
Sampai di kamarnya bersama dengan sang istri,Bian mengambil kotak berisi baju bayi yang Kia hadiahkan untuknya.Tenaganya serasa tak ada lagi,tubuh lelahnya terduduk di lantai bersandarkan pada tempat tidur.
"Itu bukan Mama kan,Nak?"lirihnya menatap baju itu.
"Kalian sedang bersembunyi,kan?"
"Nggak apa-apa,kalian sembunyi aja dulu!Nanti,Papa akan mencari kalian lagi,hum!"
"Kalian yang sehat,bilang sama Mama untuk tetap bertahan bagaimanapun keadaan kalian.Papa tidak akan menyerah untuk mencari kalian,tunggu Papa sampai Papa datang!"
Air mata yang terus ditahannya dari rumah sakit,akhirnya luruh juga.
"Maaf,Maafkan Papa!Papa memang nggak becus menjaga kalian!"Bian memeluk baju itu.
"Kalian pasti kecewa mempunyai seseorang seperti Papa!Maaf,maaf,maaf...!"
Bian terus saja meracau dengan air mata yang terus mengalir sampai tubuhnya pun luruh ke lantai,meringkuk memeluk baju calon bayinya.
* * *
Beberapa hari telah berlalu,keadaan Pak Ali belum juga menunjukkan perubahan yang signifikan.Tubuhnya masih terbaring kaku tanpa adanya gerakan sedikitpun.
Karena keluarga dari Pak Ali telah datang untuk menjaganya,Pak Beno bersama dengan orang-orang yang bekerja dengan Bian,terus melakukan pencarian di sepanjang jalan arah ditemukannya Pak Ali dan disekitar tempat kejadian.
Begitupula dengan Bian dan juga Rama.Mereka juga terus mencari keberadaan Kia.Dan untuk sementara waktu,perusahaan diserahkan kepada orang yang Bian percaya.
Sampai saat pihak dari kepolisian menghubungi Rama untuk menyampaikan hasil dari identifikasi yang mereka lakukan pada dua korban yang tewas di tempat kejadian.
Polisi yang bertugas menangani kasus itu,memberikan amplop berwarna putih kepada Bian.Tangannya gemetar,membuka amplop itu.Pikirannya terus men sugesti bahwa istri dan calon bayinya baik-baik saja di suatu tempat yang belum di carinya.
"Kami turut berduka cita,"ucap polisi itu.
"No,she is not my wife!You're wrong!"teriak Bian.
"Tuan,"lirih Rama menenangkan Tuannya.
"Bilang pada mereka kalau perempuan itu bukan istriku!Istriku masih hidup,Dia pasti sedang berada di suatu tempat.Ayo kita cari mereka lagi.Mereka pasti menungguku untuk menjemput,"tangis Bian terdengar begitu memilukan.
"Tuan,"Rama memeluk Bian untuk menenangkannya.
"Ayo,Ram!Perintahkan pada semuanya untuk terus mencari!Aku akan membayar berapapun untuk mereka yang bisa menemukan istriku!"
__ADS_1
Bian berlari untuk pergi mencari istrinya.Dia tidak akan percaya pada polisi yang menginformasikan bahwa istrinya telah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.
"Maaf,Pak!Saya akan menemui Bapak kembali lagi nanti untuk lebih jelasnya lagi.Permisi!"pamit Rama.
Tuannya benar-benar dalam keadaan yang tidak bisa berpikir jernih.Bisa saja,dia melakukan hal yang tidak terduga dan bisa merugikan dirinya sendiri.Rama berlari mengejar Bian yang sudah entah sampai mana.
Mobil Tuannya baru akan melaju,tapi untungnya,Rama bisa menghentikannya dengan berdiri di depannya.Hampir saja Bian menabraknya kalau saja tidak menginjak rem dengan cepat.
"Ram,menyingkir lah!"teriak Bian.
"Biar saya yang menyetir,Tuan!"mohon Rama.
"Cepatlah!Istriku pasti sangat ketakutan,"teriak Bian lagi.
Rama bergegas mengambil alih kemudi dan Bian pun menggeser posisinya ke jok sebelahnya.Mobil pun melaju kencang menyusuri jalanan.Mereka sama-sama tidak tahu harus mencari ke mana.
* * *
"Pak,bagaimana dengan korban laki-laki?Apa sudah diketahui,Dia siapa?"tanya Rama.
"Untuk korban laki-laki,teridentifikasi bahwa Dia merupakan residivis yang sudah beberapa kali masuk penjara karena sering berbuat onar,juga pelaku begal yang sering beroperasi tak jauh dari tempat kejadian.
Pria ini juga positif mengenakan narkoba dan baru beberapa bulan yang lalu bebas dari masa tahanannya.
"Begitu.Jadi,tidak ada orang lain yang mungkin saja menyuruhnya melakukan itu?"tanya Rama.
"Menelisik dari kinerjanya selama ini,pria ini selalu bertindak seorang diri tanpa komando dari orang lain.Penyelidikan akan terus berlanjut sampai benar-benar mencapai kesimpulan,"imbuh pak polisi.
