
"Gotcha!"
Kedua pasang mata yang tengah berdebat sontak melihat ke sumber suara yang membuat bulu kuduk berdiri.Sania terbelalak melihat mata Bian yang penuh dengan amarah.
"Bi-Bi-Bian ...!"ucap Sania terbata.
Senyum yang Bian perlihatkan sungguh membuat Sania seperti terpaku tak dapat berpindah tempat.
"Ka-"
Bian langsung membungkam mulut Robby dengan tangannya.Sampai membuat Robby yang tidak siap,melangkah mundur.Namun,meski tangan Bian membungkam mulut Robby,mata tajam Bian terus menghunus ke arah Sania.
"Kalian pikir,akan semudah ini melarikan diri dari hukuman seorang Abian,huh?"
Begitu tenangnya Bian mengucapkan kalimat itu.Tanpa berteriak,ucapan itu tetap membuat Sania merinding.Bian melirik Rama yang berdiri di belakangnya agar membebaskan wanita yang memang Bian perintahkan untuk menjebak Robby yang dia ketahui selalu mengintai kediaman keluarga Daddy-nya.
Wanita itu memanglah hanya umpan.Tapi,bukan untuk Bian melainkan untuk Robby dan Sania.Polisi juga tidaklah sebodoh itu,sampai Robby bisa kabur begitu mudahnya.Hal itu,memang sudah direncanakan oleh Bian sebelum Robby dan Sania mendapatkan hukuman penjara.
Bian mendorong tangannya yang masih mencengkram mulut Robby sampai ia terjungkal ke lantai.Sania yang melihat pintu terbuka ingin segera melarikan diri.
Begitu melihat pergerakan Sania yang hendak berbalik badan,Bian dengan sigap menarik rambut Sania tanpa ampun.
"Bukankah kita akan bersenang-senang malam ini,hum!"bisik Bian dengan penuh penekanan.
Sania meraih tangan Bian yang menarik rambutnya erat seraya meringis.Bian menariknya lalu melemparkannya ke arah Robby yang baru bangkit,sampai dia jatuh kembali karena Sania yang menabraknya.
"Kunci pintunya!Jangan buka apapun yang terjadi,sampai aku memintanya sendiri!"pinta Bian menatap tajam kearah Robby dan Sania.
"Baik,Tuan."
Setelah pintu dikunci dari luar seperti yang Bian perintahkan tadi,dia berjalan mendekati Robby yang sudah berdiri menantangnya.Bian tersenyum mengejek,melihat Robby yang sudah memasang kuda-kuda untuk melawannya.
"Maju Lo kalau berani!"bentak Robby.
Merasa akan terjadi pertumpahan darah,Sania memilih menepi jauh dari kedua pria yang akan berkelahi tersebut.Bian tetap berdiri di tempatnya,menunggu apa yang akan Robby lakukan.
"Kenapa?Lo takut?Cih ... adek Lo bahkan bisa melawan anak buah gue.Sayang gue belum sempat mencicipi tu-"
Belum sempat Robby menyelesaikan kalimatnya,Bian sudah berjalan dengan cepat dan mencengkram leher Robby sampai terdorong ke dinding.
Robby memberontak,mencoba melepaskan cengkeraman Bian.Sania yang berjongkok di lantai samping tempat tidur,merasa kalau dihadapannya itu bukanlah Bian.
"Le-le-pa-pa-sss!"ucap Robby tersendat.
Karena sudah dikuasai oleh amarah,Bian seakan tak bisa lagi mendengar apapun selain pikirannya yang selalu menyuruhnya untuk menghabisi kedua orang yang sudah membuat orang yang dia sayangi ketakutan.
__ADS_1
Bian melirik Sania yang meringkuk ketakutan tanpa melepaskan cengkeramannya yang sudah membuat wajah Robby memerah.Bian tersenyum mengerikan ke arah Sania yang duduk memeluk kakinya.
Melihat Robby yang seperti sudah kehabisan nafas,Bian melepaskan cengkeramannya.Tubuh Robby luruh ke lantai dengan terbatuk-batuk.Bian mengangkat kakinya ke bahu Robby dan kembali menekannya ke dinding dengan kuat.
Sontak Robby meringis dan menahan kaki Bian.Robby menendang kaki Bian yang lainnya sampai Bian terjatuh dihadapannya.
"Ban***t lo!"teriak Robby di depan mata Bian yang mendongak karena rambutnya yang ditarik.
Bukannya merasa kesakitan,Bian malah tersenyum miring membalas tatapan Robby.Bian membenturkan kepalanya sendiri ke hidung Robby sampai mengeluarkan darah segar.
Robby memegang hidungnya yang seolah patah karena benturan kepala Bian yang keras.Bian segera berdiri dan menendang perut Robby berkali-kali.Ditariknya rambut Robby agar dia berdiri.
Setelah Robby berdiri,Bian membenturkan kepalanya pada dinding seperti yang anak buah Robby lakukan pada Key waktu itu sampai kening Robby mengeluarkan darah.
"Bagaimana rasanya?Sakit?"tanya Bian ditelinga Robby dengan menggertakan giginya.
Melihat Robby yang sudah tidak berdaya,Bian menarik rambutnya lalu menghempaskannya sampai jatuh terkapar di lantai dengan darah yang terus mengalir dari dahinya.
