ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 52


__ADS_3

Jajang telah pulang ke rumahnya. Wajahnya tampak senang, karena cita-citanya menjadi orang kaya tercapai. Kepalang tanggung, sekalian saja dia nyemplung ke kolam uang yang didapat melalui pesugihan. Bukannya banyak orang yang bilang dia memelihara jin penglaris.


Tetapi dengan pintarnya Ki Jabaya berhasil membujuk Jajang untuk mengabdi pada Nyi Malini.


Apalagi cara dapat uangnya berbeda. Jajang tetap bisa menjual ketupat sayurnya, tak perlu sampai laku banyak seperti dahulu, karena Nyi Malini bukan jin penglaris.


Jajang hanya perlu setiap tiga kali dalam sebulan di bulan purnama beredar meluangkan waktu, di dalam kamar rahasia bersama istri rahasia yang telah dipilih Nyi Malini.


Setelah berkasih sayang dengan istri rahasianya itu, Jajang akan mendapat uang dan harta emas.


Saat ini saja, Jajang pulang dengan menggembol tas ransel berisi uang dan perhiasan emas.


Ketika sampai di rumah kontrakannya, Jajang disambut anak gadisnya yang tampak masih mengantuk.


"Bapak baru pulang?"


"Iya, soalnya Bapak ada urusan dan semuanya selesai dengan baik. Kita jadi orang kaya, Delia." Wajah Jajang berseri.


"Bapak, meski ini sudah malam, tapi juga baru jam sebelas malam. Belum waktunya Bapak bermimpi." Delia menggeleng.


"Ayo, masuk!" Jajang mendorong tubuh Delia agar masuk ke dalam, lalu dia ikut masuk dan menutup pintu kontrakannya.


Kontrakan yang di sewa Jajang itu memiliki tiga ruang dalam dan satu ruang luar. Tiga ruang dalam itu dipisah tembok, paling belakang dapur sekalian kamar mandi, paling tengah itu kamar buat Delia tidur dan ruang depan itu tempat Jajang istirahat dengan selembar kasur tipis. Ruang luar tempat menaruh gerobak ketupat sayur.


Jajang lalu menarik tangan Delia untuk masuk ke ruang tengah dan duduk di kasur busa yang lebih tebal dari punyanya.


Tas ransel yang berada di punggung Jajang pun dilepaskan. Resleting tas dibuka dan isinya ditumpahkan ke atas kasur.


Mata Delia terbelalak, karena dia melihat lembaran uang membukit di atas kasur, lalu ada kalung dan gelang emas, berikut sebuah cincin emas dengan batu mata kucing merah.


Jajang mengambil cincin dan menaruhnya di jari manis kiri.


"Lihat, Bapak seperti orang kaya kan?" Jajang tertawa.

__ADS_1


Delia mengangguk. Lalu tangannya bergerak untuk menyusun lembaran uang, namun dia memilih untuk mengumpulkan tiga kalung emas dan lima gelang emas.


"Bapak baru merampok di mana?" tanya Delia.


"Tuduhan kamu itu kelewatan, Bapak mana punya keberanian untuk merampok. Ini semua hadiah dari istri Bapak," jawab Jajang.


"Apa? Bapak sudah menikah lagi?" Delia terperanjat kaget.


"Hahaha, seperti itulah. Tadi itu Bapak ketemu sama istri rahasia, karena ini rahasia... jadi Bapak tak bisa kenalkan padamu." Jajang tertawa penuh misteri.


"Kenapa bisa seperti itu Pak? Jadi, aku tak akan bisa mengenal Ibuku yang baru?" Delia tampak kecewa.


"Tak perlu kamu kenal dia, yang penting kamu bisa kenal uangnya. Kan kamu bisa beli tuh ponsel baru biar bisa menunjang belajarmu, apa yang kamu mau... gunakan uang itu. Tetapi ada syaratnya...," ucap Jajang.


"Apa itu Pak?"


"Kalau ditanya sama orang, kamu bisa punya uang banyak darimana? Bilang saja, dapat dari uang warisan. Besok dalam waktu tiga hari, kita pindah rumah!"


