
Dina tak ada maksud untuk menguping. Tetapi ucapan Sanusi dan Wati yang membujuk Ami itu sangat keras. Sampai dia kaget sendiri, karena Ami berkata mau pergi saja dari rumah.
"Tidak, aku mau tinggal di jalan saja! Buat apa aku bertahan di sini? Kalau Dina yang tak ada hubungan darah sama Opa dan Oma mendapat kasih sayang yang berlebih dariku? Dina masih punya Papanya yang bisa datang ke sini menemuinya, sementara aku... Mamaku di Kuwait? Kuwait kan jauh!" seru Ami keras.
"Kami tak membeda-bedakan kamu dan Dina, Ami," ucap Sanusi berusaha sabar.
"Iya kah? Buktinya tidak begitu Opa! Tadi sore saja waktu Opa pergi ke musholla, Oma ke kamar Dina. Padahal aku yang sedang sedih, ponselku hancur." Ami menangis lagi.
Sanusi menatap Wati, seakan menyesali kepergian Wati ke kamar Dina.
Wati membuang napas berat.
"Aku pergi saja!" raung Ami.
"Baik, kalau kamu mau pergi dari rumah ini, bawa semua barang-barangmu! Cepat!' bentak Sanusi yang mendadak emosinya naik.
Ami sampai gemetar tubuhnya mendengar bentakan Sanusi.
"Jangan!" teriak Wati dan Dina.
Dina yang berdiri di luar kamar Ami pun masuk ke dalam kamar Ami. Dia cepat memeluk Ami.
"Buat apa peluk-peluk gue? Pergi lo!" Ami dengan kasar mendorong tubuh Dina.
Tetapi tubuh Dina seperti ular saja yang belitannya sulit dilepaskan. Tubuh Dina menempel di badan Ami.
"Kak Ami, aku minta maaf ya. Aku sudah menelepon Papa, meminta dibelikan ponsel terbaru buat Kak Ami. Yang sama dengan yang hancur itu. Kak Ami pokoknya jangan pergi dari sini!" bujuk Dina.
"Kalau dia mau pergi, pergi saja! Opa sudah tak tahan dengan rengekannya." Sanusi ikut berbicara.
"Opa, kasihan Ami! Jangan usir dia!" pinta Wati.
"Siapa yang usir dia, Oma. Kan dia sendiri yang katanya mau tinggal di jalan! Apa dia pikir hidup di jalan itu enak? Bisa susah makan, mandi dan tidur dia! Sekolah terbengkalai dan akhirnya mau jadi apa? Gembel!" ucap Sanusi uring-uringan.
"Tidak Opa, Kak Ami itu cuma emosi. Dia tak akan pergi dari rumah, kok. Betul kan Kak Ami?" tanya Dina.
Tadinya Ami ingin membantah Dina. Tetapi dia berubah pikiran.
"Dina, lepaskan aku!" pinta Ami lembut.
Dina lepaskan pelukannya.
Ami terus berjalan ke arah Sanusi. Dia berhenti, lalu mencari tangan Sanusi untuk diciumnya.
__ADS_1
"Opa, Ami minta maaf. Tadi aku kesal dan cemburu, marah pada Dina. Sekarang Dina sudah minta maaf, aku juga sudah memberi maaf padanya. Sekarang aku minta maaf pada Opa, mau kan maafkan aku?" ucap Ami tanpa berani menatap wajah Sanusi. Tetapi setelahnya senyum sinisnya muncul.
"Ya, Opa maafkan! Opa juga minta maaf, tak ada maksud mengusirmu. Tetapi kamu harus janji, jangan pernah berkata mau pergi lagi dari rumah ini dan memilih tinggal di jalan. Ini rumahmu saat ini, begitu juga besok-besok akan tetap menjadi rumahmu." Sanusi mengelus-elus bahu Ami.
"Iya, aku janji Opa!" Ami mengangguk, selanjutnya dia berdiri di depan Wati dan mengucap maaf.
"Karena semua sudah saling memaafkan, ayo kita makan malam dulu!" seru Wati.
"Memangnya Oma masak apa?" tanya Sanusi.
"Waduh, lupa... hari ini malas masak, cuma nasi aja yang dimasak. Mau beli makan apa ya?" tanya Wati.
"Sate kambing," jawab Dina.
"Aku minta sup kambing," ucap Ami.
"Opa, terpaksa nih bikin repot!" Wati pun mengajak Sanusi untuk pergi membeli sate dan sup kambing.
