ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 106


__ADS_3

"Oma!"


Teriakan Maya itu membuat kaget Ami dan Suta. Suta sudah pulang dari musholla. Tadi dia sempat membantu bersih-bersih WC, lalu mendapat upah sarapan pagi nasi uduk.


Setelah makan, Suta pulang dan bertemu Ami yang baru selesai beli bubur ayam yang lewat.


Ami beli bubur ayam memakai mangkuk dari dalam rumah. Tadinya dia mau dua kali bolak balik, karena beli bubur ayam tiga mangkuk. Karena ada Maya di dalam rumah.


Karena ada Suta, jadi Ami tak perlu bolak-balik dan dia cukup pegang satu mangkuk dan sisanya Suta di tangan kiri-kanan.


"Oma, bangun!"


Teriakan Maya lagi dan 'prang'.


Mangkuk di tangan Ami terlepas. Wajahnya mendadak lebih putih lagi. Dia pucat, dia takut dan dia sedih.


Ami terus berlari sambil berteriak masuk ke dalam rumah. Suta melangkah lebih lebar dan setelah sampai di dalam rumah, mangkuk berisi bubur ayam ditaruhnya di atas meja.


Hampir saja Suta dan Maya bertabrakan. Karena Maya berlari keluar rumah untuk memanggil bapaknya.


"Maya, Oma kenapa?" tanya Suta yang tak digubris Maya.


Sebab Maya sudah berlari pulang.


Suta masuk ke dalam kamar Wati dan melihat Ami menangis terisak-isak.


"Oma, jangan mati dulu!"


Suta pun segera memeriksa denyut nadi Wati. Tetapi dia tak merasakan ada denyutan. Lalu dia melihat di meja kecil samping ranjang Wati ada kaca kecil.


Suta pun mengambil kaca itu.


*


Abay masuk ke dalam rumah dengan hati sedikit bimbang. Ada rasa takut muncul.


Meski Abay mendapat bisikan, Nyi Malini sedang menunggu karena rasa rindunya. Namun hati Abay meragu. Hanya saja, dia sudah sampai di rumah.


"Abay Sayang, masuklah!"


Panggilan merdu menggoda Nyi Malini terdengar.


Tak ada jalan lain, Abay pun bersiap mendorong pintu rumah.


"Pak, sedekahnya Pak!"


Tangan Abay yang hampir menyentuh daun pintu, kini tertahan dan dia menengok ke arah suara.

__ADS_1


Di depan pagar berdiri seorang anak kecil berusia 8-9 tahun. Berpakaian kumal dan saat itu sedang menatap Abay penuh rasa memohon.


"Abay, masuklah!"


Panggilan Nyi Malini lagi.


"Pak, tolong sedekahnya Pak. Adikku sakit," pinta bocah kecil itu mengiba.


Abay bingung. Ada keinginan membantu anak itu, tetapi dia pun takut Nyi Malini marah karena dirinya tak segera masuk ke dalam rumah.


"Maaf, sudah mengganggu Bapak."


Abay tercekat, bocah kecil itu berjalan mundur dan menundukkan kepala. Setelah tiga langkah berjalan mundur, bocah itu memutar tubuhnya untuk segera pergi dari depan rumah Abay.


"Tunggu!" Abay cepat berlari mengejar anak itu.


Bocah itu berdiri diam. Kepalanya terangkat untuk menatap Abay yang sedang membuka pagar rumah.


"Adikmu sakit apa?" tanya Abay.


"Badannya panas Pak."


"Di mana dia?" tanya Abay lagi.


"Di situ Pak!" Telunjuk bocah kecil itu mengarah ke sebuah pos kecil yang berada tak jauh dari rumah Abay.


"Abay, kamu tak mau bertemu aku?" tanya Nyi Malini di telinga Abay. Dia tak tampakkan wujud, hanya cukup suaranya.


"Aku mau menolong orang dulu Nyi!" jawab Abay lirih.


"Bapak bicara sama siapa?" tanya bocah cilik itu heran.


"Tak ada!" Abay menyuruh bocah itu percepat langkahnya.


"Abay, jika kamu tak datang saat ini juga, kamu mati!" bentak Nyi Malini di telinga Abay.