Bian melihat ke sekelilingnya dan menemukan botol minuman keras yang ada di atas meja di dekat tempat tidur.Langkah kakinya melaju cepat dan mengambil botol itu.
Pranggg ...
Botol itu sengaja Bian lempar ke lantai sampai pecah menjadi bagian-bagian kecil.Sania semakin meringkuk dengan gemetar melihatnya.Bian menghampiri Sania dan menjambak rambutnya sampai Sania mendongak menatapnya.
Bian mendorong kepala Sania sampai terbentur ke tepi kayu tempat tidur.Seketika Sania merasa kepalanya berputar-putar dan perutnya tiba-tiba mual.
Tak mempedulikan Sania,Bian kembali mendekati Robby yang setengah sadar.Bian mengangkat kaki Robby dan menyeretnya melewati pecahan botol yang sengaja dipecahkannya tadi.
Robby berteriak kencang menahan luka di punggungnya yang terkena pecahan botol.Dengan sedikit kesadaran yang dia miliki,Robby mengambil salah satu pecahan yang lumayan besar dan melemparkannya sampai mengenai pelipis Bian.
Meski pelipisnya mengeluarkan darah,Bian tetap tidak melepaskan kaki Robby dan terus menyeretnya sampai ke depan Sania.Dengan nafas yang terasa semakin sesak,Robby mengulurkan tangannya meminta bantuan pada Sania.
"Sa-Sa-ni-"
Robby yang sudah tak berdaya,menjatuhkan tangannya dan hilang kesadaran.Sania yang semakin ketakutan berlari ke arah pintu dan menggedor-gedor dengan suara yang gemetar.
"To-tolong ... ada orang ma*i di sini!Buka pintunya!Gue mohon ...!!!"teriak Sania yang sudah mengeluarkan air matanya.
"Teriak lah sekeras mungkin!"ucap Bian duduk di kursi tempat Robby dan Sania mengikat orang suruhannya tadi.
Sania terus berteriak meminta tolong.Sampai suaranya serak dan tenaganya terkuras.Bian yang sudah berdiri di belakangnya,menarik kerah kemeja yang Sania kenakan dan menyeretnya ke kursi yang didudukinya tadi.
"Siapa dalang dibalik kecelakaan istriku dua tahun yang lalu?"tanya Bian langsung.
"Bi-"
__ADS_1
Plakkk ...
Satu tamparan diterima Sania.Tangan seorang pria berbeda dengan tangan wanita.Dan Bian menamparnya tanpa berpikir kalau yang ditamparnya adalah seorang wanita.Dia benar-benar sudah menjelma menjadi seorang monster.
"Siapa dalang dibalik kecelakaan istriku dua tahun yang lalu?"ulang Bian.
"Bi ... ple-"
Plakkk ....
Lagi,Bian menampar Sania lagi sampai pipinya memerah dan mengeluarkan darah di sudut bibirnya.Telinganya pun sampai berdenging karena tamparan Bian yang sangat keras.
"Aku tanya sekali lagi,siapa ... dalang ... dibalik ... kecelakaan ... istriku dua tahun yang ... lalu?"Bian mencengkram leher Sania.
"Le-le-pa-pa-sss !!!"
Melihat wajah Sania yang memerah,bukannya kasihan dan melepaskannya,Bian malah semakin mencekik leher Sania kuat.Dia sudah geram dengan wanita satu ini.Pihak kepolisian yang membuka kembali kasus kecelakaan yang Kia alami,menemukan bahwa ada bukti transfer uang ke rekening pelaku yang mengarah pada Sania sendiri.
"A-a-ak-uu ...,"jawab Sania akhirnya mengakui.
"Wanita si**an!!!"teriak Bian mendorong tubuh Sania sampai kursi yang didudukinya terbalik ke belakang.
Sania yang kepalanya terbentur lantai langsung tak sadarkan diri.Bian berteriak memanggil Rama agar membuka pintu.Saat pintu terbuka,Rama segera menghampiri Bian.
"Tuan,Anda terluka,"khawatir Rama.
"Hanya luka kecil.Urus mereka!"
Bian keluar dari ruangan itu dan seorang polisi menghampirinya.Polisi yang bekerjasama dengannya untuk membuka kedok seorang pemilik club' malam yang susah untuk dijerat hukum.
"Bos!"sapa polisi yang usianya lebih muda dari Bian.
"Hem.Kawal kasus ini sampai mereka mendapatkan hukuman seberat-beratnya.Awas kalau kau melepaskan mereka cuma karena uang yang tak seberapa!"ancam Bian.
"Kalau uangnya sampai triliun,boleh?"tanya Arya,polisi kenalan Bian.
Bian memicingkan matanya seraya berkata,"Mau ku tembak di kepala atau langsung ke jantung?"tanya Bian menunjuk kepala kemudian dada bagian kiri Arya.
Arya adalah salah satu anak asuh yang Bian sekolahkan sampai dia menjadi polisi berpangkat tinggi di kota.Bian tidak asal-asalan dalam memilih orang yang ingin dia bantu mencapai cita-cita.
Dan Arya termasuk orang yang jujur,bertanggung jawab dan tidak bermental tempe mendoan yang bisa meleyot melihat tumpukan uang di depan matanya.Dia mempunyai prinsip yang tidak mudah terpengaruh oleh orang lain yang dianggapnya tidak benar.
"Saya belum nikah,Bos!"cengir Arya.
"Siapa yang nanya?"
__ADS_1