ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 42


__ADS_3

"Suara teriakan apa itu?" tanya seorang satpam yang di dadanya tertulis bordiran nama Toto Suroto. Dia naik di satu motor dengan tulisan patroli di badan motor.


"Sepertinya dari rumah Kang Abay, kita ke sana!" ajak Hasan, teman seprofesi Toto di motor satunya.


Mereka berdua sedang patroli dan secara tak sengaja bertemu di tengah jalan gang rumah Abay yang lebarnya bisa dilalui dua mobil.


"Ayo, ke sana!" Toto setuju.


Sementara itu di dalam kamarnya, Poppy tak sanggup untuk berdiri. Dia jatuh terduduk dengan mata tak berkedip menatap ular besar berwarna hitam yang berada di kamarnya. Tetapi bukan ular sejati, karena kepala ular itu berbentuk kepala wanita cantik.


Sebelum terduduk tadi, Poppy sempat berteriak dan di dengar kedua satpam kompleks yang sedang patroli.


"Hihihi, darah segar!"


Poppy kembali berteriak, karena ular berkepala manusia itu menyerang ke arahnya dan menggigit perutnya sampai robek besar.


Mata Poppy sebelum benar-benar terpejam, masih melihat janin bayinya yang masih berupa gumpalan daging itu ditelan mentah-mentah si wanita ular. Setelahnya, pandangan matanya gelap dan tak akan lagi cahaya yang bisa dipandangnya, terutama wajah Ami hanya akan menjadi kenangan, berikut Abay dan orang-orang lain yang dikenalnya. Selanjutnya mereka akan bertemu di akhirat nanti. Kecuali Abay yang jika tiba waktunya nanti, akan bisa ditemuinya di kerajaan Nyi Malini, sama-sama menjadi budak.


"Toto, cepat buka pagarnya!" seru Hasan


"Nggak bisa, digembok!" geleng Toto.


"Manjat pagar aja apa?" tanya Hasan.


"Memangnya kita maling?' Toto meragu.


Saat mereka berdua sedang berdebat, saat itu juga mereka mendengar teriakan Poppy lagi. Kali ini teriakan yang terakhir.


"Eh, ini ada kejadian ribut antar Kang Abay sama istrinya atau apa, ya?" tanya Toto semakin ragu untuk panjat pagar. Kalau masalah rumah tangga kan tak enak ada campur tangan orang ketiga yang tak diundang datang.


"Coba telepon Kang Abay. Kamu kan dekat tuh sama dia!" saran Hasan. "Biar aku hubungi Komandan jaga Bang Rey."


Toto setuju, cepat dia keluarkan ponselnya dan menelepon Abay.


Sementara Hasan sedikit menjauh untuk menelepon Rey, ketua regu mereka berdua malam ini. Biar tak terlalu bising dan tumpang tindih suaranya dengan Toto yang menelepon Abay.


Keduanya nyaris berbarengan menutup telepon.


"Kang Abay lagi tak ada di rumah," ucap Toto tanpa diminta.

__ADS_1


"Bang Rey suruh kita menunggu dia datang," balas Hasan memberi keterangan.


Keduanya pun menghela napas dan menunggu. Sampai Hasan membuka menu senter di ponselnya dan menyorotkan ke arah taman rumah Abay. Tampak ekor ular sebesar tiang listrik bersisik hitam tersorot, sementara badannya sepertinya berada di dalam semak-semak bunga. Ketika tersorot cahaya ekor ular itu pun menghilang masuk ke rimbunnya bunga.


Taman bunga di rumah Abay termasuk rapat dan rimbun bunganya. Hingga cocok menjadi tempat persembunyian ular.


"Ih, ular gede jasa!" seru Hasan kaget dengan logat khas Tangerang-nya.


Toto juga ikut berseru sambil menunjuk ke arah teras rumah.


"Tuh, ada banyak juga!' teriak Toto.


"Gelo, ada tiga ekor ular segede betis. Apa tadi istrinya Kang Abay melihat ular, ya?" tanya Hasan ke Toto.


"Mana aku tahu!" Toto menggeleng.


Mobil losbak bertuliskan patroli pun tiba. Ada dua orang keluar dari kursi supir dan penumpang, sementara ads dua lagi yang turun dari bak mobil yang dipasang dua kursi kayu saling berhadapan. Keempatnya serupa dengan Toto dan Hasan seragamnya.


"Kita naik saja, tadi aku sudah telepon Kang Abay. Dia sedang di rumah Pamannya dan on the way ke mari," ucap Rey dengan suaranya yang berat.


