ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 101


__ADS_3

Suta dengan langkah santai berjalan kaki, pulang menuju rumah Wati. Kurang lebih tinggal 50 meter lagi. Sekitar 30 meter mendekati gang masuk rumah dan sisa 20 meter dari mulut gang sampai rumah.


Lampu jalanan sedikit temaram, mungkin karena kabut bekas hujan yang belum menghilang sepenuhnya.


Genangan air di jalan terbilang cukup banyak, meski kecil-kecil diameternya, tetap merepotkan Suta, yang berjalan hati-hati menghindari genangan air.


Sebuah lampu motor menyorot dari arah depan Suta. Motor yang baru keluar dari dalam gang rumah Wati.


Seharusnya motor itu melaju pergi entah ke mana, tetapi tidak. Motor itu malah mengambil arah berlawanan dan berhenti tepat di depan Suta.


"Oh, Pak RT Andi," sapa Suta pada sosok pria bertubuh gemuk dan mungil. Namun memiliki wibawa yang cukup besar.


Pria berusia kisaran 40an itu menatap sedih Suta. Wajahnya yang terbilang bersih tanpa kumis dan jenggot itu, sedikit terlihat tegang dan panik.


"Kamu baru pulang?" tanya Andi.


"Iya, Pak. Tadi hujan lebat, jadi mampir di rumah teman," jawab Suta yang sudah menganggap Yuri sebagai temannya.


"Pantas kalau kamu belum tahu." Andi anggukkan kepalanya.


"Belum tahu apa Pak RT?" Suta sedikit cemas. Perasaan tak enak dalam hatinya muncul.


"Oma Wati jatuh sakit. Dia tak mau dibawa ke rumah sakit dan aku mau panggil dokter. Kamu...."


"Pak RT, aku pulang duluan!" potong Suta yang ikut panik. Lalu dia berlari secepat yang dia bisa.


Andi menengok ke belakang sejenak, lalu dia nyalakan lagi mesin motornya dan melaju untuk menjemput dokter jaga 24 jam.


Suta terus berlari dan berlari. Meski jarak 50 meter itu dekat, tapi bagi Suta cukup jauh dan panjang. Karena hatinya merasa sangat tak enak.


Wati sudah berusia tua, sudah 69 tahun. Meski Wati bukan nenek kandungnya, tapi bagi Suta sudah mewakili kasih sayang seorang nenek yang dia harapkan.


Begitu sampai depan pagar rumah, Suta malah berdiri bengong.


Suta tak melihat ada keramaian di rumahnya. Pintu rumah memang terbuka lebar. Tetapi terlihat sepi tak ada orang.


Jika benar kata bapak RT Andi itu Wati sakit, mengapa tak ada tetangga lain yang datang. Di rumah kan hanya ada Wati dan Ami. Minimal keluarga Maya yang sudah dekat dengan Wati datang.


Namun sayup-sayup telinga Suta mendengar suara tangis dari rumah. Saat dia melangkah masuk melewati pagar, dia melihat Dayat pria bertubuh gemuk ayahnya Maya berdiri di depan pintu rumah.

__ADS_1


"Hei, Suta darimana saja kamu. Cepat masuk, Oma Wati sedang menunggu dirimu!" teriak Dayat.


Suta tak ragu lagi. Dia percepat langkah kakinya. Melepas sendalnya di batas teras. Lalu naik ke teras dan menerobos masuk. Dayat sudah duduk lagi di kursi ruang tamu.


Suta terus masuk ke kamar Wati yang berada di paling depan. Di belakang ruang tamu lebih tepatnya.


Di depan pintu kamar, Suta melihat Wati terbaring lemah di atas kasur. Wajah Wati terlihat lebih putih dari biasanya dan matanya terpejam.


Duduk di tepi pembaringan wanita setengah baya yang memiliki persamaan dagu dan mulut dengan Maya. Marina, ibunya Maya.


Lalu ada Ami yang duduk di kursi plastik bakso dengan Maya berdiri di samping Ami. Maya membiarkan Ami menyandarkan kepala di tubuhnya.


"Oma," panggil Suta.


