ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 116


__ADS_3

Abay hancur lebur badannya. Luka-luka dan darah mengucur. Dia terbaring meringkuk di sudut kamar batu dalam kubangan darahnya sendiri.


Dua cambuk berduri yang menghantam tubuh Abay berada di bawah, di lantai di dekat Abay. Ada banyak darah di duri-duri cambuk.


Sementara Santi dan Poppy telah menyingkir. Membiarkan Abay mengerang kesakitan.


Seekor ular, tidak dua ekor, oh bukan ada tiga ekor ular bergerak merayap ke arah Abay. Ular pertama berwarna hitam, disusul yang kedua bersisik putih dan terakhir mempunyai corak merah kehitaman.


Ketiga ekor ular tersebut sebesar lengan orang dewasa. Ketiganya merayap semakin dekat. Sempat berhenti sejenak dengan kepala terangkat, lalu ketiganya bergerak lagi mendekati Abay.


Ketiga ular turunkan kepalanya untuk menjilati darah Abay yang seperti air kolam di lantai. Ajaib, hanya dalam waktu singkat saja darah tersebut menghilang masuk ke dalam perut ular.


Selanjutnya lidah-lidah ular tersebut mencari darah lainnya. Darah yang masih menempel di luka-luka tubuh Abay.


Ketiga ular layaknya seorang ibu yang menyayangi anaknya, merawat luka yang diderita Abay. Sekali lagi keajaiban terjadi, luka Abay mengering, bahkan menghilang.


Napas Abay yang tadinya satu-satu terdengar, kini mulai normal. Begitu matanya terbuka. Dia menjerit.


"Ular!"


Terdengar suara benturan kepala belakang Abay dengan tembok, yang akhirnya membuat dia menjerit kesakitan dan jatuh pingsan.


Ada luka di kepala Abay. Bocor akibat terlalu kerasnya benturan antar batok kepalanya dengan tembok batu.


Kepala Abay bukan palu. Dia juga tak pernah mempelajari cara menguatkan tulang kepalanya.


Sekali lagi luka bocor kepala Abay dijilat lidah ular, hingga darah pun tak lagi bisa keluar. Sebab mulut luka telah kembali menutup.


Sekali lagi pula kedua mata Abay terbuka dan dia lagi-lagi melihat tiga ular berada tepat di depannya.


Kali ini Abay tak bereaksi. Dia bergeming. Begitu juga ketiga ular.


Abay dan ketiga pasang mata ular tersebut saling menatap. Saling berdiam diri. Mereka seperti patung.


Sampai terdengar suara siulan tinggi, kepala ketiga ular menengok ke belakang, lalu kemudian merayap pergi.


Abay masih diam. Dia sama sekali tak mau bergerak, karena takut mendadak ular-ular itu kembali lagi kepadanya.


Hanya suara napas Abay saja yang terdengar.

__ADS_1


Sampai kemudian ketiga ular itu lenyap dari pandangan Abay. Baru terdengar suara helaan.


"Gila, hampir saja!"


"Hihihi, ada manusia gila bisa bilang gila. Hebat sekali."


"Siapa kamu?" tanya Abay kepada suara tanpa wujud itu.


"Aku."


Nyi Malini berjalan masuk ke dalam kamar. Tetapi Abay tahu, yang bersuara tadi itu bukan Nyi Malini.


Pasti satu di antara dua manusia ular pengiring Nyi Malini.


Di belakang Nyi Malini ikut masuk dua gadis ular, yang berjalan lenggak-lenggok persis seperti badan ular. Kedua gadis bertubuh bawah ular itu sama cantiknya dengan Nyi Malini. Tetapi bedanya tak memakai baju seperti Nyi Malini.


Seluruh tubuh dua gadis ular itu bersisik warna biru. Sisik yang aneh. Hanya wajah keduanya saja yang tak bersisik. Hingga kecantikan mereka terpancar, raut wajah yang masih muda seperti Dina.


Kedua gadis ular tersebut membawa nampan di tangan masing-masing. Nampan yang berisi sepiring makanan dan juga teko air terbuat dari bahan emas. Nampan pun terbuat dari bahan yang sama.


