
Dina dan Euis telah turun dari angkot. Mereka pun menyebrang jalan untuk selanjutnya berjalan menuju sebuah mulut gang.
Namun saat baru lima langkah memasuki gang yang hanya cukup untuk lewat satu buah mobil dan satu motor berpapasan jalan, Euis berhenti sejenak dan mengajak Dina berdiri di pinggir jalan.
"Kenapa Berhenti?" Dina melihat ke arah ujung jalan, ada sebuah mobil yang melaju dari dalam gang menuju ke jalan raya yang berada di belakangnya.
"Aku mau kasih tahu. Nanti kalau udah memasuki gapura kampung Cidaun, kamu jangan sembarang jalan ya. Eh, maksudku menerima pemberian orang atau mau diajak masuk ke rumahnya," jelas Euis.
"Alasannya apa? Apa aku bakal dijahatin orang?" tanya Dina.
"Oya, kalau kamu ketemu sama cowok yang ngajak senyum dan kenalan, boleh diterima asal jangan sampai meludah. Pokoknya harus hati-hati, jangan terima makanan dari orang, jangan mau disuruh mampir ke rumah orang, jangan meludah dan jangan bicara kasar! Pokoknya...."
"Jangan ngomong terus! Ayo, kita jalan ke rumah Bibimu. Atau aku mending pulang, nih!" Dina sedikit kesal, karena bukannya menjawab pertanyaan, Euis malah terus bilang jangan dan jangan terus.
"Kamu sudah ingat kan?" tanya Euis mengingatkan.
Sebagai jawaban, Dina menganggukkan kepalanya.
"Oya, dari sini ke gapura kampung masih ada kurang lebih 500 meter. Dari gapura itu kalau nggak salah nggak sampai 200 meter. Kuat kan jalan?" tanya Euis.
"Sambil gendong kamu, aku masih kuat, kok. Gimana apa mau digendong?" tanya balik Dina.
"Aku masih kuat jalan, kok. Jadi terima kasih," tolak Euis halus.
"Yakin, nih? Hati-hati loh, nanti bisa ketemu ular!" goda Dina menakut-nakuti Euis.
"Jangan sampai deh! Soalnya, di ujung tembok itu udah mulai sawah," terang Euis.
Sepanjang jalan gang sekitar lima puluh meter, di kiri kanan ada tembok bangunan. Dari tempat Dina berdiri, bayangan sawah sudah terlihat.
"Kamu takut sama ular?" Dina lebih dulu maju selangkah.
"Takut sih nggak, cuma jijik aja!" Euis masih berpura-pura. Dia menyusul langkah Dina.
"Ular kalau nggak diganggu atau tak merasa terancam, nggak akan galak, kok. Mereka itu pada dasarnya binatang liar, jadi insting bertahan mereka itu kuat dan akan berbalik menjadi agresif saat merasa terancam jiwanya. Ibaratnya, mereka masih mau hidup dan akan berusaha melawan sekuatnya biar tetap hidup," jelas Dina.
"Oya, memang sih ular kadang suka menyerang manusia, meski bukan dalam keadaan terancam. Kalau ini biasanya karena lapar. Nah, kebetulan ada manusia, ditelan deh itu manusia. Eh, ini aku bicara kalau ularnya gede ya... ya kayak anaconda dan kawan-kawannya," sambung Dina.
__ADS_1
"Udah ah, jangan ngomongin ular! Mending bicara Kukun aja," ucap Euis meminta ganti topik.
"Ada apa sama Kukun?" tanya Dina sambil terus berjalan.
"Dia cinta kamu, tuh. Diterima nggak?" Euis berusaha menutupi rasa cemburunya.
Sebenarnya Euis suka pada Kukun. Bukan sekedar suka sebagai tetangga, tetapi dia jatuh cinta pada pemuda bertubuh kurus tinggi itu. Usia Euis memang masih muda, tetapi di keluarga besarnya, semuanya menikah muda setelah lulus sekolah.
Sebenarnya lagi, Euis disuruh ke rumah bibinya itu untuk mengambil uang. Minggu depan kakak nomor tiganya, Eni akan menikah di usia mendekati 20 tahun.
Uang yang diterima Euis nanti, sebagai bantuan untuk biaya masak-masak.
"Kukun lebih berjodoh sama kamu, kok. Tenang saja. Karena aku juga bakal pergi dari rumah Nini Ai," kata Dina menenangkan hati Euis.
Dina tak buta, dia bisa melihat betapa sorot mata Euis lebih bercahaya ketika menatap Kukun. Tingkah laku Euis menunjukkan rasa cinta, meski kadang saat Kukun hadir di antara mereka berdua, Euis suka berpura-pura tak cinta pada Kukun.
