ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 41


__ADS_3

Mail si pedagang kopi itu mendatangi Solihin dan Sasan.


"Ada apa Bang Sol?" tanya Mail.


"Bang Mail cerita deh ke Sasan, masa lalu Bang Mail itu kayak apa!" pinta Solihin.


"Cerita apa ya Bang?" tanya Mail lagi dan dia sama sekali tak duduk.


"Tentang istri sama anakmu," kata Solihin menjawab.


"Kisah yang buruk, tak perlu diceritakan lagi Bang." Mail tersenyum getir.


"Harus! Biar Sasan tak jadi mayat hidup. Mati segan hidup tak mau." Solihin melirik ke Sasan.


Sasan sejak tadi diam saja.


"Kejadiannya itu dua puluh tahun yang lalu. Istri pertama dan anak gadisku kabur. Semua bermula dari aku yang jatuh miskin, usahaku gagal total. Bangkrut sebangkrut-bangkrutnya. Aku pun berhutang pada temanku untuk bisa sekedar makan dan coba usaha kecil-kecilan dari awal lagi." Mail berhenti sejenak.


"Temanku itu memang memberi uang, tetapi saat aku pulang ke rumah. Istri dan anakku sudah tak ada. Si kecil menghilang, pelita hatiku tak tampak lagi senyumnya. Aku seperti orang gila mencari mereka berdua. Ternyata...." Mail menghapus setetes air mata di sudut mata kirinya.


"Istri dan anak gadisku itu yang baru berusia tiga tahun, ada di rumah temanku itu. Mereka telah berselingkuh selama setahun terakhir, bahkan usahaku yang gagal total itu hasil dari rencana mereka berdua. Tak perlu kujelaskan padamu apa rencana busuk mereka itu." Mail mengakhiri ceritanya, karena ada yang membeli kopi.


Sasan termenung, walau cerita masa lalu Mail tak sama dengannya. Namun secara garis besar mempunyai kemiripan, istri dan anak sama-sama diambil teman yang memberi hutang.


"Mail itu dulu membuka toko menjadi agen untuk warung-warung rumahan maupun warung jalanan. Termasuk laris, karena barang yang dijual murah harganya. Ternyata dia harus bangkrut, karena ada yang membuat rumor dirinya mempunyai pesugihan. Orang percaya, karena yang bicara itu ternyata istrinya sendiri. Istrinya berbuat itu ide dari selingkuhnya, temannya Mail sendiri," bisik Solihin.


Sasan mendadak teringat Abay, karena kata pesugihan yang diucap Solihin.


"Mail serupa dirimu, sempat menjadi orang linglung. Tetapi dia tak seperti dirimu, hanya sebentar saja jatuh dalam kesedihan. Setelah itu dia berjuang dari bawah lagi, cuma tak mudah. Karena orang banyak terlanjur tahu dia mempunyai pesugihan. Hingga dia harus pindah ke sini, menjalankan usaha apa saja yang dia bisa. Sayang nasibnya buruk, aku juga bukan orang kaya. Baru tiga tahun terakhir ini aku bisa bantu dia kasih sedikit modal buat jualan kopi," tutur Solihin.


"Bang Solihin sama Bang Mail punya hubungan?" tanya Sasan.


"Iya, istri keduanya itu terhitung sepupu jauhku. Kini mereka bahagia dengan satu jagoan kecil di rumah. Yang aku mau bilang padamu...." Solihin menatap Sasan tajam.


"Katakan saja Bang!" Sasan mulai terbuka hatinya.

__ADS_1


"Kamu harus berhenti melamun terus menerus, San. Apa kamu tak malu pada dirimu sendiri? Kamu masih berusia muda, apa tak ingin mengubah nasib? Apa kamu puas sekedar tidur di rumah kosong, lalu pergi ke sana bicara sama si A, pergi ke sini ngobrol sama si B? Pria dewasa itu akan diakui orang lain, ketika dia mau keluarkan keringat minimal demi menafkahi hidupnya sendiri, lalu meningkat untuk menjadi tulang punggung anak dan istrinya. Oya, tentunya keringat yang keluar itu menghasilkan uang halal. Ya, itu sih pendapatku yang bodoh!" jelas Solihin panjang dan lebar.


Sasan terdiam. Apa yang dikatakan Solihin tentang luntang-lantung dirinya itu benar. Setelah dia tak sanggup lagi membayar kost-nya. Ada rumah kosong yang ditinggal pemiliknya, rumah itu sudah termasuk bobrok dan hancur. Rumah sengketa dari para ahli warisnya.