"Hei, budak... kamu beruntung karena aku masih mau memberikan dirimu makan. Nah, makanlah!" Nyi Malini memberi kode agar kedua nampan diletakkan di depan Abay.


Abay yang terduduk bersandar tembok mengangkat kepalanya menatap Nyi Malini.


Abay menggeleng.


"Hihihi, apa kamu pikir kamu bisa menolak?"


Setelah bicara seperti itu, Nyi Malini angkat tangan kanannya.


Ternyata itu sebuah tanda dan aba-aba bagi gadis ular yang berada di sebelah kanannya. Gadis ular tersebut melesat cepat seperti sambaran kilat.


Akibatnya Abay merasakan mulas di perutnya. Karena terkena hantaman tangan si gadis ular, yang telah kembali berada di belakang Nyi Malini.


Siksa, siksa dan siksa akan terus dialami Abay.


"Cepat makan atau kamu alami siksa yang lebih pedih dan perih lagi. Lagipula aku butuh kamu untuk bekerja keras." Nyi Malini tersenyum kejam.


Kali ini Abay tak menolak. Dia tak ingin merasakan siksa yang lain lagi.

__ADS_1


Mata Abay pun melirik ke arah nampan. Di piring emas berisi roti, sementara di teko emas tak ada gelasnya.


Tangan Abay pun terjulur ke depan. Dia mengambil satu buah roti dan mulai menggigitnya. Tadinya dia berpikir rasa roti tak akan enak.


Ternyata Abay salah. Roti begitu lezat dan nikmat, karena berisi daging yang terasa manis dan lembut.


Setelah menelan habis roti yang pertama, Abay mulai makan roti yang kedua. Kali ini dia merasakan giginya menggigit benda yang cukup keras, seperti tulang. Begitu dia melihat ke arah rotinya. Ternyata yang dia gigit itu jari tangan manusia.


Abay menjerit dan membuang roti itu, lalu dia buru-buru mengambil teko dan menuang isinya ke dalam mulutnya. Tetapi dia pun menyemburkan air yang baru saja dia minum.


Karena air itu berbau busuk dan amis anyir darah. Saat itulah Abay melihat di lantai ada cairan kental merah kehitaman.


"Bagus, kamu sudah makan dan minum. Sekarang waktunya bekerja!"


Nyi Malini selepas berucap, lalu memutar badannya.


Sementara kedua gadis ular segera memapah Abay bangun dan menyeretnya keluar dari dalam penjara.


Abay tak tahu dia mau dibawa ke mana. Karena perjalanan belum berakhir. Selama perjalanan, Abay tak melihat apa-apa. Semuanya terasa gelap baginya, padahal matanya tidak buta dan juga tidak diikat kain.


Yang Abay tahu, begitu keluar dari dalam kamar dia memasuki lorong hitam tanpa cahaya. Aneh, padahal sebelumnya dia masih bisa melihat lapangan yang luas dari jeruji penjaranya.


Hingga mata Abay terpaksa menutup sejenak, karena terkena sorotan cahaya yang sangat tajam. Dia telah sampai di ujung lorong.


"Buka matamu!"


Abay yang didorong jatuh ke depan itu, lalu membuka matanya. Pertama kali yang dia lihat itu kilau cahaya kuning emas.


Tak ada Nyi Malini, tak ada kedua gadis ular tadi. Yang ada saat ini seorang manusia ular yang lain, wujud pria ular bertubuh kekar yang galak.


"Ambil ini dan mulai bekerja!"


Tangan Abay tahu-tahu memegang alat palu besar. Tongkat yang ujungnya berbentuk palu. Bukan hal yang enteng bagi Abay untuk mengangkat tongkat palu tersebut, karena beratnya sekitar 15 kilo.


"Cepat kerja!"


Abay menjerit, karena lagi-lagi dia terkena hajar. Kali ini berupa cambuk dari ekor ular.


Tubuh Abay pun berguling-guling hingga berhenti saat menabrak batu besar.

__ADS_1


"Mulai detik ini, kamu akan bekerja di sini sampai batas waktu yang tak ditentukan!"


Abay hanya terdiam, dia tak menjawab ucapan si pria ular.


__ADS_2