
Ki Roto yang baru datang itu, lalu tanpa disuruh masuk oleh Endang, sudah berada di dalam duduk bersama dengan Ki Alam dan Tiyah, menyisakan yang lain di teras rumah Endang.
Endang tak diijinkan pergi ke dapur. Sementara Euis menggeser duduknya merapat ke Endang, yang terlihat tenang hanyalah Dina saja.
"Tadi kamu ingin tahu tentang mengapa kami, para pria dewasa di kampung ini bisa memiliki istri rahasia dari kaum jin, betul kan?" tanya Ki Roto.
Dina mengiyakan cepat
Roto dengan wajahnya yang mirip seperti mayat hidup, pucat dan terlihat kaku itu menarik napas lebih dahulu.
"Sebelum Ki Samiaji menutup matanya, dia perintahkan pada kami punya moyang untuk mengikat perjanjian dengan istri rahasianya, yang kalau di dunia itu menjadi makhluk beracun," jelas Ki Roto.
"Apakah ular?" tanya Dina.
"Tak hanya ular, tetapi serangga beracun. Yang perlu kamu ketahui, jin perempuan istri rahasia kami itu berasal dari kerajaan jin di mana mereka itu makhluk beracun. Baiklah, biar aku beritahu padamu, istriku itu jika dia berwujud binatang, maka akan menjadi laba-laba," jelas Ki Roto.
"Aku punya istri ulat bulu beracun," sahut Ki Alam.
"Mendiang suamiku dan suami Endang mempunyai istri rahasia yang jenisnya sama, kelabang," ucap Tiyah.
"Oh, lalu apa keuntungan mempunyai istri rahasia dari kalangan jin tersebut?" tanya Dina.
"Keuntungan yang didapat, selain harta benda yang tak seberapa, kami akan memiliki kekuatan merusak dan mampu membunuh melalui sihir racun. Hanya saja, sepertinya tak mempan padamu. Bahkan tak ada istri rahasia kami yang muncul. Sebenarnya siapa kamu?" tanya Ki Roto dengan tatapan mata tajam.
"Lalu mengapa kutukan atau larangan atau apapun itu, bisa hancur bila bertemu dengan seorang yang tak mati saat diberikan racun?" Dina tak pedulikan pertanyaan Ki Roto.
"Oh, tentang itu... menurut orang tua kami terdahulu, walau Ki Sangaji mempunyai dendam cinta pada Ki Samiaji, tetapi dia tak pernah menang. Karena dendamnya, dia gelap mata dan mengajak orang lain ikut menderita dengan caranya sendiri," ucap Tiyah.
"Meski di satu sisi lain, para perampok yaitu moyang kami berhenti dari pekerjaannya merampok karena tekanan Ki Sangaji. Namun harus berakhir dengan berbuat kejam, membunuh secara gelap," sambung Ki Alam.
"Tak hanya itu, pada dasarnya pria dewasa di kampung ini tak memilik kemampuan bertarung secara fisik. Tetapi tak ada yang berani macam-macam dengan kami, karena ilmu sihir yang kami kuasai," lanjut Tiyah.
"Bicara tentang Ki Samiaji, menurut keterangan dari para tetua terdahulu, ketika Ki Sangaji menutup mata, Ki Samiaji sempat datang menengok." Wajah Ki Roto yang kaku, tampak sedikit berubah jadi lembut.
"Saat itulah, Ki Sangaji yang seharusnya akan segera dikubur, mendadak membuka mata dan berkata...." Ki Roto melirik Tiyah.
__ADS_1
"Tolong selamatkan para penduduk kampung ini dari ikatan dendamku. Biarkan keturunan dirimu yang membebaskan mereka," ucap Tiyah mewakili Ki Roto.
"Bagaimana cara membebaskannya?" tanya Dina.
Sementara Endang dan Euis mendengar dengan wajah tertarik.
"Pada waktu itu, Ki Samiaji tak tahu apa caranya. Karena Ki Sangaji sama sekali tak berpesan bagaimana caranya. Setelah berucap seperti itu, selamanya dia tak bisa bicara lagi. Masalah lainnya, ternyata anak dari Ki Samiaji menghilang saat baru terlahir, meninggalkan Ibunya yang kehabisan darah. Itulah penuturan para tetua kami, berdasarkan kisah Ki Samiaji sendiri. Benar atau tidak, kami berpikir itu benar," jawab Tiyah.
