
Dina merasa sumpek berada di dalam kamarnya. Saat dia melirik jam dinding di tembok dekat pintu, jam 4 pagi tepat. Sayup-sayup terdengar suara rekaman mengaji dari toa musholla dekat rumah.
Kaki Dina menjejak lantai kamar, dia terus saja melangkah keluar rumah. Sempat berhenti sejenak menatap pintu kamar Ami dan Wati. Tetapi tak lama, dia telah berada di pintu rumah.
Begitu pintu terbuka, angin berhembus membelai tubuh Dina. Dingin.
Namun mata Dina menyorot tajam, melihat sosok asing berdiri di depan pagar rumah.
Dina adalah Dina, dia bukannya bergerak masuk ke dalam rumah dan menutup pintu, malah dia berjalan ke arah pagar. Bertemu dengan si pria asing.
Ada yang aneh.
Hati Dina mendadak berdebar kala melihat wajah si pria asing. Wajah yang terasa tak asing baginya, sosok yang terasa dekat.
Tetapi Dina percaya dan yakin, dia belum pernah bertemu si pria asing, yang berdiri dengan wajah takjub di depan pagar rumah.
Pria itu Sasan.
Jika Dina merasa aneh melihat Sasan, maka Sasan berbeda.
Sasan terpesona, dia terpaku menatap Dina. Hatinya langsung menjerit.
"Oh, apa ini anakku? Dia... dia... dia mirip Endah!" Hati Sasan mengalami gejolak emosi yang aneh.
Ekspresi wajah Sasan pun sukar dilukiskan kata-kata.
"Maaf, Bapak cari siapa?" tanya Dina menegur Sasan.
Sasan tak membuka mulutnya. Dia masih takjub.
Dina berdahem.
"Oh, Endah!" seru Sasan mendadak.
"Bapak mencari Endah? Maaf, disini tak ada yang bernama Endah. Sepertinya Bapak salah alamat," jawab Dina sopan.
"Bukan, bukan!" Sasan cepat menggeleng.
"Bukan apa Pak?" Dina kerutkan keningnya.
"Alamat sudah benar, sesuai dengan pesan yang aku dapat. Tetapi yang aku cari itu seorang gadis bernama Dina," ucap Sasan.
"Dina?" Dina menyebut namanya sendiri.
"Iya, apa kamu bernama Dina?" tanya Sasan memastikan.
Dina mengangguk. Sikap waspadanya timbul. Namun hatinya seperti merasa ingin dekat pada Sasan.
"Ah, kebetulan kalau begitu. Ayo, kita pergi sekarang," ajak Sasan.
"Bapak mau menculik aku?" tanya Dina dengan wajah tegang.
"Bukan, bukan!" Sasan menggoyangkan jarinya. "Bukan menculik dirimu, tetapi mengajakmu bertemu Nini Ai."
"Nini Ai? Siapa dia?" tanya Dina curiga.
__ADS_1
Sayang Sasan tak sebut ciri-ciri khas Nini Ai. Kalau saja dia sebut Nini Ai punya tanda lahir di kening, Dina akan segera teringat.
Dina lupa pada Nini Ai. Dia pernah bertemu nenek itu di waktu yang lalu, sudah lama. Karena itu dia tak teringat lagi.
"Nini Ai ya Nini Ai. Kamu eh aku disuruh bawa kamu ke hadapannya," ucap Sasan.
"Maaf, Bapak apa punya niat jahat padaku?" tanya Dina menyelidiki.
Azan subuh terdengar.
Sasan dan Dina tanpa dikomando sama-sama mengucap doa, bersyukur dengan datangnya waktu beribadah.
Dina tanpa bicara memutar tubuhnya, dia bermaksud untuk masuk ke rumah dan meninggalkan Sasan, si pria asing yang sampai detik ini belum dia kenal namanya. Sebab Sasan belum perkenalkan diri.
Melihat Dina mau masuk ke dalam rumah, Sasan kaget dan teringat pada surat yang diberikan Nini Ai.
"Dina tunggu dulu, ada surat untukmu!" Sasan keluarkan surat dari dalam saku kaosnya dan melambaikan di udara.
Dina menengok. Dia melihat surat yang melambai-lambai di udara. Lalu dia berbalik menuju Sasan.
Rasa penasaran atas isi surat yang membuat Dina mendekati Sasan.
Sasan berikan surat ke tangan Dina.
Dina merobek amplop surat. Dia mendapati selembar kertas aroma harum yang aneh. Tak bisa dipastikan, apa wangi bunga atau bau lainnya. Yang pasti, membuatnya lebih bersemangat.
Isi surat ternyata singkat.
'Ikutilah Ayah kandungmu, demi selamatkan Ayah tirimu dari jeratan manusia ular.'
Dina terbelalak matanya. Kedua indera penglihatannya bergantian menatap kertas surat dan wajah Sasan.
"Apa isi suratnya?" tanya Sasan.
Dina terdiam. Karena saat ini pikirannya sedang ruwet, kacau dan bingung.
