ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 68


__ADS_3

Igor memijit-mijit pelipisnya. Dia sedang sibuk berpikir, apa menerima jalan yang dibisikkan Abay atau menolak.


"Apa betul tak akan ada tumbal, Kang?" tanya Igor.


"Aku sudah cukup lama ikut. Selama itu pula, aku tak pernah memberikan tumbal." Abay tersenyum.


"Berarti Kang Abay orang kaya, dong?" Igor mengawasi Abay yang bergaya biasa-biasa saja.


Abay menjawab dengan berdiri, lalu berjalan ke arah motornya.


Igor tak mengerti apa maksud perbuatan Abay, tetapi matanya tak pernah lari dari tubuh Abay.


Abay memasukan kunci ke lubang kunci di bodi motor, lalu diputar dan jok pun bisa dibuka. Tangannya seperti mengambil sesuatu. Begitu dia menarik sebuah tas kecil, jok kembali ditutup.


Tak sampai sepuluh langkah, Abay sudah duduk lagi berdua dengan Igor. Tas kecil pun diberikan ke tangan Igor.


"Kamu boleh intip isinya apa!" perintah Abay.


Igor tak ragu, dia tarik resleting tas terbuka. Begitu dia bisa melihat isi dalam tas, dia terbelalak. Ada lima gepok uang dan beberapa kalung emas di dalamnya.


"Di dalam tas itu ada uang lima puluh juta, lalu perhiasan emas kalau dijual mungkin berharga sama. Baru semalam aku dapat. Kamu bawa saja, kalau kamu mau!" Abay tertawa.


"Apa ada syaratnya Kang?" tanya Igor curiga.


"Syarat apa? Aku rela kasih kamu, anggap saja sebagai hadiah teman baru." Abay telah berucap, lalu dia pun meneguk kopi dan memakan sate-nya.


Igor masih termenung, tak menduga malam ini bisa mendapat rejeki nomplok.


"Makan dulu sate-nya, kalau sudah terlalu dingin tak akan enak!" Abay mencolek lengan Igor.


"Eh, iya!" Igor pun mulai menghabiskan sate-nya.


Beberapa saat, mulut mereka berdua sibuk mengunyah sate. Abay habiskan sate-nya terlebih dahulu. Lalu meminum habis kopi-nya dan berdiri.


"Kalau begitu, aku pulang duluan. Sate dan kopi kamu yang bayar. Kalau ada jodoh, kita bertemu lagi!"


Igor kaget mendengar Abay mau pergi. Wajahnya sedikit berubah.


"Kang tunggu!" Igor mencoba menahan Abay.


"Mau apalagi? Kalau kamu mau tambahan hadiah uang, aku tak bawa lagi. Tapi...."


"Kang Abay salah duga." Igor cepat memotong ucapan Abay. "Kalau berkenan, mau kan Kang Abay duduk. Tak enak rasanya bicara seperti ini, yang satu duduk lainnya berdiri."

__ADS_1


Serupa anak kecil yang penurut pada ayahnya, Abay pun duduk lagi.


Igor tersenyum, tetapi dia belum mau keluarkan suara.


Abay balas tersenyum dan dia menunggu Igor utarakan kemauannya.


"Aku setuju bertemu dengan Ki Jabaya, Kang. Kapan aku bisa bertemu?" tanya Igor.


"Besok pagi, jam sepuluh."


"Boleh minta alamatnya?" Igor bertanya dengan nada penuh harap.


Abay keluarkan selembar kertas yang sudah bertuliskan alamat rumah Ki Jabaya, padahal rumah itu rumahnya sendiri dan Ki Jabaya itu ya dirinya juga.


Igor membaca alamat rumah, dia tersenyum dan mengangguk.


"Aku tahu alamat ini. Kebetulan pernah ke kuburan di dekat rumah Ki Jabaya ini, mengantar jenazah teman kuliah dulu."


"Bagus, kalau kamu sudah tahu. Aku pamit ya, semoga kamu berhasil dan bisa membayar hutangmu."


"Sebentar Kang, aku ingin menegaskan dan memastikan saja, apa betul tak ada tumbal?"


"Kamu jangan ragu, percaya padaku!" Abay pun kuatkan hati Igor dengan bercerita tentang pengalaman dirinya. Tentunya bukan cerita yang jujur.


***


Sebulan berlalu cepat.


Selama waktu-waktu itu, Abay tak pernah mendatangi rumah Wati. Tetapi dia tak lupa untuk mengirimkan uang pada Wati untuk uang jajan Dina dan Ami. Meski sebenarnya Wati sanggup memberikan bekal jajan sekolah kedua gadis remaja itu, dia sudah mulai berjualan nasi kuning yang selalu habis dibeli, malah bertambah dengan menjual pecel lontong.


