ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 95


__ADS_3

"Suara orang mengaji?" tanya Irul dengan wajah tenang.


"Iya, suaranya begitu tenang dan membuat hatiku bergetar. Apa kamu yang mengaji tadi?" Mata Abay menyorot ingin tahu.


"Oh, padahal aku sudah pelankan suaraku," desis Irul.


"Kamu ngomong apa?" tanya Abay yang melihat bibir Irul bergerak, tetapi tak ada suara terdengar.


"Apa Kang Abay mau belajar mengaji?" tanya balik Irul mendadak.


Abay terdiam beberapa saat. Dia larut dalam pikirannya, apa dia perlu belajar mengaji atau tidak.


Irul menunggu, dia bukan dalam posisi memaksa Abay untuk menerima atau menjawab pertanyaannya dalam waktu cepat. Karena terkadang, butuh waktu bagi seseorang untuk menjawab, padahal jawaban itu hanya butuh kata iya dan tidak.


Mudah, tetapi tidak mudah.


Abay lalu berdiri dari duduknya.


"Kang Abay mau pulang?" tanya Irul tetap tenang.


"Aku lupa, kalau aku ada janji dengan yang lain," ucap Abay.


"Baiklah. Jika berkenan, kapanpun malam Kang Abay mau mampir ke mari, boleh saja. Karena aku hanya ada waktu santai saat malam hari." Irul ikut berdiri.


Dengan diantar Irul, Abay menaiki motornya dan berlalu pergi dari rumah kontrakan Irul.


Hingga Abay akhirnya berhenti di sebuah bangunan ruko yang membuka tempat karaoke. Waktunya bersenang-senang.


*


Suta memilih naik ke lantai atas. Selain sudah jam sepuluh malam, juga dia bosan mendengar Ami dan Maya terus-menerus memuji dirinya. Dia tak butuh pujian, apalagi mengungkit kejadian tadi, di mana dia bisa dengan mudah menangkap ular hitam beracun itu. Sekarang ular itu telah dibawa pergi oleh tetangga RT sebelah yang juga anggota komunitas pencinta binatang reptil.


Namun yang membuat Suta kuatir, dia tak bisa menerima cinta Ami atau Maya. Kedua gadis itu secara langsung dan tidak langsung memperlihatkan gestur tubuh mencintainya.


Sementara di hati Suta hanya ada Dina, Dina dan Dina.

__ADS_1


Andai saja Suta tahu lebih awal, mungkin dia akan dengan mudah menerima cinta Maya atau gadis lainnya. Sedangkan Ami, bukan Suta tak ingin, sebagai pria normal dia tahu Ami nilainya lebih dari Maya.


Tetapi Suta kenal dengan sikap dan sifat Ami. Hal ini yang membuat Suta lebih memilih Maya daripada Ami.


Suta beberapa kali melihat wajah Ami ceria ketika mendapat uang jajan dari Abay, tetapi di sisi lain Ami akan marah-marah kalau Abay telat kasih uang.


Padahal Ami bukan anak Abay.


Belum lagi, kadang Ami dengan wajah manisnya merayu Wati, lalu berubah kelam ketika keinginannya tak dituruti Wati.


Betul Ami punya banyak teman pria. Dia seperti bunga di antara para kumbang. Tetapi dia layaknya bunga mawar yang berduri, indah hanya bisa dilihat dan ketika ada yang mau menyentuh, Ami tak segan berbicara kasar dan cenderung galak.


Anehnya, tak ada teman-teman prianya itu yang sakit hati dan masih melontarkan kata pujian dan mengeluarkan uang untuk belikan sekedar makanan dan minuman bagi Ami. Kecuali Suta yang malas memuji.


Suta telah masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu tinggal Maya dan Ami.


"Sudah malam, Kak. Aku pamit pulang dulu, ya. Mau tidur." Maya tersenyum lebar pada Ami.


"Oh, terus berharap lo bakal mimpi ketemu Suta kan? Ngaca lo!" ejek Ami kasar.


Maya yang terkesan cuek, malah membuat emosi Ami naik tinggi.


Bukan maksud Ami mengikuti Maya ke teras rumah guna menutup pintu, karena sudah waktunya rumah tertutup. Tetapi karena dia ingin melabrak Maya biar menjauh dari Suta.