"Jika betul dia Ayahku, siapa nama Ibuku?" tanya hati Dina lagi.
"Dina, apa boleh aku lihat isi suratnya?" tanya Sasan memohon.
Dina tersadar, lalu dia berikan kertas surat pada Sasan.
Ketika mata Sasan melihat rangkaian kata yang ditulis Nini Ai, dia lalu menatap Dina penuh haru.
"Ya, aku percaya kamu anakku!" sorak Sasan. "Wajahmu mirip Endah dan setelah aku perhatikan lebih lanjut, hidungmu mirip hidungku. Hidung Endah, Ibumu itu pesek," ucap Sasan tak bisa menutupi rasa girangnya bertemu dengan Dina.
"Apa betul Bapak itu Ayah kandungku?" tanya Dina.
"Katakan, apa kamu dibesarkan Abay?" Sasan malah bertanya pada Dina.
"Bapak kenal Papa Abay?" heran Dina.
"Ya, biarlah Abay kamu panggil Papa. Sementara aku lebih suka dipanggil Bapak olehmu," jawab Sasan.
Dina berkerut kening.
__ADS_1
"Kamu perlu tahu, Endah itu Ibumu... dia...." Sasan meragu untuk bicara terus terang. Karena Endah, ibunya Dina itu bukan istrinya. Sebab dia pergi meninggalkan Endah.
"Jadi nama Ibuku itu Endah dan nama Bapakku...." Dina menatap Sasan.
"Sasan. Nama Bapakmu yang tak bertanggung jawab ini Sasan. Ah, kalau kamu ingin tahu lebih banyak, sebaiknya ikut aku bertemu Nini Ai. Demi kebaikanmu juga. Selama perjalanan nanti, aku akan ceritakan semua padamu," ucap Sasan meminta Dina untuk ikut padanya, sekaligus berikan janjinya untuk bercerita.
"Apa sekarang kita perginya Pak?" tanya Dina.
"Ya, ya, ya...." Sampai tiga 'Ya' diucap Sasan. "Biar kita sampai di sana tak terlalu malam. Kalau berangkat sekarang, siang bisa sampai."
"Apa tak menunggu matahari terbit?" tanya Dina.
"Pesan Nini Ai, sebelum matahari bersinar terang, kita harus pergi dari rumah ini. Oya, satu hal lagi... tak perlu bicara pada orang rumah. Karena takut tak diijinkan. Jika kamu tak ikut sekarang, masa depan bisa saja buruk."
Dina tergugah, karena dalam surat tertulis kalimat 'Selamatkan Ayah tiri dari manusia ular'. Jika begitu, kepergian dirinya bersama Sasan berkaitan dengan keselamatan Abay.
"Baiklah, Bapak tunggu di sini. Aku mau ambil baju secukupnya."
Abay mengangguk.
"Oh, sebentar!" Dina yang sudah melangkah pergi itu, berhenti dan membuat posisinya berhadapan dengan Sasan sekali lagi.
"Apa kamu mau ada yang ditanyakan?" tanya Sasan.
"Kira-kira berapa lama aku harus tinggalkan rumah ini?" tanya Dina.
Beruntung Nini Ai memberikan kisi-kisi pada Sasan, hingga dengan cepat Sasan bisa menjawab pertanyaan Dina.
"Menurut Nini Ai, saat usiamu 17 tahun. Dan aku... aku punya hadiah untukmu dan itu harus diberikan saat usiamu 17 tahun," jawab Sasan yang teringat pesan Ipoy, pamannya Lala.
"Kalau begitu sekitar dua tahun," lirih Dina yang sudah memutar tubuhnya lagi guna berjalan masuk ke dalam rumah.
Anehnya, ketika Dina masuk ke dalam rumah. Dia tak mendengar suara berisik Wati yang biasanya terbangun di waktu subuh. Bahkan dia merasa suasana teramat hening.
Sesampainya di dalam kamar, Dina mengambil tas ransel dan mengeluarkan isinya berupa buku pelajaran sekolah. Lalu dia masukan beberapa lembar pakaian dan sejumlah uang ke dalam tas.
Saat mau keluar dari dalam kamar, Dina melihat buku tulisnya terbuka. Melihat itu, dia teringat untuk menulis surat pendek untuk Wati.
***
Pagi telah tiba.
Ami berdiri di depan kamar Wati. Dia ketuk kamar neneknya itu.
Wati membuka pintu kamar, terlihat dari wajahnya dia baru bangun.
"Nek, aku berangkat!" Ami mencium tangan Wati.
"Apa Dina sudah pergi?" tanya Wati.
"Sudah kali, aku tak lihat!" Ami terus saja berjalan keluar rumah.
Sesampainya di luar rumah, Ami bertemu Suta.
Sayangnya, Suta tak bertemu dengan Sasan ayah kandungnya. Kalau tidak, mungkin dia bisa meredam hasrat cintanya terhadap Dina jauh lebih cepat.
__ADS_1
"Dina ada kan Kak?" tanya Suta pada Ami.
Mendadak terdengar teriakan panik Wati dari dalam rumah.