
Dengan keahlian bicaranya, Abay bisa terlepas dari pertanyaan bernada curiga Wati akan Poppy.
"Mati atau hidupnya Poppy, aku mana tahu Bu. Hanya saja aku dengar dia tak pernah beri kabar, jika itu yang terjadi... apa tak bisa disebut mati. Mungkin dalam hati Ami, anak itu beranggapan Ibunya sudah mati!"
"Ya, mungkin apa yang kamu bilang itu benar. Poppy sudah mati. Sekarang Ami ada di bawah tanggungan Ibu, oh Dina juga. Sayang, Ibu sudah tua. Jadi terbatas kemampuannya. Bapak juga tak meninggalkan apa-apa, selama ini praktis bisa dibilang, kami hidup hanya dari uang yang kamu kirim. Besok, Ibu ada niat untuk berjualan makanan pagi saja di depan rumah. Tetapi tunggu waktu yang tepat."
"Aku tetap akan kirim uang kok, Bu. Aku pikir biar Dina di sini saja, walau ada keinginan untuk membawanya tinggal bersamaku. Masalah Ibu mau jualan atau tidak, aku sih terserah Ibu saja. Berjualan aku dukung, tidak pun tak mengapa."
"Jualan saja, Ibu tak mau ada mulut tetangga usil bilang, 'Lihat tuh Ibu Wati, bisanya cuma menadahkan tangan meminta pada Bapaknya Dina saja, coba saja Dina tak ada bersamanya... bisa kelaparan tuh!'. Berat menjaga mulut dan hati tetangga itu tetap berprasangka baik pada kita," ucap Wati dengan wajah sedih.
Abay ingin membantah, tetapi dia setelah berpikir cepat, dia rasa tak perlulah ada perdebatan panjang. Kebetulan Wati juga berdiri dari duduknya.
"Sudah banyak pelayat yang datang, Ibu harus temui mereka. Nanti saat keadaan sudah tenang, kita bicara lagi."
Abay mengiyakan.
Waktu pun berjalan semakin larut.
*
Tengah malam telah datang, namun bulan tak tampak hadir karena awan hitam nan tebal muncul. Petir menjadi kawan bersama angin berhembus kencang.
Walhasil tak ada orang satupun di jalan gang rumah Reni dan Randi. Biasanya, ada saja para bapak atau anak muda yang nongkrong. Sekedar berkumpul membicarakan topik apa saja yang lagi hot, viral maupun pantas untuk dibicarakan.
Terkadang tak luput dari masalah dunia cewek, ini yang digemari para anak muda. Walau tak jarang, suka juga bermain kartu remi maupun domino, main catur juga ada dan karambol . Serta kalau pun cuaca sedang bagus, main tepok kok alias bulutangkis tak ketinggalan. Intinya ada saja aktifitas yang dikerjakan.
Tetapi berhubung sejak jam sepuluh malam cuaca sudah tak bersahabat, suasana sepi dan sunyi pun tercipta.
Di kamar yang berbau keringat dan juga asap beraroma kopi dari vape, Randi tampak duduk bersandar ranjang dengan raut muka gelisah.
Randi tak merokok, tetapi dia mengikuti trend anak muda yaitu menghisap vape yang diklaim sebagai pengganti rokok. Dunia sudah berubah jauh lebih maju.
"Perasaan gue kok nggak enak, ya?" tanya Randi pada dirinya sendiri, selepas dia hembuskan asap tebal dan wangi dari mulutnya.
"Mending nonton kartun aja kali, ya? Eh, apa dengar musik?" Randi menimbang apa yang harus dia lakukan untuk menenangkan hatinya.
__ADS_1
"Oh, gue tahu... apa nelepon Vivi aja ya? Janjian, besok siang pergi ke mall, nonton dan makan. Sekalian gue tembak dia, mau nggak jadi my girlfriend?" Randi berdiri untuk mengambil ponselnya yang sedang diisi daya baterai.
Namun baru saja kaki Randi berdiri tegak, tangannya terangkat memegangi leher belakangnya, bulu kuduknya berdiri.
"Ih, malam apa sih ini? Kok, gue ngerasa takut, ya?" Randi spontan menengok ke belakang, ke arah pintu.
Deg!
Jantung Randi serasa berhenti sejenak, hatinya bersorak tak percaya dan jari telunjuk serta jempol kirinya terangkat ke arah mata, mengucek matanya.
"Vivi," panggil Randi tak percaya.
Baru saja memikirkan Vivi, eh tahunya gadis itu sudah hadir.
Vivi si gadis hitam manis itu berdiri dengan mulut tersenyum lebar. Bukan gadis yang cantik, tetapi menarik dan manis ketika tersenyum memperlihatkan lubang di pipi kirinya. Rambutnya yang panjang sebahu berkibar ke belakang, seakan ada angin yang meniup.
