Istri Simpanan Pak Tua

Istri Simpanan Pak Tua
Makan Siang di Kantor


__ADS_3

Makanan sudah tersaji di meja makan,semua anggota keluarga pun sudah menempati kursinya masing-masing.Key yang akan mengambil buah jeruk di hadapannya seketika mengerucutkan bibirnya melihat sang kakak yang dengan sengaja menepis tangannya.


"Apa sih Lo,Kak? Rese' banget deh!"sebal Key.


Nyonya Sofia menggelengkan kepalanya melihat putra-putrinya yang entah sejak kapan jadi sering sikut-sikutan seperti itu.Perasaan dulu putranya itu,tak banyak bicara apalagi banyak tingkah.


Tapi,sekarang kok Bian jadi pribadi yang usil dengan adiknya.Kalau bertemu selalu cari gara-gara.Suasana ruang makan jadi tambah ceria karena itu.Ada rasa sesal yang Nyonya Sofia rasakan melihat itu.Entah bagaimana dulu dia mendidik kedua anaknya sampai hal sesederhana ini bisa terlewat.


Tuan David mengusap punggung istrinya yang matanya sudah mulai berkaca-kaca melihat perdebatan Bian dan Key.Istrinya pasti merasa bersalah karena tidak banyak meluangkan waktunya ketika mereka dalam tahap sangat membutuhkan perhatian dari orang tuanya.Begitu juga dirinya yang terlalu sibuk mengembangkan perusahaan peninggalan sang ayah.


"Dad,lihat Kak Bian!"adu Key memukul-mukul lengan kakaknya.


"Dasar tukang ngadu!"ejek Bian.


"Bian!"peringat Tuan David.


Key menjulurkan lidahnya ke arah kakaknya,merasa mendapat pembelaan dari sang ayah.Biyan kecil juga ikutan menjulurkan lidahnya ke arah papanya yang memberengut.


Kehangatan inilah yang selalu terjadi sejak Kia kembali dengan membawa putranya.Dan hal inilah yang akan dirindukan oleh kedua orang tua Bian saat keluarga kecil putranya itu pulang ke rumahnya sendiri.


Usai sarapan,Kia mengantarkan suaminya itu sampai ke depan.Seperti biasa,Kia mencium tangan suaminya dan dibalas Bian dengan mencium keningnya.Biyanpun tak ingin kalah untuk menyalami sang papa.


Bian yang merasa gemas meraih putranya itu dan menciuminya sampai anaknya itu tertawa.Rasanya tak ingin pergi kalau sudah begitu.


"Dah,Pa!"ucap sang anak menjauhkan wajahnya dari Papanya.


"Sudah,Mas!Itu,Pak Rama sudah menunggu,"Kia mengambil putranya.


"Iya ... Papa pergi dulu,ya!"Bian mengecup kening putranya.


Masuk ke mobil,Bian menurunkan kaca mobilnya dan melambaikan tangannya.Biyan pun melakukan hal yang sama pada papanya.


* * *


Matahari sudah meninggi saat Sania membuka matanya.Tubuh polosnya sedikit tersingkap karena ulah partner ranjangnya yang masih memberikan sentuhan padanya.


"Sudah siang,"gumamnya melihat penunjuk waktu pada ponselnya.

__ADS_1


"Hey,honey!Mau kemana?"tanya pria itu saat Sania menghentikan aktivitasnya dan turun dari ranjang.


Tak begitu peduli dengan pria yang sudah menghangatkan ranjangnya semalam,Sania beranjak masuk ke kamar mandi.Begitulah Sania,bahkan sejak masih menjadi seorang istri pun dia sering melakukan one night stand saat sang suami pergi keluar kota untuk urusan pekerjaan.


Beruntung mereka belum dikaruniai seorang anak.Kalau tidak,mungkin sang suami akan sangat merasa berat untuk mengambil keputusan berpisah.Karena suaminya itu tipe pria yang tidak neko-neko dan tulus.Dia tahu kalau istrinya berselingkuh,tapi dia masih saja memaafkannya.Mungkin be*o,kalau orang bilang mah ...


Keluar dari kamar mandi,Sania masih mendapati si pria masih terbaring tengkurap di atas tempat tidur dengan selimut yang hanya menutupi tubuh bagian bawahnya.Sania menelisik tato dengan gambar sayap dipunggung pria itu.


"Hey ... apa pekerjaan lo?"tanya Sania membangunkan pria itu.


"Lo nanya gue?"