Delia hanya bisa mengangguk. Walau dia masih curiga, tetapi kecurigaannya itu lenyap karena Jajang mengatakan seluruh perhiasan emas boleh dipegang olehnya, menjadi hak pribadinya.


Kekayaan di dunia tak sebanding dengan harga sebuah nyawa. Apalagi jika harta benda yang di dapat itu berasal dari kejahatan dan kerja sama dengan jin, ditambah jika harus berkorban tumbal jiwa dari anak sendiri.


Jajang akan menderita.


*


Hari berganti, dari terang menjadi gelap dan siklus itu tak pernah berubah.


Saat ini jam nya para pria dewasa meluangkan waktu sejenak di jumat siang. Tetapi hanya khusus untuk mereka yang menjalankan dan beriman saja. Bagi yang tak mau tanggung dosa sendiri-sendiri.


Begitu juga Abay. Dia mana pernah pergi bersama-sama yang lain ke mesjid. Dia memilih untuk duduk minum kopi bersama orang-orang yang sejalan dengannya.


Siang itu, di emperan toko yang tutup dan terletak tak begitu jauh dari rumah Sanusi, ada gerobak pedagang batagor yang cukup ramai pembeli. Abay tampak duduk seorang diri, asyik dengan ponselnya. Di sebelahnya ada piring kosong dengan sisa bumbu kacang kuah batagor dan serpihan kecil kulit pangsit.

__ADS_1


Lalu ada juga botol air mineral yang sudah tak dingin lagi, berikut gelas kopi dan sebungkus rokok yang di atasnya ada korek api gas.


Abay menikmati waktunya dengan santai. Dia tak pedulikan mata yang menatap dirinya. Tetapi mau tak mau dia harus membuka mulut ketika ada seseorang yang menegur dirinya.


"Abay kan?"


Abay alihkan pandangan matanya dari layar ponsel ke wajah si penegur. Seorang wanita yang rupa-rupanya dia pernah lihat.


"Siapa ya? Apa kamu pernah sekamar denganku?" tanya Abay dengan senyum manisnya. "Kalau mau lagi, aku bisa bayar kamu lebih."


"Jaga mulutmu, Abay! Aku ini Lala, bukan wanita yang bisa kamu beli dengan uang."


"Lala!" pekik Abay kaget. Dia perhatikan wajah Lala sedemikian rupa. Lalu buru-buru minta maaf.


"Ternyata kehidupan kota membuat dirimu berubah besar, ya!" Lala tanpa diminta terus saja duduk di sebelah Abay.


"Perubahan apa? Aku masih Abay yang dulu. Oya, di mana Sasan?" tanya Abay menyinggung Sasan, walau dia sudah tahu karena pernah bertemu Sasan, tetapi dia pura-pura tak tahu.


"Setahuku, kamu dulu paling rajin setiap hari jumat, datang lebih awal. Tetapi sekarang, azan sudah hadir dan kamu masih santai di sini. Apa itu bukan perubahan namanya? Terus aku lihat juga gayamu seperti orang berduit banyak, apa kamu sudah tak malas kerja lagi?" tanya Lala.


Abay mau membuka mulut, tetapi dasar Lala itu ditakdirkan sebagai seorang wanita makanya mulutnya lebih mudah terbuka lebar, hingga Abay kena didahului cerewetnya Lala.


"Terus, kamu kerja apa sekarang? Sudah punya berapa istri? Anak?" tanya Lala. "Oya, aku sudah tak bersama Sasan lagi!"


"Boleh kan aku ngomong sekarang?" tanya Abay.


"Tak ada yang melarang." Lala tertawa.


"Aku ini tak kerja, tapi bisnis. Uang tentunya banyak dong. Istri ku banyak, tinggal pilih mana yang aku suka. Anakku ya tak ada, yang ada hanya anaknya Endah. Aku terpaksa jadi orang tua tunggal. Tetapi boleh aku tanya?"


"Tanyalah!"


"Kamu kenapa tak bersama Sasan lagi?"

__ADS_1


"Aku...."


"Oom."


__ADS_2