ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 50


__ADS_3

"Ular, pergi!" bentak Dina.


Tetapi ular yang kepalanya berada di pundak kanan Westi dan tubuhnya bersembunyi di punggung remaja itu, hanya diam saja. Kepalanya saja yang terangkat dalam posisi bersiap. Sepasang matanya yang kecil dan berwarna merah itu menatap ke arah Dina.


"Dina tolong Westi," pinta Maya dengan wajah pucat.


Westi yang tubuhnya dihinggapi ular itu hanya bisa diam. Dia pernah menonton film, jika bertemu ular sebaiknya diam seperti patung. Hanya saja, dia masih remaja dan ketenangan hatinya belum terasah. Walhasil tubuhnya sedikit gemetar dengan keringat mulai timbul di keningnya, keringat yang sangat banyak.


Dina maju selangkah. Tangannya terulur untuk menangkap kepala ular. Namun, akibatnya ular itu malah menyerang.


Terdengar teriakan kencang.


***


Abay duduk termenung di kursi sofa ruang tamu yang tampak masih baru. Dia telah berpisah dengan Jajang yang berhasil diajaknya bertemu Ki Jabaya nantinya.


Setelah berpisah dengan Jajang, Abay lantas bertemu dengan teman wanitanya. Janda paruh baya yang berusia kepala empat, tetapi masih terlihat menarik.


Reni, janda miskin sebelum bertemu Abay tiga bulan lalu. Tak bisa dibilang miskin sejati, karena dia punya pekerjaan sebagai buruh cuci. Tetapi sejak pertemuannya dengan Abay, kehidupannya pun berubah.


Dengan uangnya, Abay membantu ekonomi Reni. Tak hanya memberikan kemudahan nafkah saja, tetapi juga membantu mengganti beberapa barang rumah tangga yang dianggap harus diganti, semisal bangku ruang tamu dan ranjang yang awalnya tak bisa naik-turun tak ada per, kini sudah bisa naik turun mengikuti goyangan. Tentunya apa yang didapat Reni itu tak gratis.


Selain itu, Reni pun diajak Abay ke salon. Dengan seringnya dia pergi merawat diri, pesona kecantikannya pun keluar dan membuat Abay semakin sayang padanya.


Tetapi Abay tak hanya memperhatikan Reni seorang. Randi, jagoan mudanya yang berusia lima belas tahun pun mendapatkan fasilitas yang tak pernah bisa didapatkan dari Reni.


Ponsel keluaran terbaru, laptop dan sepatu bola berharga mahal contohnya. Belum lagi uang jajan yang nilainya cukup besar, seratus ribu sehari membuat Randi dari awalnya sering disuruh-suruh teman tongkrongan, kini menjadi bos kecil di antara ketiga teman akrabnya.


Tetapi tentu apa yang diberikan Abay itu harus ada balasannya. Dari Reni, dia mendapatkan bayaran yang membuatnya puas mendaki gunung dan menjelajahi sungai untuk mandi. Sementara dari Randi, hanya menunggu giliran waktunya saja, menjadi korban tumbal Nyi Malini.


Siang ini Abay termenung, karena Reni baru saja meminta sesuatu hal darinya.

__ADS_1


"Bagaimana Kang?" tanya Reni yang berdiri di depan pintu kamarnya.


Abay menatap pada Reni yang siang-siang sudah memakai baju tidur merah menggoda, karena tak bisa menutupi seluruh tubuhnya yang semakin montok hari ke hari.


"Apa memang aku harus menikahi dirimu?" tanya Abay. "Bukannya, kita sudah...."


"Kang, tetangga sudah mulai ramai bicara." Reni memutus ucapan Abay. "Daripada kita dinikahkan Pak RT, kenapa kita tak mengundang penghulu datang ke rumah. Aku tak menuntut nikah secara hukum negara dan agama. Cukup nikah secara agama saja."


Permintaan Reni itulah yang membuat Abay termenung. Dalam hatinya, Abay sudah berjanji tak mau menikah lagi. Tetapi bukan berarti dia benar-benar berhenti untuk memetik bunga dan menikmati manis madunya dunia.


"Beri aku waktu untuk berpikir," jawab Abay.


