ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 117


__ADS_3

"Suta sekalian azan buat Oma Wati!" pinta Andi.


Di dalam kubur ada Suta dan dua orang penggali kubur. Mereka bertiga bertugas menerima jenazah Wati di dalam kubur.


Mayat Wati sendiri sudah dimiringkan dengan wajah mencium tanah.


Suta yang mendapatkan tugas menerima bagian tubuh Wati, lalu berjongkok di dekat kepala Wati.


Lantunan azan yang merdu terdengar. Suta sudah cukup sering menjadi muazin, saat sholat wajib maupun sholat sunah seperti tarawih.


Setelah Suta selesaikan tugasnya, dia disuruh naik oleh kedua orang penggali makam.


Selanjutnya papan-papan sama ukuran yang telah dipersiapkan diturunkan satu persatu ke liang lahat. Namun sebelum itu, mayat Wati diganjal dengan tanah merah yang dibulatkan hingga padat.


Detik-detik pemasangan papan, Ami mulai menangis. Begitu juga Dina, Maya, Meri dan yang lainnya. Termasuk Suta.


Hanya saja cuma Ami yang menangis sangat kencang di pagi yang berawan mendung.


Papan telah terpasang, jenazah Wati sudah tak terlihat. Namun belum cukup, karena tanah merah mulai diuruk menutupi papan dan mayat Wati.


Wati pun telah bersatu kembali dengan tanah dari mana dia berasal. Sampai tanah merah mulai naik tinggi, kedua penggali makam yang berada di bawah tadi, kini sudah meloncat ke atas.


Mereka lalu mengambil cangkulnya dan membantu kedua rekannya. Hingga dalam waktu yang terbilang singkat, kuburan Wati pun jadi. Tanah merah membumbung tinggi seperti bukit kecil.


"Oma." Ami mendadak menjatuhkan dirinya di depan papan nisan Wati yang baru dipasang.


Tangan Ami memeluk papan nisan Wati.


"Ami, biar kita berdoa dulu buat Oma Wati!" seru Andi.


Maya lalu bergerak untuk membangunkan Ami. Namun Ami hanya mau melepaskan pelukannya dari papan nisan Wati.


"Pak Ustad Sukirman, silahkan!" ucap Dayat.


Ustad Sukirman pun bersiap untuk memulai. Karena Ami berjongkok, yang lain pun ikut berjongkok, kecuali Ustad Sukirman yang berdiri seorang diri.


Setelah mengucap salam, Ustad Sukirman lalu berpesan sejenak.


"Bapak, Ibu dan keluarga yang ditinggalkan Oma Wati. Kita semua tahu, almarhumah merupakan wanita yang baik di masa hidupnya. Tak hanya mampu menjaga persaudaraan antara kita, tetapi juga mampu menjadi Kakak, Ibu dan Nenek bagi kita semua. Kita menghormati dan mencintai almarhumah. Karena itu saya meminta keikhlasan para Bapak, Ibu dan saudara sekalian untuk memberikan doa kepada Oma Wati," ucap Ustad Sukirman.

__ADS_1


'Doa yang kita panjatkan ini sebagai tanda kita mencintai Oma Wati, kita sayang padanya dan juga kita mengingat akan kebaikannya semasa hidup. Suatu hari nanti, kita pun akan kembali berkumpul tak hanya dengan Oma Wati, tetapi juga dengan keluarga dan orang-orang yang terdahulu. Karena yang hidup akan mati juga. Mari kita panjatkan doa dengan hati yang tulus dan ikhlas," lanjut Ustad Sukirman.


Setelahnya Ustad Sukirman pun mulai membacakan doa, yang diikuti dengan khusyuk dan khidmat oleh mereka yang hadir.


Hingga selesai berdoa, Maya pun menjerit pelan.


Ami yang berada tepat di sebelah kanan Maya, badannya lemas dan jatuh ke arah Maya.


Ami jatuh pingsan dan dengan sigap Suta membopong Ami. Suta cukup seorang diri.


Suta lalu membawa Ami keluar dari area kuburan, diiring yang lainnya. Cukup banyak orang yang ikut mengantar Wati. Tak hanya berasal dari warga satu RT, tetapi ada juga perwakilan RT lain satu RW dan dari RW tetangga.


Tua dan muda, pria dan wanita ikut mengantar kepergian Wati.