Di rumah pun hanya tinggal Dina dan Ami. Keduanya baru saja melepas kepergian Sanusi dan Wati di teras rumah.
"Lo dengar kan tadi apa kata Opa?" tanya Ami yang wajahnya kembali kaku saat menatap Dina.
"Kata yang mana ya Kak?" Dina balik bertanya.
"Tentang rumah ini rumah gue saat ini dan masa depan nanti. Jadi lo harus turut apa kata gue, kalau masih mau tinggal di sini. Kalau membantah, mending lo ikut sana sama Papa lo atau tinggal di jalan. Ingat ya, Dina... lo nggak punya hak di rumah ini. Kehadiran lo di sini juga karena Opa sama Oma kesepian."
"Hehehe, sampai kapan pun lo nggak akan menang lawan gue!" seru Ami sombong.
Dina menunduk, segan menatap sorot mata Ami yang takabur.
"Gue tunggu dalam waktu tiga hari ponsel pengganti itu sampai ke tangan gue, kalau nggak gue buang baju lo!" Ami mencolek pipi Dina.
Lalu dengan suara tawa kemenangannya, Ami berjalan masuk ke dalam rumah. Tetapi mendadak dia menjerit saat melewati kursi ruang tamu.
Dina yang kebetulan ikut berjalan masuk, masih sempat melihat betis Ami dipatuk ular yang muncul dari kolong kursi.
"Kak Lika!" jerit Dina.
Beruntung saat itu Ami sedang mengerang kesakitan, hingga dia tak begitu mendengar jeritan Dina barusan.
"Aduh, kaki gue sakit!" Ami meringis dan melihat ke arah betis kirinya yang biru dan membengkak.
Tak ada tanda-tanda bekas gigitan ular Bwalika di kaki Ami. Tetapi Dina yakin, biru dan bengkaknya kaki Ami itu ulah dari Bwalika
__ADS_1
Dina memburu ke arah Ami.
"Kak Ami kenapa?" tanya Dina.
"Pakai nanya lagi lo? Punya mata kan? Gue jatuh, lihat tuh betis gue bengkak kayak gitu! Ini ulah lo kan? Dorong gue dari belakang?" ketus Ami yang main asal tuduh dan tak mau berpikir panjang.
"Eh, kaki Kak Ami panas banget!" Dina tak gubris ucapan Ami. Tetapi waktu itu tangannya memegang betis Ami dan dia rasakan suhu panas tinggi.
Entah terpengaruh oleh ucapan Dina atau tidak, Ami mulai merasakan dalam tubuhnya muncul hawa panas seperti orang sakit demam.
Saking panas suhu tubuhnya, Ami jatuh pingsan.
"Hihihi, biar tahu rasa dia!"
Dina tahu siapa yang tertawa dan bicara ketus, dia pun menengok ke sebelah kanannya. Tampak Bwalika berdiri melayang seruas buku jari tingginya dari lantai keramik.
"Kak Lika, bantu aku pindahkan Kak Ami ke kamar!" pinta Dina.
"Buat apa? Biarkan dia tidur di lantai saja!" Bwalika menggeleng.
"Kak Lika tolong aku! Kalau tak mau, jangan pernah temui aku lagi!" ancam Dina.
"Baik, baik. Aku tolong kamu!" Bwalika gerakan jarinya menunjuk ke tubuh Ami.
"Naik!" Jari Bwalika bergerak naik.
Tubuh Ami pun perlahan mengambang naik di udara.
"Jalan!" Jari Bwalika menunjuk ke arah kamar Ami.
Tubuh Ami yang melayang itu pun terbang menuju ke kamarnya. Dina dan Bwalika mengikuti dari belakang.
Begitu bertemu kasur, tubuh Ami perlahan-lahan turun dan terbaring di atas kasur.
"Apa Kak Ami akan baik-baik saja Kak?" tanya Dina ke Bwalika.
"Semestinya aku bikin jiwanya terikat di alamku. Hingga orang akan menyangka dirinya tak bisa sembuh dari rasa sakit dan mati dikubur hidup-hidup. Tetapi demi dirimu, aku hanya bikin dia menderita sakit selama satu minggu di kasur!"
"Aku kan sudah minta Kak Lika jangan berbuat apa-apa pada Kak Ami." Dina banting kakinya karena kesal.
"Susah-susah aku bekerja, tahunya hanya kena omel. Aku pergi!"
Bwalika pun menghilang dari hadapan Dina.
__ADS_1
*
"Oh, apa aku harus kehilangan anak kandungku?"