Abay berhenti berjalan. Wajahnya pucat pasi. Bocah itu pun berhenti, dia yang sudah berjalan lima langkah di depan Abay, kini kembali.


"Bapak, maaf sudah merepotkan. Kalau memang Bapak ada masalah, biar aku cari bantuan yang lain saja!" seru bocah itu.


Abay menatap sedih bocah itu. Dia lalu mengambil dompetnya dan keluarkan isinya. Semuanya yang ada di dalam dompet diberikan ke tangan si anak itu.


"Ambil uang ini dan bawa Adikmu ke dokter atau rumah sakit. Bapak tadinya mau bantu bawa Adikmu, tetapi tak bisa!" Abay menghela napas.


"Uang ini terlalu banyak, Pak." Bocah itu ingin kembalikan sebagian uang yang diberikan Abay.


"Ambil saja. Semuanya untukmu!" Abay menolak.

__ADS_1


Bagi anak kecil itu mungkin uang yang diberikan Abay sangat besar, ada kurang lebih 2.2 juta. Semuanya uang pecahan besar. Tetapi bagi Abay, uang itu mudah didapat.


Abay memutar tubuhnya dan cepat berjalan masuk ke dalam rumah.


Namun mendadak.


Abay terpental, karena dirinya yang terburu-buru menyebrang jalan tersambar sepeda motor. Dia pun jatuh pingsan.


Walhasil, Abay yang dibawa ke rumah sakit. Berserta bocah itu dengan adiknya yang sakit demam.


Sementara di dalam rumah, Nyi Malini berteriak gusar. Karena niatnya untuk mengambil jiwa Abay tertunda. Tadinya dia ingin menawan Abay saat masuk ke dalam rumah.


Tetapi rencana itu harus diubah. Nyi Malini akan mengambil jiwa Abay di rumah sakit.


*


Di ruang IGD, Abay yang tak sadarkan diri itu tak tahu, jika di sebelahnya baru saja ada Wati yang akhirnya dipindahkan ke kamar terpisah. Setelah mendapat perawatan sejenak di ruang IGD, dokter memutuskan untuk merawat Wati secara intensif di ruang khusus, karena kemungkinan Wati koma.


Tubuh Wati tak memberi reaksi, namun detak jantungnya masih ada. Karena itu diputuskan untuk membawanya ke ruang terpisah dan kamar khusus untuk dirinya sendiri.


Sementara Abay mengalami luka lecet di tangan dan kakinya, lalu luka memar di bagian pinggul. Hanya saja kepalanya sempat terbentur dan itu yang membuat dia jatuh pingsan.


Di dekat Abay berdiri menunggu Suta. Suta tahu Abay dirawat saat dirinya melihat bapaknya Dina itu didorong masuk ke dalam ruang IGD, sementara Wati dibawa keluar.


Selain Suta, si bocah yang adiknya sakit itu juga tampak hadir. Bisa dibilang bocah itu ikut, karena Abay juga.


Adik si bocah itu sedang tertidur tenang di ranjang sebelah Abay. Dia hanya keletihan karena kurang makan dan minum, hingga timbul demam dan perlu diberikan cairan infus. Cukup satu cairan infus dan bisa segera pulang.


"Sepertinya Abang ini kenal sama Bapak yang baik hati ini, ya?" tanya bocah itu yang berada di ruang IGD. Sebenarnya bocah itu tak diijinkan berlama-lama, sebab memang anak kecil tak diperbolehkan berada di dekat orang sakit.


Tetapi bocah itu abang dari si sakit. Sedikit ada pengecualian sesaat saja.


"Dia calon mertuaku," jawab Suta.


"Calon mertua itu apa Bang?" tanya bocah itu tak mengerti.


Suta lupa, dirinya bicara dengan anak kecil. Mungkin ada beberapa hal yang memang belum diketahui anak itu.


"Oh, Bapak ini Bapaknya pacarku," jawab Suta.


"Terus pacar Abang mana?" tanya bocah itu mendesak.


"Sedang pergi."


"Abang bohong, ya?"


Suta baru mau menjawab, dia keduluan dengan suster yang memanggil bocah itu untuk diperiksa dan diberi suntikan, mencegah masuknya virus penyakit. Setelah itu Suta tak tahu ke mana bocah itu pergi.

__ADS_1


__ADS_2