Kini semua pun bubar. Namun ada dua orang yang tertinggal. Satu Dina yang masih berjongkok di depan makam Wati, lalu satu orang lagi yakni Yuri yang berjalan mendatangi kuburan Wati.


Yuri berjalan dengan masih memakai seragam sekolahnya. Dia kabur dari jam sekolah, karena ingin ikut melihat proses pemakaman Wati. Namun yang benar, dia ingin melihat Suta.


Yuri yang mengintip dari kejauhan itu melihat gemas pada Suta yang bertindak sok pahlawan dan sok kuat, membopong Ami yang pingsan dan yang namanya belum dia kenal itu seorang diri.


Dina saat itu sedang terdiam, berdoa dalam hati. Dia tak mau bersuara, karena takut air matanya akan mengucur dengan deras. Dia tak mau menyiksa Wati dengan menjatuhkan air mata di atas kubur nenek angkatnya itu.


Namun, Dina pun sadar. Tak bisa bersedih terlalu lama, karena air mata tak akan bisa membangkitkan orang yang sudah mati.


Dina tahu dirinya bersedih, dia tahu dirinya kehilangan Wati. Tetapi bukan berarti dia harus terus menerus dalam kesedihan, dia harus kuat dan menjadi lebih tangguh lagi. Apalagi dia merasa, saat pulang nanti akan terjadi sesuatu yang tak diinginkan.


"Kak," ucap Yuri yang sejak tadi berdiri di belakang Dina.


Dina menengok, lalu dia berdiri agar sama posisi dengan Yuri.


"Maaf, apa aku kenal kamu?" tanya Dina sopan.


"Aku Yuri, aku ini calon pacar Bang Suta," jawab Yuri.


Namun reaksi Dina biasa saja. Dia tak perlu kaget, apalagi harus merasa sedih. Malah dalam hatinya dia memuji pilihan Suta.


Yuri termasuk gadis cantik, tubuhnya pun tinggi dan ramping. Setinggi dagu Dina, jadi lebih tinggi dari Maya dan Ami.


Sementara itu Yuri berharap Dina akan bertambah sedih setelah dia mengakui Suta sebagai kekasih hatinya. Tetapi nyatanya tidak.

__ADS_1


"Kamu benar calon pacarnya Suta?" tanya Dina sambil mengajak jalan Yuri.


"Iya, Kak. Tapi berhubung aku masih sekolah dan belum sampai usia 17 tahun atau 2 tahun lagi, jadi aku belum boleh pacaran. Hanya saja, aku sudah dikasih tanda mata sama Bang Suta. Pengikat gitu, deh."


"Oh, ternyata Suta serius, ya." Dina tersenyum.


"Tapi Kak...."


"Dina, itu namaku," ucap Dina yang memahami arti tatapan mata Yuri, yaitu ingin tahu namanya.


"Tapi Kak Dina jangan ganggu urusan cintaku, ya. Soalnya waktu Kak Dina belum terlihat, Bang Suta itu mesra banget sama aku. Eh, semalam aku kok melihat dan mendengar pembelaan Bang Suta sama Kakak."


Dina berhenti melangkah. Dia mengawasi wajah Yuri yang juga ikut berhenti berjalan.


"Kamu cemburu?" tanya Dina.


"Apa itu dilarang?" Yuri balik bertanya.


"Jelas sangat dilarang!"


"Kenapa?"


"Karena cemburu itu harus pada tempat dan situasi yang tepat."


"Terus?"


"Terus aku ini sama Suta tak ada apa-apa. Jadi kamu dilarang cemburu sama aku. Paham kan?" Dina tersenyum pada Yuri.


Yuri tertawa, dia mengangguk.


"Eh, itu Dina!" teriak Maya yang baru mau berjalan mencari Dina.


Ami sudah sadar dari pingsannya. Karena itu rombongan mau pulang. Suta sudah pulang ikut naik motor sama Said. Tinggal rombongan Dayat, Marina, Maya dan Ami saja. Mereka menunggu Dina yang tak terlihat.


"Kamu bolos sekolah kan?" bisik Dina sambil genggam tangan Yuri.


"Iya, Kak. Demi Oma Wati," jawab Yuri menunduk.


"Sebenarnya tak perlu kamu datang. Tetapi karena sudah datang, terima kasih ya. Yuk, ikut pulang. Kita makan dulu di rumahku!"

__ADS_1


__ADS_2