"Ngeri ah, Bang. Ada ular di teras rumah!" seru Toto.


"Bohong kalian, mana tak ada ular di teras!" bentak Rey yang melihat ke arah teras.


Teras rumah Abay dari luar pagar bisa terlihat jelas. Di tambah di teras rumah hanya ada kursi dengan kolongnya yang luas dan tak ada halangan yang menutup pandangan mata. Jadi tak ada ruang bagi ular untuk bersembunyi.


Toto dan Hasan saat memberikan keterangan pada Rey membelakangi rumah. Karenanya mereka pun berputar badan dan menatap ke teras. Keduanya pun kaget, tak ada satupun ular di teras.


"Ayo, cepat naik pagar. Kita dobrak pintu rumah. Kata Kang Abay, istrinya sedang hamil muda. Takutnya malam ini keguguran, makanya tadi berteriak. Kalau kehabisan darah kan bahaya bagi Ibunya juga!" Rey sampai keluarkan nada tinggi agar anak buahnya mau cepat bergerak.


Rey sendiri tak bisa ikut naik memanjat, karena tubuhnya lebih besar dari kelima anak buahnya yang bertubuh ramping dan gagah. Apalagi perut Rey yang seperti panci besarnya.


Toto dan Hasan naik lebih dulu, disusul ketiga temannya yang lain.


"Cari kunci gembok, ya!" pinta Rey sebelum anak buahnya bersama-sama pergi menuju ke pintu rumah Abay.


*


Abay menatap Garini yang menjaga dirinya di kamar rahasia di rumah yang diakuinya sebagai rumah Ki Jabaya.

__ADS_1


Garini duduk dalam posisi menantang, tetapi Abay tak bangkit gairahnya.


Pikiran Abay sedang tertuju pada anak yang berada di perut Poppy. Anaknya yang tak bisa dilihat bentuk rupanya karena masih berupa daging di rahim ibunya.


Bendungan mata Abay pun sudah bocor sejak tadi. Tetesan air matanya pun menuruni tebing pipinya membentuk garis air yang jelas terlihat.


"Hihihi, apa yang kamu tangisi Abay?" tanya Garini.


Abay menutup mulutnya.


"Apa kamu tak rela kehilangan istrimu?"


Abay masih tak mau menjawab, malah kepalanya tertunduk, enggan menatap Garini yang tubuhnya dapat terlihat jelas meski memakai gaun tidur. Bahan kain yang dipakai Garini itu menerawang, kulit putih tubuhnya tak akan sanggup tertutup kain transparan yang dipakainya.


"Seharusnya kamu tahu, dengan menjadi hamba bagi Nyi Malini resiko seperti ini akan terjadi."


"Aku sudah tahu itu!" sahut Abay tanpa mengangkat kepalanya.


"Lalu kenapa kamu sedih dan terkesan tak rela? Apa kamu sungguh mencintai istrimu? Apa kamu tak mencintai kami? Maksudku, Nyi Malini sebagai istrimu, lalu aku dan yang lainnya sebagai gendak atau selir bagimu? Sesungguhnya kamu beruntung Abay, ada banyak wanita dari kalangan kami yang bergantian melayani dirimu!" Garini tertawa.


"Aku tak terlalu mencintai Poppy, karena aku sudah menetapkan dia sebagai tumbal. Hanya saja, di perut Poppy ada anakku. Anak kandungku yang aku rindukan. Dina bukan anakku!" seru Abay dengan kepala terangkat.


"Oh, tentang anak! Hihihi, biarlah kamu bertemu dengan anak kandungmu!" Garini bertepuk tangan tiga kali, lalu berdesis menyebut sebuah nama.


Perlahan-lahan di hadapan Abay muncul bocah kecil yang terlihat manis dan lucu, tetapi seluruh tubuhnya bersisik ular.


"Ada apa Ibu memanggilku?" tanya bocah manusia ular itu pada Garini.


"Garisa, temui Ayahmu. Ayah Abay!" Garini menunjuk ke Abay.


Mata Abay melotot menatap Garini dan Garisa bergantian.


"Oh, ini Ayahku?" Garisa tertawa kecil.


"Iya, temui dia!" seru Garini.


"Nanti saja Ibu, aku sedang bermain dengan yang lain. Selamat tinggal Ayah!" Garisa melambaikan tangan ke Abay, lalu menghilang.


Ketika itulah Abay mendapat telepon dari Toto yang menanyakan dirinya ada di mana.

__ADS_1


__ADS_2