Salah seorang pewarisnya kenal dengan Sasan, dia menyuruh Sasan tinggal di rumah itu dan cukup membayar rekening listrik dan air saja. Bisa dibilang, kehadiran Sasan di rumah itu membawa aura hidup yang setidaknya mencegah rumah lebih hancur lagi.


Sayangnya, Sasan hanya mencari uang secukupnya. Dia sudah cukup puas, kalau sudah punya uang untuk membayar rekening air dan listrik yang kecil nilainya, karena dia berhemat benar-benar.


Rumah kosong itu berada di RW yang sama dengan tempat tinggal Solihin.


"Kamu sudah dengar belum kabar mengenai rumah yang kamu tempati sekarang?" tanya Solihin.


"Belum, Bang. Ada kabar apa ya?" tanya balik Sasan.


"Tiga ahli waris itu akhirnya sepakat, hasil jual rumah dibagi rata untuk tiga orang. Tak ada lagi yang mengklaim, kalau hak-nya harus lebih besar dari yang lain. Jadi kamu harus segera pindah."


"Bang Solihin tahu darimana kabar itu?" Wajah Sasan sedikit berubah.


"Dari Nanang. Dia malah meminta aku yang bicara padamu, dua hari lagi kamu harus keluar dari rumahnya."


"Oh, begitu." Sasan terus saja berdiri.


"Walau barang pribadiku tak banyak, aku harus beres-beres Bang. Apalagi aku ada rendam cucian," jawab Sasan.


"Duduk dulu, aku masih mau bicara!" Solihin menyuruh Sasan duduk.


Sasan menghormati Solihin yang usianya lima belas tahun lebih tua darinya itu. Karena rasa hormatnya itulah, dia mau menuruti permintaan Solihin.


"Begini, San. Aku punya teman, seorang bos ikan. Aku dapat tawaran kerja membantu dirinya. Tetapi aku tak sanggup untuk berpisah sama istri dan kelima anakku yang kebanyakan masih kecil-kecil itu. Karena itu, aku tawarkan padamu. Apa kamu mau?"


Sasan berpikir sejenak.


"Kerjamu gampang, hanya memberi makan ikan di kolam yang dia buat. Masalah kesehatan ikan, akan ada dokternya sendiri. Selain kamu dapat gaji, kamu juga akan dapat tempat untuk tidur dan makan. Tapi ya, kamu harus pindah desa."


"Aku mau deh, Bang!" sahut Sasan.

__ADS_1


"Nah, bagus itu. Dua hari lagi kita pergi!" Solihin tertawa, lalu berikan selembar uang lima puluh ribu ke tangan Sasan.


"Buat apa ini Bang?"


"Kamu kan butuh makan. Biar nggak sakit sebelum berangkat ke sana. Kalau kurang, bilang aku!"


"Bang Solihin banyak uang?"


"Banyak sih tidak, tapi temanku itu sudah kasih aku uang untuk modal ongkos ke sana bersamamu. Jadi uang ini bisa dikata, pemberian dia."


Akhirnya Sasan mau menerima dan dia pamit untuk cuci bajunya. Mumpung hari belum terlalu siang.


*


Malam telah tiba.


Poppy yang tertidur sendirian di kamar tampak gelisah. Dia tak bisa tidur. Hawa kamar terasa panas dan pengap. Keringatnya pun mulai membasahi baju dan membuat tubuhnya lengket.


Padahal mesin AC telah dinyalakan, hanya saja Poppy tetap merasa suhu kamar panas dan membuatnya sulit bernapas.


"Aneh banget malam ini?" keluh Poppy yang akhirnya duduk di tepi ranjang.


"Kalau aja ada Kang Abay... eh, tidak! Jangan sampai aku bertemu Abay lagi yang udah berubah jadi setan, mau merobek perutku!"


Poppy teringat kejadian di mana Abay pulang dan bertingkah aneh.


Mendadak telinga Poppy mendengar suara berisik di luar kamar.


"Suara apa itu? Apa Kang Abay pulang?" lirih Poppy.


Rasa penasaran membuat Poppy berdiri dan menghampiri pintu.


"Kang Abay, ya?" tanya Poppy.


Tak ada jawaban.

__ADS_1


Poppy menunggu. Ketika dia tak lagi mendengar suara berisik, dia pun menarik napas lega.


Hanya saja terdengar suara mendesis tinggi yang membuat pucat wajah Poppy.


__ADS_2