"Eh, lo punya kuping kan?" tanya Ami pada Maya yang sedang memakai sendal.


"Sejak aku lahir, inderaku tercipta lengkap, Kak. Ada apa ya?" tanya Maya dengan nada bertahan. Sepertinya Maya sudah siap beradu mulut dengan Ami.


Bukan apa-apa, Maya telah lama kesal pada Ami. Sejak Ami mulai datang dan tinggal di rumah Wati, Maya sudah tak terlalu senang pada sikap Ami. Hanya saja waktu itu masih ada Dina, Maya tak ingin Dina ikut marah padanya karena membela Ami.


Walau Maya tahu, Dina kemungkinan tak akan membela Ami. Hanya saja, siapa yang tahu isi hati seseorang, kecuali orang itu sendiri. Dina dan Ami tinggal serumah dan waktu itu Maya berpikir kalau Dina dan Ami mempunyai hubungan sepupu.


Namun, kini Maya sudah tahu kalau Dina dan Ami tak punya ikatan darah dan keluarga. Dia sudah besar, jadi sudah tahu dan bisa mencerna kabar dan berita. Dina yang beritahu padannya, kalau tak salah sehari-tiga hari sebelum Dina pergi menghilang. Entahlah, Maya sudah lupa kejadian itu.


Tetapi fakta sudah ada. Maya tak perlu takut pada Ami. Hanya saja dia masih memandang Wati dan Suta. Ya, dia tak mau namanya jelek di mata Suta.

__ADS_1


Namun pada akhirnya, kekesalan yang Maya pendam selama ini akan meledak juga.


"Kalau lo punya kuping, lo dengar dong apa yang gue bilang tadi. Ngaca lo!" umpat Ami.


"Setiap hari aku ngaca di cermin. Tetapi yang aku bingung, sebenarnya Kak Ami itu ngomong apa? Apa dulu susah ya belajar ngomongnya? Ngaca lo itu apa artinya?" tanya Maya dengan nada sedikit berat.


"Eh, berani ngelawan lo?" Ami tampak kesal.


"Bukan ngelawan, tapi bertanya!" bantah Maya dan dia dalam posisi bertahan.


"Ok, gue jelasin! Lo bisa bedain kan, cantik mana lo sama gue?" tanya Ami melotot.


"Oh, masalah cantik ya? Kalau kata Mamaku, aku ini anak paling cantik di dunia. Nggak salah kan?" Maya balik bertanya.


"Ya, nggak salah. Tapi...."


"Tahan dulu, Kak!" Maya menyuruh Ami berhenti bicara.


Ami lantas berhenti bicara.


"Nah, aku akui aku tak punya kawanan badut yang suka muji-muji Kak Ami. Tetapi aku punya seorang teman pria yang tak memandang aku cantik atau tidak, dia selalu mau menjadi teman bicaraku. Meski saat ini aku sudah perlihatkan rasa cintaku padanya dan belum ada respon, hanya saja aku yakin dia akan membalas cintaku. Tinggal nunggu waktu," ucap Maya percaya diri.


Ami sebenarnya marah besar ketika Maya sebut teman-teman prianya itu badut. Namun dia menunggu sampai Maya teruskan ucapannya. Eh, tahunya Maya menyinggung masalah Suta. Hal ini membuat dia semakin marah besar.


Hingga mendadak Ami mulai gerakan tangannya ke depan, mengancam Maya.


*


Suta tak bisa tidur. Entah mengapa hati dan pikirannya resah teringat dan memikirkan Maya.


Suta lantas bangun duduk dan menatap ke arah jam dinding. Masih pukul sepuluh malam lewat sepuluh menit. Tetapi anehnya, dia melihat jarum jam itu berubah wujud menjadi ular. Ular yang sama seperti yang dia tangkap.


"Oh, apa ular itu bermasalah?" desis Suta yang tak sengaja menatap ke arah meja belajarnya.


Sebuah cincin mungil dengan mata batu berwarna hijau keputihan berada di atas meja belajarnya.

__ADS_1


Tahu-tahu, Suta menyambar cincin itu dan berjalan turun ke lantai bawah. Dia mau memberikan cincin ke Maya.


__ADS_2