"Baik,Pak.Kami tunggu kabar selanjutnya!"kata Rama.
Itulah percakapan yang Rama dapatkan melalui sambungan telepon dengan polisi yang menangani kasus yang melibatkan Pak Ali sebagai korban yang selamat.
Beberapa hari ini benar-benar menguras tenaga dan air mata.Rama tahu,Tuannya itu selalu menangis di kamarnya.Itu terlihat dari wajahnya yang sayu dengan mata yang selalu sembab.
Rama sampai harus diam-diam memasukkan obat tidur dengan dosis yang rendah agar Bian beristirahat sejenak.Kalau tidak,Tuannya itu pasti akan terus mencari tanpa peduli dengan keadaan tubuhnya.
* * *
Tak terasa sejak kepergian Kia,Bian terus saja mengurung diri di kamar.Dia masih belum percaya kalau istrinya sudah tiada.Rama lah yang mengurus pemakaman perempuan yang polisi identifikasi adalah Kia.
Orang-orang yang diperintahkan untuk mencari masih terus mencari atas suruhan Bian kalau tidak mau kehilangan pekerjaan mereka.Pak Beno juga masih terus mencari karena perasaan bersalahnya.
__ADS_1
Ting......tong......
Bel apartemen Bian berbunyi dan Rama segera membuka pintu karena tahu siapa yang datang.Setelah mempersilahkan tamu yang datang untuk masuk,Rama pun memanggil Tuannya untuk memberitahu.
Dengan langkah gontai,Bian melangkahkan kakinya menuruni tangga.Betapa terkejutnya tamu yang datang melihat kondisi Bian.
Pipinya terlihat begitu tirus dengan mata yang cekung.Tubuhnya pun kurus tak terurus.Rambut halus di rahangnya pun sudah tumbuh lebat.
"Ya ampun,Nak!"tangis Nyonya Sofia menghampiri Bian.
Melihat putranya seperti itu sangat menyedihkan untuk Daddy David dan juga Key yang ikut mengunjungi Bian.Rama terpaksa harus memberitahu alamat apartemen Bian karena Key terus memaksa untuk menanyakan kebenaran desas-desus yang tersiar simpang siur di media.
Banyak sekali pemberitaan yang memberitakan tentang Bian yang mempunyai wanita idaman lain dan wanita itu meninggal terbakar di dalam mobil bersama dengan seorang pria.
Netizen yang tidak mengetahui kebenaran ceritanya,berbondong-bondong menghujat bahkan menyumpahinya.Kabar itu pun merebak sampai ke telinga keluarga besar Abraham.
"Sayang,kenapa kamu sampai seperti ini?"tanya Nyonya Sofia dengan air mata yang mengalir.
Ibu mana yang tega melihat anaknya hancur dan terluka seperti itu.Bian mengelakkan wajahnya yang akan disentuh oleh Mommynya.
"Kenapa?Bukankah ini yang kalian inginkan?Kia ku pergi meninggalkan aku bersama dengan calon bayi kami.Kalian happy?"
"Sayang,jangan seperti ini!"pinta Nyonya Sofia.
"Oh,ya!Terus aku harus bagaimana?"Bian berpikir sejenak.
"Ah....bagaimana kalau kita adakan pesta besar-besaran?Kalian pasti setuju,kan?Ayo,kalian pulang,terus siapkan pestanya!Aku akan datang dengan membawa karangan bunga yang besaaaaaar sekali untuk kalian sebagai tanda kehancuran dari seorang Abian Abraham,"ujar Bian.
Semuanya terdiam dan terenyuh melihat Bian yang sangat menyedihkan.Untuk duduk di sofa pun mereka rasanya tak pantas.Bian pasti menyalahkan mereka yang terus melarang hubungannya dengan sang istri simpanan.
"Kenapa berdiri saja!Tak sudi duduk di sofa bekas tempat duduk istriku?"
"Bian!Sampai kapan kamu akan seperti ini?Dia sudah tiada,sudah saatnya kamu melanjutkan hidup!Jangan terus menyesali-,"ucapan Tuan David terpotong dengan bunyi kaca yang pecah.
Pranggg.....
Bian melempar gelasnya ke atas meja kaca di depannya,membuat semua orang terkejut.Rama yang menunggu di dapur pun segera berlari menghampiri mereka.
"Melanjutkan hidup tanpa Kia ku?ha.....ha......,"Bian tertawa tapi air matanya mengalir.
"Hidup mana yang kalian maksud?Bian sudah mati bersama perginya istri dan calon bayinya!"teriak Bian.
__ADS_1
"Bisakah kalian membiarkan aku sendiri?Bisakah,hah?"bentak Bian menjatuhkan tubuhnya di lantai.
Key langsung memeluk kakaknya.Dia juga ikut hancur melihatnya.Bian sampai tidak merasakan kalau lutut dan telapak tangannya mengenai pecahan meja kaca.