ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 63


__ADS_3

Ini hari ketiga Sanusi tak lagi semeja di ruang makan. Pria tua itu telah terlepas dari ikatan dunia, sudah tenang di dalam kuburnya. Beda dengan Wati, Ami dan Dina yang masih terikat pada segala macam romantika kehidupan yang masih terbentang di depan mata dan kaki mereka.


Saat ini, di meja makan tinggal Ami dan Dina. Wati sedang tak berselera makan siang, dia memilih mengistirahatkan mata, otak dan tubuhnya.


"Kak Ami kok makannya sedikit? Lagi diet, ya?" tanya Dina mencoba mengajak bicara Ami.


"Masakannya nggak enak. Sayur bayamnya kurang garam, sambal tempe campur terinya keasinan. Mending cari makan di luar, yuk!" bisik Ami.


Sejak kematian Sanusi, Dina dan Ami sepertinya telah berdamai. Belum ada konfrontasi di antara mereka berdua, mungkin belum waktunya.


"Makan apa Kak?" tanya Dina tertarik.


"Makan batu atau rumput, mau nggak?" Ami balik bertanya.


Dina melongo.


"Udah, ikut aja! Gue sih punya ide mau makan mie ayam ceker. Doyan, kan?" tanya Ami.


"Yang mana nih, Kak? Di warung mie ayam Ceker Pedas atau di Rasa Kampung?" Dina sebutkan dua nama tempat.


"Di Ceker Pedas aja. Di sebelahnya kan ada warung kopi Kopi's Jaman Now, tuh. Habis makan, kita nongkrong di sana. Siapa tahu ada cowok keren yang naksir kita. Setuju kan?"


"Makan mie ayam-nya aku setuju. Tapi...."


"Udah, nggak usah pakai tapi-tapian segala. Gue tahu, lo mau bilang kita masih kecil kan, kita itu pelajar dan tugasnya belajar menuntut ilmu. Basi, lo! Kita kan cuma mau berteman, bukan mau pacaran. Ayo, lah... sesekali kita have fun!" Ami menggeser kursi makan, lalu berdiri.


"Tapi, gimana sama makanan yang terlanjur kita sendok? Masa nggak di makan?" tanya Dina yang sepertinya sudah setuju dengan saran Ami.


"Buang aja ke plastik dan terus buang ke tong sampah depan. Biar Oma nggak lihat!"


"Ok, deh!" Dina setuju.


Setelah semuanya siap, Ami dan Dina pun berjalan keluar rumah. Dina membawa plastik hitam berisi makanan yang tak jadi mereka makan, menjadi sampah.


Ketika Dina sedang membuang sampah itu, Maya kebetulan berjalan keluar rumahnya.


"Kak Ami mau ke mana?" tanya Maya yang lebih dekat pada Ami.


"Mau makan mie ayam. Dina yang traktir!" Ami menunjuk ke Dina.

__ADS_1


Dina sedikit kaget, perasaan belum ada kesepakatan seperti yang Ami beritahukan pada Maya. Tetapi dia pun tak mau membantah. Beruntung dia bawa uang lebih, ada sekitar dua ratus ribu di kantongnya. Kalau pun habis, gampang tinggal minta pada Abay.


"Wah, mie ayam Ceker Pedas apa Rasa Kampung?" Maya membasahi bibirnya.


"Menurut lo yang enak yang mana?" tanya Ami.


"Soal rasa, Rasa Kampung enak. Ayamnya daging tebal dan sambalnya pedas. Ceker Pedas, menang di rasa cekernya aja. Tetapi kalau soal tempat, lebih enak di Ceker Pedas. Kan sebelahnya ada warung kopi yang jadi tempat tongkrongan cowok-cowok keren. Hihihi," ucap Maya yang mulai terjangkit keinginan mempunyai teman cowok banyak. Diam-diam dia sudah mulai terkena virus cinta monyet.


"Setuju! Ok, gue sama Dina jalan dulu, ya!" Ami terus saja menarik tangan Dina yang sudah berdiri di sampingnya itu.


Maya berdiri bengong di tempatnya. Padahal dia berharap diajak turut serta.


"Sudahlah, mungkin Kak Ami sama Dina mau berduaan aja. Lagian, aku juga senang kalau mereka berdamai dan rukun. Nggak harus ribut mulu kan?" ucap batin Maya.


Maya masih bergeming di tempatnya. Matanya melihat Ami dan Dina saling berbisik, karena jaraknya yang jauh telinganya pun tak dapat mendengar.


Hingga kepala Ami dan Dina menengok ke belakang, ke arah Maya.


"Kenapa masih jadi patung di situ. Mau ikut nggak?" teriak Dina.