Bukannya menjawab,si pria malah balik bertanya kepada Sania.Pandangannya menatap lapar pada tubuh Sania yang masih terbalut bathrobe.


"Apa ada orang lain di sini selain lo?"sebal Sania.


"Ada.Elo ...,"cengir pria itu.


Kesal sekali rasanya berbicara dengan pria yang tidak dikenalnya ini.Tak ingin tambah kesal,Sania memunguti pakaiannya dan memakainya langsung dihadapan pria itu.


"Gue Robby bukan Hey dan gue adalah pemilik Club' yang Lo kunjungi semalam,"jelas Robby mendekati Sania.


"Apa Lo bisa bantu gue?"tanya Sania tersendat karena menahan desahannya.


"Bantu apa?Asal ada bayarannya,gue oke-oke aja!"bisiknya.


Robby menghentikan ucapan yang akan keluar dari bibir seksi Sania.


"Kita bahas nanti!"ucapnya mengangkat tubuh Sania ke atas ranjang.


* * *


Saat masuk waktunya makan siang,Bian dikejutkan dengan kehadiran sang istri yang datang dengan paper bag di tangannya.


Kia masuk setelah Rama membukakan pintu untuknya.Rama pun pergi meninggalkan pasangan suami-istri itu.Bian menyambut istrinya dengan senyum yang mengembang.


"Kok nggak bilang-bilang mau kemari?Sama siapa ke sini nya?Loh,jagoanku mana?Nggak diajak?"tanya Bian beruntun.

__ADS_1


"Nanyanya satu-satu,Cinta!"ucap Kia membuat sang suami menganga.


"Kamu panggil aku apa?"tanya Bian takut salah dengar.


Kia pura-pura tak ingat dengan ucapannya barusan."Hem ... apa?"


Bian menggiring istrinya duduk di sofa yang ada di ruangannya.Kia meletakkan paper bag yang dibawanya ke atas meja dan mulai mengeluarkan wadah makanan yang dimasak sendiri olehnya dari mansion.Bian terus mendesak istrinya itu agar mengulangi apa yang dia katakan tadi.


"Ayo,kamu tadi panggil aku apa?"rengek Bian seperti anak kecil.


"Makan dulu,gih!"


"Aku nggak mau makan kalau kamu nggak mengulangi panggilan kamu tadi!"rajuk Bian.


Sungguh tidak pantas,seorang Bian yang terkenal dingin,merengek dan merajuk seperti itu.Kalau ada Key,dia pasti akan mentertawakan kelakuan kakaknya yang bak anak kecil memaksa untuk dibelikan mainan oleh ibunya.


"Nggak pantes Mas,kamu kayak gitu!"ucap Kia menahan tawanya.


"Biarin,"jawab Bian.


"Ya,sudah ... cintaku,sayangku,manisku ... kita makan,ya!"ucap Kia menangkup wajah suaminya.


Betapa senang hatinya mendengar panggilan cinta dari sang istri.Bian menahan tengkuk Kia dan mencium bibirnya.Kia mendorong wajah Bian agar menyudahi ciumannya.


"Appetizer,"senyum Bian.


"Hem."


Mereka pun menikmati makan siang bersama.Kia sengaja memasak makanan kesukaan suaminya itu.Olahan seafood yang juga disukai oleh putra mereka.Kia sempat meragu tadi untuk mengantarkan makanan itu sendiri ke kantor Bian.


Tapi,ibu mertuanya bilang kalau Bian pasti akan sangat senang kalau Kia memberinya kejutan dengan datang langsung ke kantor membawa makan siang.Dengan diantar pak Ali,Kia meneguhkan hati untuk menampakkan diri sebagai istri dari Bian.


Rama yang sudah mendapatkan pesan dari pak Ali pun menunggu kedatangannya di lobby dan langsung mengantarkannya ke ruang kerja Bian saat Kia sudah datang.


"Kamu belum jawab pertanyaan aku tadi,"kata Bian disela makannya.


"Biasa ... jagoan kita itu ikut Opa Omanya pergi jalan-jalan.Mereka bilang mau ke tempat kerabatnya,"ujar Kia memberitahu.

__ADS_1


Bian meletakkan kotak makan yang isinya sudah berpindah ke dalam perutnya.Kia menyerahkan air minum pada suaminya yang sudah selesai makan dan membereskan sisanya.


"Dessert nya belum,"bisik Bian yang sudah melingkarkan tangannya di leher sang istri.


__ADS_2