Abay beralasan berada di luar kota dan itu benar. Dia pergi ke mana dia suka, karena sedang menjalankan tugas dari Nyi Malini, menjadi marketing yang menawarkan jasa cepat kaya secara instan.


Walau Abay tak mendapat pasien satu per hari selama tiga puluh hari, tetapi dia berhasil menjaring korbannya sebanyak sembilan orang lagi.


Karena itu, hari ini Abay telah berada di rumahnya lagi yang tak jauh dari kuburan.


Sabtu pagi yang cerah.


Abay bersiap pergi ke rumah Wati untuk melepas rindu pada Dina. Kebetulan pula ini tanggal merah.


Setelah menutup pagar rumah, tanpa dikunci. Abay pun naik ke motornya. Dia lebih senang naik motor, karena belum terlalu ahli naik mobil. Terus dia berpendapat lebih enak naik motor, bisa selap-selip di jalan raya dan mencari jalan tikus lebih cepat dibanding naik mobil.


Cukup sekitar lima belas menit, Abay sudah bisa sampai ke rumah Wati. Hanya saja perjalanannya sedikit tertunda, karena melihat Jajang si tukang ketupat yang pernah dia tolong bertemu Nyi Malini.

__ADS_1


Jajang tampak masih berjualan ketupat sayur dengan gerobaknya di pinggir jalan yang sama. Tetapi ada yang berbeda. Tak hanya gerobak yang lebih besar, namun juga terlihat lebih komplit menunya. Terbaca dia menjual ketupat opor ayam dan lainnya.


Selain gerobak dan menu tambahan, Jajang juga terkesan lebih rapi dan necis. Dia berjualan dengan kemeja lengan panjang, lalu celana bahan hitam licin mengkilap, tak ketinggalan sepasang sepatu pantofel. Lagaknya seperti orang mau kerja saja.


"Wah, Kang Jajang sudah jadi orang kaya, nih!" Abay datang-datang sudah memuji Jajang.


Jajang yang sedang duduk menunggu pelanggan datang, menengok ke arah kiri di mana dia melihat Abay masih duduk di atas motornya.


"Hahaha, turun sini Kang Abay!" Jajang lalu menepuk kursi kosong di sebelahnya.


Abay lalu turun dari motor dan mendatangi Jajang.


"Mau makan ketupat?" tawar Jajang.


"Nanti saja Kang. Aku datang cuma mau melihat, sudah lama tak bertemu Kang Jajang. Eh, tahunya jadi bos."


"Hahaha, betul... aku sudah jadi bos. Cuma ya terpaksa masih jualan sendiri, belum cari karyawan." Jajang tersenyum.


"Padahal kan Kang Jajang bisa saja di rumah tanpa harus dagang lagi," ucap Abay.


"Kang Abay benar. Tapi kalau aku tak dagang, istriku akan curiga darimana datangnya uang." Jajang tersenyum.


"Kang Jajang sudah nikah?" tanya Abay kaget, karena dia tahu Jajang itu duda.


"Iya, ada yang pergi dan ada yang datang," jawab Jajang.


"Apa artinya Kang?" Abay sangat ingin tahu.


"Anakku meninggal dunia. Tetapi aku dapat dua orang istri. Masih pada muda dan montok. Salah satunya sedang mengandung anakku." Jajang tertawa, dia seperti tak sedih kehilangan anak gadisnya.


"Aku tak tahu, apa harus ucap duka lebih dulu atau ucap selamat buat Kang Jajang?" Abay mengangkat pundaknya. Tapi dalam hati dia berkata. "Lihat saja nanti, kalau istri dan anakmu yang masih dalam kandungan nanti diminta Nyi Malini. Kalau kamu tak jadi stress, itu hebat!"


"Orang pasti mati. Bersedih sekian lama, tak akan bisa bikin yang mati kembali hidup. Waktu juga terus berjalan, aku butuh teman hidup karena uangku sangat banyak. Jadi ya, aku menikah lagi saja. Baru dua sih, rencana mau tujuh!" Begitu selesai bicara, Jajang tertawa terbahak-bahak.


"Waduh, setiap malam ganti, dong! Terus waktu buat si istri rahasia gimana?" tanya Abay.


"Mudah saja, aku sudah beli rumah kecil untuk dia si cantik Umba. Kalau dia mau, dia akan panggil aku kapan saja. Tak harus malam hari, kalau pun harus pergi malam kan aku punya mulut. Istriku tak bisa melarang, kalau sampai mereka melarang... paling aku tendang keluar rumah." Jajang tertawa.


Abay juga ikut tertawa.


"Kang Abay makan, ya!" seru Jajang.


"Tak perlu Kang, aku mau ke rumah mertuaku. Mau lihat anak!" Abay lalu berdiri dan dia tak menunggu ditahan Jajang.

__ADS_1


Perjalanan Abay berlanjut. Hingga mendekati rumah Wati, dia kaget mendengar teriakan Ami.


__ADS_2