Mata Maya pun bersinar gembira. Dia tertawa kecil, lalu berjalan mendekati Ami dan Dina.


Maya bengong, wajahnya terlihat lucu.


"Uang jajanku habis, Kak. Ya, udah... aku tak jadi ikut deh!" Maya menghela napas kecewa.


"Boleh ikut dan dibayarin, asal bisa jawab pertanyaan gue!" Ami mengedipkan mata ke Dina.


"Tebakan ya, Kak?" tanya Maya penuh semangat.


"Bisa dibilang begitu. Nih, dengar... gue punya empat gundu dan Dina punya lima gundu, berapa gundu lagi biar bisa jadi sepuluh?" tanya Ami.


"Gampang, satu!" jawab Maya penuh keyakinan dan percaya diri.


"Salah!" Ami menggeleng.


"Kok, salah Kak? Kan, empat tambah lima, terus ditambah satu jumlahnya pas sepuluh." Maya menjelaskan dengan gaya seorang guru.


"Memangnya gue suruh lo jumlahin semuanya? Nggak kan? Yang gue tanya, berapa gundu lagi biar bisa jadi sepuluh, nggak ada tuh berapa jumlah gundu gue digabung gundu Dina dan terus dibulatkan menjadi sepuluh. Ada nggak gue ngomong gitu?" tanya Ami memainkan kata-kata.

__ADS_1


Maya menggeleng.


"Harusnya jawab gue butuh enam gundu lagi dan Dina butuh lima gundu lagi. Jadi pas, empat tambah enam dan lima tambah lima, jadinya gue sama Dina bisa punya sepuluh gundu," jelas Ami.


Maya tak bisa berkata-kata.


"Kalau begitu, aku gagal ikut, dong?" tanya Maya yang merasa harapannya menghabiskan semangkuk mie ayam Ceker Pedas itu lenyap.


"Hihihi, karena kita berdua kasihan melihat muka lo, ayo ikut!" ajak Ami.


"Ah, Kak Ami memang anak yang baik, ramah tamah, rajin menabung dan berdoa. Terus lagi, cantiknya itu mendekati Nawang Wulan, si bidadari turun ke bumi," puji Maya.


"Lebai!" teriak Ami dan Dina berbarengan.


Ketiga anak remaja itu pun melangkah beriringan ke warung mie ayam Ceker Pedas yang berada di pinggir jalan raya. Tak jauh dari gang rumah mereka, sekitar sekilo perjalanan.


*


Di depan warung Kopi's Jaman Now itu ada dua meja dengan empat kursi yang dipasang. Sementara di dalam warung ada empat meja lain. Siang ini bisa dibilang tak terlalu ramai pengunjung yang biasanya di dominasi anak-anak sekolah yang tak mau buru-buru pulang ke rumah.


Di dalam warung terisi dua meja dengan jumlah pengunjung enam orang. Sementara di luar hanya ada satu meja terisi tiga orang. Dari tiga orang itu, salah satunya Adul yang menatap penuh harap pada tiga sosok gadis remaja yang baru datang dan memilih duduk di meja luar.


Tak hanya Adul sebenarnya, dua temannya juga sama. Menatap dengan sorot menikmati kecantikan dua orang dari tiga remaja yang baru saja duduk itu.


Ketiga remaja putri yang sedang memilih menu minum itu Ami, Dina dan Maya. Mereka telah selesai makan mie ayam ceker, kini saatnya menikmati segelas minuman. Di Kopi's Jaman Now tak hanya menjual kopi, juga menjual setidaknya tiga menu jus. Jus jeruk, mangga dan alpukat.


"Dul, cantik tuh dua orang," bisik salah satu teman Adul yang dari tulisan nama di seragam sekolahnya bernama Wendi tanpa nama panjang.


"Iya, gue kenal. Yang satu namanya Dina dan satunya Ami. Eh, mereka berdua incaran gue, ya!" cerocos Adul.


"Wah, nggak bisa begitu dong! Kita bertiga, setidaknya yang satu buat gue. Sisanya yang gemuk itu buat si Ipul aja. Setuju kan Pul?" Wendi menatap Ipul, pria yang tubuhnya paling besar di antara mereka.


"Gue sih suka yang tinggi, tuh!" bisik Ipul menatap Dina yang terlihat paling tinggi. "Tetapi kalau yang gemuk mau sama gue, boleh juga. Cukup manis anaknya."


"Nah, setuju. Gimana kalau kita bawa mereka ke basecamp dan terus...."


"Eh, maksud lo berdua itu apa?" tanya Adul tak mengerti.


Wendi dan Ipul saling menatap, lalu Wendi berbisik pada Adul.

__ADS_1


"Hah! Gue ogah!" teriak Adul sambil berdiri kaget.


__ADS_2