ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 22


__ADS_3

"Aku...." Sasan menahan mulutnya.


"Apa kamu sudah berubah menjadi pecundang? Dulu kamu terkenal nakal dan berani mati. Kumis harimau saja berani kamu cabut waktu itu, beruntung kamu anak harimau yang kamu bawa pergi meninggalkan pesan. Kalau tidak, perutmu akan membesar seperti bukit. Kamu percaya itu kan?" Ipoy mendengus.


Badan Sasan basah oleh keringat dingin. Waktu itu dia tak ada punya kepikiran sama sekali akan hukuman Ipoy. Yang dia percayai, jika dirinya pergi jauh dari kampung kelahirannya membawa Lala, santet Ipoy tak akan bisa mengenai dirinya.


Tetapi dari apa yang diucapkan Ipoy barusan, kepercayaan Sasan runtuh dan dia bersyukur Lala sempat meninggalkan pesan, kalau tidak akan bahaya jadinya.


"Apa mulutmu masih kaku? Perlu bantuanku?" Ipoy menatap bengis.


"Tak perlu Mang. Sejujurnya aku menyimpan rasa kecewa, karena kerja keras dan kasih sayangku terhadap Lala mengalami kegagalan. Lala tak hanya pergi dariku, tetapi Suta yang menjadi jagoan kecilku ikut dibawanya. Itu jawaban hatiku, Mang!"


"Ya, kamu bicara jujur. Manusiawi jika kamu merasa kehilangan Lala. Seperti aku yang mempunyai perasaan yang sama ketika Lala kamu bawa pergi. Tetapi setelah dipikir-pikir, setiap orang itu hidup untuk menyongsong takdir dan nasibnya. Setiap detik nasib akan berubah, bisa jadi baik bisa jadi buruk. Jika ada yang mengeluh nasib begitu-begitu saja, mungkin dia mempunyai sifat malas atau tak mau bersabar menunggu hasil. Menanam padi saja tak langsung jadi!"


Sasan mengangguk. Dia temukan sisi lain dari Ipoy. Dibalik keangkeran Ipoy ternyata ada pula sisi kebaikannya.


"Aku tak bisa memuji diriku itu orang baik. Bahkan aku bisa berkata, aku ini orang yang sangat jahat. Hatiku lebih banyak berwarna hitam dibanding putih. Hanya saja, setitik warna putih itu telah membuatku sadar, hari tua akan segera berakhir dan tak ada salahnya mengganti warna hatiku. Kamu tunggu di sini sebentar!" Ipoy bangkit dari duduknya, lalu dia berjalan masuk ke dalam rumah.


Sasan duduk termenung seorang diri di teras rumah Ipoy. Namun saat matanya bentrok ke arah luar rumah, buru-buru dia tundukkan kepala. Karena di luar pagar rumah Ipoy tampak beberapa orang dengan mata tak senang sedang menyorot ke arahnya.


Dalam hati, Sasan berharap Ipoy segera keluar rumah dan dia akan minta tolong Ipoy untuk diantar sampai batas teraman. Dia tak berani berpisah di batas kampung, karena takut ada penduduk yang bersembunyi di sekitar mulut hutan yang menjadi batas.


Kampung kelahiran Sasan dikelilingi hutan. Hanya saja hutan yang harus dilewatinya untuk bisa sampai ke desa terdekat tak terlalu jauh jaraknya, dia hanya perlu melangkah sejauh satu kilo untuk bertemu dengan desa tetangga. Kecuali hutan yang di dekat bukit itu luas dan panjang areanya.

__ADS_1


Sekitar lima menit yang seakan lima jam bagi Sasan, Ipoy keluar dari rumah. Di tangan kiri Ipoy terlihat bungkusan hitam.


Ipoy duduk di tempatnya kembali, lalu dia membuka bungkusan hitam yang ternyata berisi dua macam benda. Satu kalung dengan sebuah mutiara hitam sebagai liontin dan sebuah tasbih terbuat dari batu giok putih kehijau-hijauan.


"Bawa ini dan berikan pada Dina!" Ipoy bungkus kembali benda yang barusan dia perlihatkan pada Sasan.


"Dina anakku dengan Endah, Mang?" tanya Sasan sambil menerima bungkusan yang disodorkan Ipoy.