"Loh, kamu pergi dari rumah Nini Ai? Kapan? Memangnya kamu tak suka tinggal di rumah Nini Ai?" tanya Euis beruntun.
"Iya, karena perjanjiannya aku tinggal sama Nini Ai selama dua tahun. Jadi masih ada waktu sekitar setahun lagi. Bukan tidak betah tinggal bersama Nini Ai, tetapi aku harus jalankan takdirku," jawab Dina dengan mata menerawang jauh.
"Awas!" Dina menarik tangan Euis.
Euis menjerit dan hampir saja dia jatuh pingsan, kalau Dina tak segera menangkap dirinya.
Di depan mereka berdua tampak seekor ular welang bercorak hitam kuning, sebesar betis dan sepanjang lebih dari 2 meter. Ular itu kini melingkar di depan Dina dan Euis dengan posisi kepala terangkat ke atas dan lebih condong ke arah Dina.
*
Suta duduk di teras rumah sendirian, tadinya ada Maya dan gadis itu sedang ke dapur mengambil air minum. Mereka baru saja usai makan ketupat sayur pedagang lewat. Walau begitu, Suta makan tak habis, karena begitu urat wajahnya bergerak kala mengunyah, dia merasa tak nyaman sakit.
Wati berada di dapur, sedang memetik sayur kangkung dan mempersiapkan racikan bumbu tempe goreng. Hari ini menu makan sederhana saja, tumis kangkung pedas ditambah tempe goreng dan telor dadar. Kalau makan malam nanti mau menu tambahan, paling tinggal beli saja apa yang dimau.
Biasanya Ami yang ingin makan siang dan makan malamnya berbeda menu, walau tak sering-sering. Kalau Suta, dia paham karena dirinya menumpang, dia akan makan apa saja yang disajikan Wati.
"Oma masak apa?" tanya Maya saat melihat Wati sedang memetik sayur kangkung.
"Tumis kangkung, tempe goreng sama telor dadar. Makanan murah aja," jawab Wati sambil tak lupa tersenyum.
__ADS_1
"Enak kok, Oma. Oya, Oma...." Maya berdiri di depan pintu kulkas yang belum dia buka.
"Oya, kenapa?" Wati memakai gaya bicara Maya.
"Suta suka makan apa?" tanya Maya beranikan diri.
"Oh, setahu Oma... Suta itu suka makan apa saja yang Oma masakin. Menu favoritnya apa, dia tak pernah ngomong. Memangnya kenapa?" tanya Wati curiga.
"Ng... Suta suka nggak sama nasi goreng?" Maya berharap Wati akan menjawab iya.
"Suka banget. Dia itu kalau pas masak nasi goreng masakannya sendiri, bisa sepiring melentung kayak gunung. Tapi dia kalau bikin nasi goreng, lebih suka tak pakai kecap. Cabai rawit diiris, bawang putih dan merah diiris kasar. Kadang suka pakai daun kunyit. Suka-suka dia lah. Tetapi anehnya, suka dikasih cuka juga. Cuman herannya, rasanya pas dan enak," beber Wati panjang.
"Oh, jadi dia nggak suka nasi goreng dikasih kecap ya, Oma? Terus suka pedes, ya?" tanya Maya meminta penjelasan lebih.
"Bukan nggak suka dikasih kecap. Kalau dia pas lagi malas masak nasi goreng sendiri, terus pingin makan itu dan beli, dikasih kecap juga dimakan sama dia. Betul, dia suka makan pedas! Memangnya kamu mau masakin dia nasi goreng?" tanya Wati tersenyum lebar.
"Ya, ada rencana ke sana sih Oma. Tapi aku nggak tahu, bakal enak atau nggak. Soalnya, aku masak sering keasinan." Maya tampak malu.
"Hihihi, makanya kasih bumbu yang paling penting, dong!"
"Bumbu apa Oma?" Mata Maya berbinar.
"Bumbu cinta. Tapi jangan sekarang, kalian berdua masih kecil dan harus lulus sekolah dulu!" goda Wati dengan senyum semakin lebar.
"Ih, Oma!" Maya tundukkan kepalanya.
Tanpa disadari Wati dan Maya, Ami yang tadinya mau ke dapur untuk masuk ke kamar mandi yang berada di dekat dapur, menguping pembicaraan mereka dan wajah Ami tampak memerah menahan amarahnya.
Ami benci pada Maya.
*
"Nyi Malini," kaget Abay yang baru saja selesai mandi dan masuk ke dalam kamar.
Nyi Malini berdiri di sisi ranjang dan dia menatap dingin pada Abay. Sikapnya seolah siap memberi perintah pada Abay.
Hati Abay berdebar-debar. Dia menunggu perintah Nyi Malini.
__ADS_1