Semua kepala menengok.


Marina berdiri, membiarkan Suta datang mendekati Wati.


Suta duduk berlutut di tepi pembaringan. Dia genggam tangan Wati dan memanggil nama Wati beberapa kali. Hujan air mata membasahi wajahnya.


"Oma, bangun Oma. Jangan tinggalkan aku!" isak Suta.


Wati perlahan-lahan membuka matanya. Dia melihat Suta yang menangis dan menciumi tangannya.


"Suta, Oma belum mati. Oma menunggu Dina," jawab Wati pelan. Lalu dia menutup matanya lagi.


Suta yang mengangkat kepalanya dari tangan Wati yang diciuminya, hanya sempat melihat senyum kecil Wati sebelum tertidur lagi.


*


Dina baru saja selesai mengaduk kopi untuk Sasan. Lalu membawanya keluar dari dapur yang kecil, untuk diberikan pada Sasan yang sedang duduk menonton televisi.


Hanya dengan tangan, Dina membawa gelas kopi itu. Tak memakai nampan atau alat bantu lain.


Namun tiga langkah lagi Dina akan mendekati Sasan. Mendadak dia menjerit dan menjatuhkan gelas kopi dari tangannya.


Suara pecahan gelas bertemu kerasnya lantai terdengar. Serpihan kaca gelas berhamburan ke mana-mana. Air kopi yang masih panas pun menyebar di atas lantai, membuat genangan air dan meninggalkan noda ampas kopi.


Pecahan kaca dan percikan air kopi yang panas pun mengenai kaki Dina yang saat itu hanya memakai celana sepanjang betis.

__ADS_1


"Dina kenapa?" tanya Sasan melompat bangun.


"Aku teringat Oma Wati, Pak," jawab Dina pelan, lalu berjalan ke arah kamar mandi guna membersihkan kakinya yang terkena cipratan air kopi.


"Kamu ambil wudhu dan tenangkan hatimu. Biar pecahan kaca gelas, Bapak yang urus!" seru Sasan dengan nada tinggi.


"Iya, Pak," jawab Dina tanpa gairah.


*


"Motornya kenapa Pak?"


Abay mengangkat kepalanya. Dia berhenti karena motornya mendadak mogok. Saat ini dia berhenti di depan sebuah rumah, di gang perumahan yang sepi karena habis hujan.


Seorang pria seusia dirinya dan tampaknya pemilik rumah datang menghampiri. Pria itu memiliki jenggot kambing yang cukup lebat dan memakai peci warna putih dan baju koko serta sarung hitam.


"Nggak tahu nih, Pak. Tiba-tiba saja mogok," jawab Abay jujur sambil berdiri dari jongkoknya.


"Begitu ya, bawa masuk saja ke dalam halaman rumahku, Pak. Itu motornya, nanti biar aku lihat bisa nggak ya dibenerin."


"Apa Bapak bisa?" tanya Abay agak ragu.


"Kebetulan bengkel di seberang mulut gang itu punyaku, Pak. Tetapi memang aku tutup sore. Nah, setelah kita pergi tahlilan, baru kita ke bengkel ya, Pak."


"Kita tahlilan, maksud Bapak... aku diajak?" Abay menatap tak percaya.


"Iya, Pak. Kenapa apa Bapak tak pernah tahlilan?"


"Oh, pernah Pak. Tapi...."


"Kalau begitu, ikut saja dulu Pak. Tak lama kok. Mari, aku bantu bawa motornya ke dalam!"


Abay bengong. Dia seperti terkena hipnotis dan membiarkan motornya di bawa masuk ke dalam rumah.


Hingga Abay juga tak mengerti, mengapa dia menurut saja saat dirinya diajak pergi ke sebuah rumah yang sudah dipenuhi orang-orang.


Abay pun tak bisa lagi pergi ke mana-mana, dia ikut duduk bersila di samping si bapak yang masih asing baginya itu.


Pelan-pelan mulut Abay ikut melantunkan ayat Al Fatihah yang sudah cukup lama dia tak bacakan.

__ADS_1


Hati Abay menangis dan setetes air matanya turun.


__ADS_2