"Masukan dulu bungkusan itu ke kantongmu!"


Sasan menurut. Dia membawa tas pinggang kecil yang tak pernah dilepaskannya sejak pergi dari rumah Medi. Bungkusan itu pun disimpan di dalam tas.


"Kamu tak perlu cari Dina sekarang, karena belum waktunya. Tetapi setelah usia Dina melewati usia tujuh belas, kamu harus lelahkan diri mencari dia. Telusuri setiap jalan yang sekiranya kamu mempunyai firasat keberadaan Dina, apa kamu mengerti?" tanya Ipoy.


"Saat ini Dina tak punya kekuatan untuk bisa menolong Abay dari jeratan jin ular. Jadi percuma kalau kedua benda itu diberikan pada Dina," ucap Ipoy seakan tahu isi hati Sasan.


"Apa Mang? Abay bersekutu dengan jin ular?" Sasan hampir saja mau meloncat berdiri dari duduknya.


"Di dekat batu besar di dalam hutan, terdapat kerajaan jin ular. Karena itu penduduk kampung tak ada yang berani masuk ke dalamnya. Kang Entis, Endah dan Idang sudah jadi korban dari jin ular tersebut. Hanya Dina yang selamat. Kalau saja aku tak cepat umumkan pada penduduk kampung tentang keberadaan kerajaan jin ular, akan ada korban yang lain. Tetapi aku tak bisa melarang warga lain untuk datang dan membuat perjanjian dengan pihak jin tersebut!" tutur Ipoy yang juga memberikan keterangan kematian tiga warga kampung yang semuanya dikenal Sasan.


Terlebih Endah, tak hanya dikenal Sasan belaka. Karena wanita itu pernah menjadi bagian dari hidup Sasan, dia pun pernah menyakiti hati dan menikmati tubuh Endah hingga terlahir Dina.


Sasan tak kuat hatinya, dia pun jatuh pingsan. Tetapi Ipoy biarkan saja Sasan terbangun sendiri.

__ADS_1


*


Abay dan yang lainnya telah pulang dari mengantar jenazah Santi ke rumahnya yang terakhir, rumah yang berukuran sebujur tubuh, tempat di mana setiap insan hidup akan kembali. Tanah bertemu tanah.


Di rumah, Abay tak langsung berkumpul dengan pengantar yang lain yang sedang berkumpul untuk bersantap siang bersama-sama. Para ibu yang tak berangkat mengantar menyibukan diri memasak seadaanya untuk makan siang para pengantar yang meluangkan waktunya.


Abay masuk ke dalam rumah untuk membersihkan diri. Dia merasa lelah berperan sedih sepanjang pagi sampai tubuh Santi tertutup tanah merah. Tetapi dia masih punya peran lainnya yang sebentar lagi akan dia tunjukkan pada Wati dan Sanusi kedua orang tua Santi yang juga mertuanya.


Begitu Abay selesai memakai baju setelah mandi, dia bertemu Dina yang digendong Wati. Bocah itu tak ikut pergi ke kuburan karena Abay melarang.


Larangan itu karena mengingat Dina pernah berkata ada ular besar di dalam kuburan ibu sambungnya. Kejadian itu ketika Dina berusia sekitar empat tahun dan ibu sambungnya yang sebelum Abay menikahi Santi.


Sebab hal itu Abay tak mau Dina membuat orang-orang panik, takut anak itu berkata akan ular besar.


Abay sendiri juga melihat kehadiran ular besar di dalam kubur. Waktu mayat Santi ditaruh, dia melihat ular besar melingkari mayat Santi, lalu menghilang ketika azan terakhir dilantunkan di telinga Santi.


Tentunya bukan Abay yang berinisiatif mengumandangkan azan, dia beralasan suaranya serak dan tak akan enak didengar.


Setelah azan berakhir, Abay menyaksikan ular besar itu kembali hadir dan membelit tubuh Santi, seakan ular itu menjadi teman tidur panjang Santi. Yang Abay tahu, ular itu memastikan tak ada orang yang mengusik tubuh Santi.


"Bu, aku mau bicara penting...."


"Papa makan dulu, yuk!" ajak Dina.

__ADS_1


__ADS_2