"Tetapi, kami lalu mendapat bisikan. Kami bisa bebas menjadi manusia normal, tak perlu lagi menggunakan sihir yang mana akan timbul ketika masuknya orang asing ke kampung ini, atau karena kami memiliki musuh yaitu dengan cara...." Ki Alam melirik Ki Roto.
"Kalau kamu keturunan Ki Samiaji, kamu harus menerima tantangan kami sebagai anak buah Ki Sangaji. Jika kami sebagai murid Ki Sangaji kalah sekali lagi, itu berarti kami bisa bebas," ucap Ki Roto.
"Ternyata sebelum Ki Sangaji menutup matanya, dia ada menulis sebuah surat yang baru ditemukan beberapa puluh tahun lalu secara tak sengaja. Surat yang bertuliskan aksara kuno itu, akhirnya bisa kami ketahui artinya beberapa tahun belakangan," jelas Tiyah.
"Artinya itu singkatnya Ki Sangaji berhasrat untuk bertarung sekali lagi dengan Ki Samiaji, jika dia kalah lagi, maka dia akan melepaskan seluruh ilmu hitam yang dia miliki dan membebaskan murid-muridnya dari sumpah membunuh orang mana saja," tutur Ki Alam.
"Katakan, apa kamu keturunan Ki Samiaji?" Ki Roto menatap tajam Dina.
Dina tersenyum. Dia sendiri tak tahu apa dia itu keturunan Ki Samiaji atau bukan. Tetapi yang dia tahu, waktu itu pernah berbincang dengan seorang tua di alam mimpinya. Kejadian itu waktu dia pertama kali tidur di kamar Nini Ai.
"Anak baik."
Dina membuka matanya dan mendapati dirinya berada di tempat yang aneh. Sebuah lapangan rumput hijau, di mana dia terbangun di sebuah batu pipih. Di depannya berdiri seorang kakek tua.
"Anak, suatu hari nanti kamu harus bertarung demi kebebasan banyak orang. Setelah itu kamu mempunyai jalan nasib untuk selamatkan orang terdekatmu. Apa kamu bisa mengerti akan hal itu?"
"Maaf, Kakek siapa?" tanya Dina.
"Baiklah, itu saja yang bisa aku sampaikan. Selamat tinggal anak yang baik."
Pertemuan yang singkat. Dina melihat si kakek asing itu berjalan melayang di atas rumput. Pergi menghilang, setelahnya matanya terasa berat.
Ketika matanya kembali terbuka, terlihat senyum Nini Ai.
"Sudah bertemu kan? Bagus!" Nini Ai bicara begitu singkat dan setelahnya segera pergi.
__ADS_1
Tinggal Dina yang kebingungan seorang diri.
"Apa kamu sudah siap?" tanya Ki Roto membuyarkan lamunan Dina.
Dina tersentak sadar. Saat itulah dia menyaksikan di tangan Ki Roto sudah ada gelas air mineral.
Terlihat tak ada permainan kotor di dalam air yang dipegang Ki Roto. Tetapi Dina melihat dengan mata batinnya, air putih itu sebenarnya berwarna keruh kehitaman.
"Minumlah!" Ki Roto serahkan gelas ke tangan Dina.
"Dina jangan!" teriak Euis spontan.
Banyak mata menatap Euis dengan sorot tajam. Membuat Euis menundukkan kepalanya, takut.
Hanya Dina yang tak melihat Euis, karena saat ini dia sedang memandangi air di dalam gelas yang dia pegang. Tanpa orang lain tahu, Dina sedang membaca doa memohon perlindungan dan kekuatan gaib dari Dia yang Maha Kuasa.
Setelahnya Dina mengangkat kepalanya dan menatap Ki Roto.
"Airnya aku minum ya, Ki?" tanya Dina sopan.
"Ya, minumlah!" Ki Roto mengangguk.
Dina membaca bismillah terlebih dahulu, lalu dia membaca sholawat nabi dan setelahnya dengan perasaan hati ikhlas dia meminum air yang telah mengandung sihir racun tersebut.
Dalam tiga tegukan, Dina menelan habis air minum itu.
Semua orang menunggu reaksi dari air yang diminum Dina.
Mendadak Dina terjatuh. Tubuhnya sedikit menggeliat, lalu diam dan tertidur begitu tenang.
"Ah, kita masih harus terus membunuh orang!" keluh Ki Roto dengan wajah sedih.
"Oh, berarti ibadahku selama ini percuma saja. Karena nafsu membunuhku akan terus hadir." Ki Alam meneteskan air mata.
Semua orang terdiam.
__ADS_1