apa Ibu perlu penjelasan itu? Bukannya sudah jelas apa yang ditulis Dina?" Abay balik bertanya dan dari warna suaranya, terasa kental betapa sedih hatinya.
Wati membuang napas berat, tanda betapa dia ingin membuang pula rasa kecewanya. Tetapi bagaimana mungkin dia mampu melepas rasa kecewa begitu saja, yang ada dia menelan rasa kecewa itu dan membiarkan mengendap di tubuhnya dalam waktu yang lama.
__ADS_1
Meski Wati tahu Dina bukan cucu kandungnya karena tak terlahir dari rahim Santi anaknya tunggalnya, yang sudah meninggal sekitar sepuluh tahun yang lalu, saat Dina belum lagi masuk sekolah. Tetapi dia tak menyangka, Dina bukan anak dari Abay.
Sungguh, tadinya Wati berharap Dina pergi dengan Abay kala membaca surat yang dia temukan di meja belajar Dina. Jika itu benar, dia akan meminta Abay kembalikan Dina ke rumah.
Bukan apa-apa, dibandingkan keberadaan Ami, di mata Wati lebih baik dia hidup berdua dengan Dina. Walau Ami termasuk bagian dari keluarga besarnya, masih hitungan cucu dan bernasib malang, sebab tak ada kabar hidup dan mati ibunya Poppy. Tetapi watak Ami yang membuat Wati geregetan.
Ya, di mata Wati yang berusia mendekati tepi lubang kubur, Ami anak yang cukup nakal dan liar.
"Kenapa kamu tak cerita pada Ibu dari awal?" tanya Wati menyesal karena dia tak diberitahu info berharga ini sejak semula.
"Aku ada rencana memberi tahu Dina. Tetapi nanti, saat usianya aku rasa cukup dewasa untuk tahu kabar tak mengenakan ini, Bu," jawab Abay berbohong, sebab dia tak pernah berpikir untuk memberikan Dina kabar yang sebenarnya.
Abay mau Dina selamanya memanggil dirinya papa. Dia mau seumur hidup disangka papa yang sebenar-benarnya oleh Dina. Dia tak peduli, sangat tak peduli jika nanti Dina menikah akan mendapatkan pernikahan yang tidak sah, karena dia yang akan bertindak sebagai wali-nya.
Ah, Abay sudah terlalu jauh terperosok dalam lubang dosa. Karena dalam agama yang dia anut sebelum dirinya bekerja sama dengan Nyi Malini, tak boleh seorang mengaku sebagai ayah dari anak yang tak memiliki hubungan darah sama sekali dengannya, menjadi wali nikah bagi anak yang diakuinya tersebut. Apalagi Dina termasuk anak yang rajin beribadah, kecuali jika sedang datang bulan.
Kembali pada Wati yang hanya bisa memberikan tanda isyarat kepala, jika dia bisa menerima jawaban Abay barusan.
Abay meminum lagi kopinya, karena dia merasa tenggorokannya kembali kering setelah bicara tak jujur pada Wati.
"Terus kamu kenal sama Ayah kandungnya Dina?" tanya Wati.
"Oh, jadi Dina itu anak yang lahir di luar nikah?" Wati terkejut.
"Tidak, Bu. Saat Dina terlahir, aku yang melantunkan azan di telinganya. Aku yang menjaga dirinya di kala malam dia terbangun," jawab Abay dan kala dia teringat kejadian waktu Dina terlahir, hatinya menangis. Sebab sebagian dari ceritanya itu ada kebohongan.
"Terus bagaimana dong?" tanya Wati.
"Bagaimana apa Bu?" Abay balik bertanya.
"Dina, bagaimana cara mengetahui dirinya apa baik-baik saja saat ini? Kan kamu tak pernah bertemu Ayah kandungnya?" Wati terlihat gelisah.
"Tapi yang aku bingung, bagiamana bisa Dina bertemu dengan Ayah kandungnya?" Abay malah termenung setelah dia selesai bertanya.
Wati ikut termenung.
Keduanya hampir bersamaan menghela napas panjang dan berat. Karena tak menemukan jawaban cara Dina dan Sasan bisa bertemu.
Karena bisa dibilang terlalu cepat pertemuan Dina dengan Sasan. Terus setelah itu Dina menghilang.
__ADS_1
"Oya, siapa nama Ayah kandung Dina?" tanya Wati.
"Sasan, Bu." Abay menjawab jujur.
"Sasan," ulang Wati dan itu tak hanya sekali. Sepertinya dia sengaja menyebut berkali-kali nama Sasan untuk bisa terukir di dalam hatinya.
"Bu, aku pamit pergi dulu. Ada hal yang harus aku urus." Abay berdiri, lalu tanpa mencium tangan Wati seperti biasanya, dia berjalan mengarah ke pintu.
Wati tak menegur ataupun mengucap hati-hati pada Abay. Karena dia pun sedang dalam keadaan sedih.
Abay pergi berhubungan dengan tumbal yang harus dia berikan pada Nyi Malini malam nanti. Keinginannya bertanya pada Dina perihal kejadian semalam pun batal, ingin bertanya pengalaman Ami bukan pilihan yang terbaik.
*
Ami baru saja melewati pagar rumah, eh sudah melihat Wati yang berdiri di teras rumah dalam keadaan memakai baju rapi.
"Oma mau ke mana?" tanya Ami sambil berjalan mendekat. Dia tak mengucap salam sama sekali. Sudah terlalu sering dia tak mengucap salam kala masuk rumah.
"Kamu cepat ganti seragam, antar Oma ke rumah Suta. Tahu kan rumahnya?" tanya Wati.
"Tahu, Oma. Tapi aku lapar, makan siang dulu ya?" tawar Ami.
"Oma lagi malas masak. Kita makan siang di luar saja dulu," jawab Wati.
Ami mengangguk, lalu dia masuk ke dalam rumah untuk mengganti seragam.
Wati menunggu Ami dengan sabar.
*
"Yang meninggal itu Ibuku, Ayah tiri dan Adik se-Ayah denganku," ucap Suta kala ditanya Wati siapa saja orang rumah yang meninggal dunia.
Saat itu Suta menerima kehadiran Wati dan Ami di ruang tamu rumah Adul. Sementara di jalanan gang rumah telah terpasang tenda biru bagi para pelayat yang sedang makan bersama selepas mengantar jenazah ke liang kubur. Saat ini sudah mendekati jam 2 siang.
Sebelum mendatangi rumah Suta, Wati dan Ami makan siang terlebih dahulu.
"Oh, terus siapa nama Ayah kandungmu?" tanya Wati spontan.
"Ibu bilang namanya Sasan," jawab Suta.
__ADS_1
Mata Wati berkilat mendengar Suta menyebut nama Sasan. Dia pun punya rencana untuk Suta.