
Dua orang kakak beradik turun dengan terburu-buru dari bus yang mengantarnya dari kota.Jalan keduanya saling berebut agar cepat sampai ke rumah yang terletak tak jauh dari pantai.
"Pangeranku.....Bunda sudah pulang.....!!!"teriaknya heboh.
Salwa membuka pintu yang sudah terbuka sedikit itu.Seorang perempuan paruh baya meletakkan jari telunjuknya di depan bibir agar Salwa dan adiknya tidak membuat suara berisik karena akan membangunkan sang pangeran kesayangan yang sedang tidur.
"Kenapa?"tanya Salwa.
"Den Biyan nya masih bobok,nanti nangis kalo terganggu tidurnya!"ucap Bu Asih.
"Oh,oke....oke....!!!"bisik Salwa menutup mulutnya rapat-rapat.
"Kak Salwa,bantuin dong!Berat ini,"teriak Putri yang masih di luar rumah dengan belanjaan di kedua tangannya.
"Oh,iya lupa!"Salwa menepuk keningnya dan buru-buru keluar.
Mulut sang adik sudah mengerucut bak paruh bebek yang suka menyosor.Bukannya merasa bersalah atau kasihan,Salwa malah tergelak melihatnya.Adiknya ini memang sangat imut sama seperti Biyan sang pangeran yang selalu menghangatkan keluarganya.
"Aduh....aduh....bibirnya....minta digaplok atau bagaimana sih itu!"Salwa mencubit pipi Putri.
"Bantuin bukannya malah ninggalin.Mana barangnya banyakan aku yang bawa,"rajuk Putri.
"Kan kamu yang masih muda,Dek!"ucap Salwa.
"Ya....nggak gitu juga kali Kak,konsepnya!"ujar Putri.
"Iya....iya....ini juga mau dibantuin.Gitu aja,ngambek."
Keduanya pun masuk ke dalam rumah.Sudah satu tahun lebih mereka menempati rumah itu.Awalnya mereka tinggal di sebuah restoran yang jaraknya tak jauh dari rumah itu.
Jadi,restoran itu merupakan bangunan dua lantai.Bagian bawah dipakai untuk tempat makan yang menyediakan menu hidangan laut,sedangkan bagian atasnya untuk tempat tinggal mereka.
__ADS_1
Kemudian,hadirlah seorang bayi tampan yang menjadi pengobat rindu bagi mereka.Rumah itu pun mereka beli agar si jabang bayi tak merasa terganggu dengan keriuhan restoran di bawahnya.Mereka pun membawa Bu Asih untuk membantu mereka mengurus rumah dan juga menjaga Biyan kalau mereka ada keperluan di luar.
Beberapa belanjaan itu mereka letakkan di meja dapur untuk segera ditata dan dimasukkan ke dalam kulkas.Sebenarnya,kepergian mereka ke kota,cuma ingin memesan keperluan restoran yang sudah mulai habis.
Tapi sepertinya,kebutuhan rumahnya juga sudah mulai menipis.Jadi,sekalian saja mereka berbelanja.Karena kalau berbelanja di pasar di daerah pantai tempat tinggal mereka,bahan-bahannya kurang lengkap.
"Memangnya Kak Salwa kenal dengan pria yang di restoran tadi?"tanya Putri sembari memasukkan bahan makanan yang dibelinya tadi ke dalam kulkas.
"Nggak,"jawabnya datar.
"Pasti Kakak keinget sama almarhum suami Kakak!"Putri memeluk Salwa dari samping.
"Sedikit...."
Salwa membalas pelukan adiknya dengan senyum yang dikembangkan.Dia tidak mau bersedih lagi.Salwa juga tidak mau membuat adiknya ikut bersedih.
* * *
Bian menggeleng dan terus mengedarkan pandangannya.Melihat Tuannya yang seperti mencari,Rama juga ikut melihat ke sekelilingnya.
"Tuan,apa yang Anda cari?"tanyanya lagi.
"Rama,sepertinya Kia ada di sekitar sini.Aku bisa merasakannya,"ujar Bian dengan semangatnya.
"Bagus kalau begitu.Ayo,kita cari!"ajak Rama.
Entah apa yang Bian ucapkan itu benar atau tidak,Rama tetap menyemangatinya.Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk membuat Tuannya baik-baik saja.Walaupun seandainya,itu hanyalah ilusi dari Bian yang begitu mencintai istrinya,maka biarlah.Dia akan merasa lelah sendiri nanti,kalau sudah saatnya.
"Hey,kalian mau kemana?"teriak wanita yang menyapa Bian tadi.
"Kalau mau pergi,seenggaknya bayar dulu makanan kalian!Woiiiii!!!!"teriaknya lagi sampai membuat bayinya terkejut dan menangis.
__ADS_1
Sepanjang jalan terus mereka telusuri.Setiap sudut mereka lihat,mungkin saja Kia masih ada disekitar jalan yang mereka lalui.Tapi sayangnya,pencarian mereka tidak membuahkan hasil.Hari pun sudah mulai gelap.
"Kita cari lagi besok!"seru Bian tak berputus asa.
Akhirnya mereka pun kembali ke villa,tempat mereka menginap.Rencana pun berubah,seharusnya mereka akan kembali setelah mendapat laporan dari pembangunan proyeknya.Tapi,Bian sangat yakin dengan hatinya yang merasa kalau istrinya sudah semakin dekat dengannya.
Dan itu,dia rasakan di daerah tersebut.Rama hanya bisa pasrah dan mengikuti apapun yang Bian ingin lakukan tanpa membantahnya sedikitpun.
* * *
Sinar pagi memasuki kamar seorang pria yang masih bergelung dalam selimut yang menghangatkan tubuhnya.Tidurnya tiba-tiba terusik dengan tangan seseorang yang terus mengacak-acak rambutnya.
"Hey,bangun pemalas!"
Bian menangkap tangan dengan jari yang lentik itu dari kepalanya.Matanya terbuka sebelah dan tampaklah seorang wanita cantik yang terlihat sedikit dewasa dari yang dia lihat sebelumnya.
"Ayo,bangun!!!!"serunya lagi menarik tangannya.
"Kia...."kata Bian.
"Iya,siapa lagi emangnya?Cepet bangun!Matahari aja sudah bersinar terang,kamunya masih aja nyaman dibalik selimut."
"Aku nggak mau bangun.Nanti kalau aku bangun,kamu pasti menghilang,"ucap Bian dengan mata yang mengembun.
Kia mengusap air mata yang menetes di pipi suaminya,"Kalau kamu nggak bangun,bagaimana kita bisa berkumpul lagi?Aku juga mau mengenalkan seseorang dengan kamu!"
"Siapa?"
"Makanya,kamu cari aku dulu,dong!Kalau kita sudah bertemu lagi,baru aku kenalin.Buruan bangun!Kami akan selalu menunggu kedatanganmu!"
Mata Bian langsung membulat sempurna dan terduduk.Langit masih terlihat gelap dari celah gorden kamarnya.Bian mengusap wajahnya,ternyata hanya mimpi.Senyumnya tertarik ke atas mengingat mimpinya tadi.
__ADS_1
"Aku akan segera menemukan kalian!"