Padahal kalau Randi cermat, mana mungkin ada angin di dalam kamarnya yang bisa membuat rambut Vivi berkibar. Selain itu, kenapa bisa ada Vivi di dalam kamarnya.
Hanya saja pemuda itu telah terperdaya, terkena hipnotis perasaannya sendiri yang sedang memikirkan Vivi.
"Siapa lo? Lo bukan Vivi!" Mata Randi melihat ke bawah, ke arah kaki Vivi yang ternyata berupa tubuh ular dengan ujung lancip.
"Hihihi, aku Vivi!"
"Vivi manusia, bukan ular!" seru Randi.
Ketika kata ular disebut Randi, rupa Vivi yang dilihatnya pun berganti menjadi bentuk ular yang utuh. Ular besar bersisik hitam legam dan terlihat kuat dengan tubuhnya yang besar. Ketika mulut ular itu terbuka, Randi tak bisa lagi melihat cahaya dan yang ada hanya kegelapan.
Jika ada yang melihat, taruh kata Reni mendadak hadir di dalam kamar, mungkin Reni akan menjerit tinggi dan jatuh pingsan. Sebab melihat Randi berdiri dengan kepala berada di dalam mulut ular.
Ya, ular hitam besar yang datang ke kamar Randi itu sedang berusaha menelan kepala Randi.
Ketika itulah tubuh Randi menggelepar dengan tangan terangkat memegangi lehernya. Saat semua berakhir, orang-orang akan melihat bekas cekikan di lehernya, seolah pemuda itu mengakhiri hidupnya sendiri, padahal tidak. Seperti biasanya, kematian Randi yang asli akan terjadi di dalam kubur, dia akan mati dalam keadaan terkubur hidup-hidup.
Kecuali Reni bertemu seseorang yang tahu keadaan sebenarnya Randi dan mau percaya. Tetapi itu sulit, karena untuk menghidupkan Randi lagi harus mengorbankan Abay. Hanya saja untuk membuat mati Abay juga bukan hal yang mudah.
__ADS_1
Satu lagi korban tumbal Abay untuk Nyi Malini telah diberikan. Satu lagi seorang ibu kehilangan anaknya.
Selain itu, Reni pun akan kehilangan Abay yang tak akan pernah datang lagi menemui dirinya.
*
Pagi telah tiba.
Saat jenazah Sanusi siap disholatkan, Abay mendadak menghilang.
"Mana Papamu?" tanya Wati pada Dina.
"Tak tahu Oma. Tadi sih aku lihat Papa masih duduk-duduk bersama Bapak-bapak. Aku juga sudah telepon Papa, tapi tak bisa dihubungi," jelas Dina.
Meski Abay tak ada, proses sholat jenazah Sanusi pun tetap harus berjalan. Baru ketika jenazah dimasukan ke dalam mobil ambulans, Abay muncul dan telah naik di atas motornya bersama Ami yang ingin ikut bersamanya.
Tadinya Dina ingin pergi naik motor berdua Abay, tetapi demi melihat Ami sudah naik terlebih dahulu, dia pun mengalah naik di mobil tetangga bersama Wati.
Iring-iringan jenazah mulai meninggalkan rumah duka. Namun motor Abay belum berjalan, karena mendadak ada seorang nenek berdiri menghadang sambil mengawasi wajah Abay.
"Maaf, Nek... aku mau segera pergi!" seru Abay yang menyangka perempuan tua di depannya masih tetangga rumah Sanusi.
"Panggil aku Nini Ai, kalau kamu mau selamat ikut aku dan hidup menderita beberapa waktu. Ular itu akan pergi dan kamu bisa hidup lebih lama lagi. Apa kamu mau?"
Abay melongo, dia paham akan ucapan si nenek yang meminta dipanggil Nini Ai itu. Tetapi pundaknya ditepuk Ami.
"Papa, kenapa belum jalan juga? Itu kita sudah ketinggalan jauh!"
"Iya." Abay pun bersiap menarik tuas gas motornya. "Minggir, Nek!"
Nini Ai menggeser tubuhnya. Setelah itu, baru motor Abay melaju.
"Papa kok tadi suruh Nenek minggir, memangnya ada Nenek-nenek tadi?" tanya Ami yang heran karena tak melihat ada orang lain di dekat mereka.
Abay tak menjawab, karena dia tahu akan sangat merepotkan untuk memberi penjelasan pada Ami.
__ADS_1
"Jika kamu tak mau, terpaksa akan ada orang lain yang menghentikan dirimu nanti," desis Nini Ai sambil menatap ke arah perginya Abay.