"Sampai kapan Kang? Sampai Pak RT datang ke sini?" Reni berjalan mendekat.


"Dia mana berani, kan sudah aku kasih uang tutup mulut," jawab Abay santai.


"Tetapi dia mana kuat menahan tuntutan warga, Kang! Pak RT sendiri bilang padaku, dalam tiga hari ini harus ada keputusan. Jika tidak ada, begitu di hari berikutnya Kang Abay datang, warga siap menangkap." Reni duduk di samping Abay dengan tubuh merapat.


"Ada apa sama orang-orang itu, mau ikut campur saja urusan orang lain. Kita sudah sama-sama dewasa dan suka. Apa yang kita mau, kenapa mereka harus ikut campur? Kamu pun juga sudah tahu kan, aku sudah berkata... aku tak akan menjadi suamimu secara sah, tapi aku siap memberikan uang untukmu dan Randi. Kamu itu hanya istri rahasiaku tanpa ikatan. Sudah banyak uang yang aku keluarkan per bulan untukmu, jadi mau apa lagi?" Abay menatap Reni dengan sorot tak senang.


"Apa maksud ucapanmu itu?" Abay mendorong tubuh Reni agar tak terlalu rapat padanya.


"Kang Abay pengecut, aku sudah berikan segalanya buat Kang Abay, tetapi kenapa Kang Abay tak mau menjadikan aku istri? Aku tahu aku banyak kekurangan, tapi...."


"Sudah, aku tak mau bicara lagi. Aku pergi dulu, di hari ketiga aku akan kembali!" Abay berdiri. Tetapi tangannya di tahan Reni.


"Mau apa?" tanya Abay sambil menatap Reni.


"Kang Abay kalau marah jadi terlihat tambah jantan. Apa Kang Abay...."


"Hahaha!" Abay cepat menerkam tubuh Reni. Dia sudah paham apa kemauan Reni.

__ADS_1


*


Ketika Abay dan Reni sedang bergumul asyik, maka Dina sedang bergumul dengan maut.


Ular yang berada di tubuh Westi itu melompat menyerang ke arah Dina. Sasarannya wajah Dina, yang membuat Maya dan Westi menjerit kaget.


Kedua teman Dina itu menyangka, wajah Dina kena digigit ular yang berbisa. Bentuk kepala segitiga ular itu menjadi pertanda, berikut warna sisiknya yang hitam terang.


"Segala macam ular sepertimu mau mencari gara-gara denganku!" dengus Dina.


Begitu Maya dan Westi melihat dengan tegas, ternyata jari jempol dan telunjuk kiri Dina berhasil menangkap leher ular.


Ular tak bisa bergerak, tubuhnya pun tergantung lemah. Gagal dia menyakiti Dina.


Maya dan Westi melihat Dina seperti orang berbisik pada ular. Entah apa yang dikatakan Dina, hanya ular itu yang mendengar.


"Aku lepaskan kamu pulang. Jika berani menyerang lagi, aku pastikan dirimu dan anak-anakmu mati. Apa kamu mengerti?" bisik Dina pada ular.


Tentu saja ular tak bisa menjawab, karena ular yang ditangkap Dina itu bukan ular seperti Bwalika.


Dina lantas berjongkok.


"Westi, minggir dulu! Sana, berdiri dekat Maya!" pinta Dina dua kali.


Westi yang masih berjongkok di tempatnya semula, lantas berdiri dan mendekati Maya.


Bersamaan dengan itu, Dina menaruh tubuh ular di bumi. Bagai mendapat pengampunan, ular itu segera merayap pergi menuju lubang di saluran air. Warung mie ayam Aji berdiri di atas trotoar dan juga memakai sebagian saluran air yang tertutup semen beton yang bisa diangkat.


Ular sisik hitam itu tak langsung masuk ke dalam saluran air, dia sempat menengok ke belakang.


"Sana pergi dan jangan pernah keluar lagi! Cari tempat di mana tak ada manusianya!" seru Dina.

__ADS_1


Setelah mendengar ucapan Dina, ular itu lantas pergi memasuki lubang di saluran air.


"Dina, suruh kedua temanmu pulang lebih dulu!"


__ADS_2