
Kia masih meremas perutnya yang terasa nyeri sampai terduduk lemas.Pak Dani menangkap tubuh Kia yang terjatuh.Fira dan Tio pun cepat memegang tubuh sahabatnya itu.Nyonya Sofia berdecih melihat Kia yang dalam pikirannya sedang melakukan drama.
"Nggak usah drama!Kenapa?Takut ketahuan belangnya,iya?"sarkas Nyonya Sofia.
"Mom!Sudah ya,kita pulang aja!Kalau Bian tahu,Dia pasti marah,"bujuk Seline.
"Kamu gimana sih sayang,seharusnya kamu marah ke Dia.Tampar Dia,biar Dia tahu dimana posisinya,"emosi Nyonya Sofia.
"Nyonya,sebaiknya Anda bicarakan masalah ini dengan putra Anda.Mungkin saja Anda salah orang,"bela Pak Dani yang masih tidak percaya kalau Kia seperti yang dituduhkan Nyonya Sofia.
"Cih,salah orang!Apa kau tidak tahu siapa saya?Kau pikir,orang-orang yang aku perintahkan,memberikanku informasi yang salah?"
"Saya sangat tahu siapa Anda,begitu pula saya juga sangat tahu siapa Kia!"jawab Pak Dani.
"Wow,kamu hebat juga gadis kecil!Ternyata bukan cuma putraku yang terpikat dengan polosnya wajah ini!"Nyonya Sofia duduk berjongkok di depan Kia.
Kia menatap Nyonya Sofia lekat,bibir pucat nya tak mampu untuk berucap membela diri.Ini bukanlah salahnya,Bian lah yang memaksanya untuk menikah dengannya.Kenapa mereka malah menuduhnya?
"Tinggalkan putraku dan masalah ini akan berakhir di sini!Tapi kalau kau masih mengusik pernikahan mereka,kau akan menerima akibat yang lebih buruk lagi sampai kau tidak mampu untuk meminta ampun,"ancam Nyonya Sofia.
"Mom,sudahlah!Kasihan,Dia mungkin terpaksa melakukan ini.Kita tidak pernah tahu kehidupan seperti apa yang sudah Dia alami sampai membuatnya nekat melakukan hal seperti ini,"ucap Seline.
"Kau dengar,menantuku bahkan masih membelamu!Dan kau......"Nyonya Sofia menatap Kia jijik.
"Dasar ****** kecil!"lanjut Nyonya Sofia.
Kia menggertakan giginya, tangannya mengepal kuat meremas bajunya bagian depan.Matanya memerah menahan air matanya yang seakan berlomba ingin menetes.Tapi Kia tetap menahannya,walau gemuruh di dadanya seakan memerintahkan untuk meremas bibir tak tahu sopan santun itu.Kia tak ingin terlihat lemah di depan orang yang menyakitinya.Nyonya Sofia berdiri dan berbalik.
Tanpa mereka sadari,Seline tersenyum miring melihat drama yang terjadi antara mertuanya dan selingkuhan suaminya itu.Kia yang melihat senyum licik itupun ikut tersenyum miring.
"Kita pergi!Dia hanyalah mainan sementara untuk Bian.Kita tidak perlu mengotori tangan cuma untuk menyingkirkannya!"ucap Nyonya Sofia.
Nyonya Sofia dan menantu tersayangnya pun pergi meninggalkan Kia bersama dosen dan dua sahabatnya itu.Walau tak banyak mahasiswa lain yang menyaksikan kejadian itu,tapi besoknya pasti berita ini akan menyebar begitu cepat.Pak Dani membantu Kia berdiri.
"Non,Non Kia nggak apa-apa?"tanya Pak Ali.
Tadi Pak Beno yang sedang menunggu Kia di parkiran warung makan depan kampus tak sengaja melihat mobil yang pernah dilihatnya saat menemui Bosnya di mansion keluar dari gerbang kampus.
__ADS_1
"Itu seperti mobil Nyonya Seline!"gumam Pak Beno.
"Apa?Mobil Nyonya Seline?Dimana?"tanya Pak Ali beruntun.
"Baru saja keluar dari gerbang kampus!"tunjuk Pak Beno.
"Kampus?"cemas Pak Ali.
Pak Beno dan Pak Ali saling tatap dengan mata yang membola.Mereka segera berlari mencari Kia.Tak jauh dari arah gerbang,terlihat Kia dibantu dua orang pria dan satu orang perempuan untuk berdiri.
"Nggak apa-apa,Pak!"kata Kia.
"Ayo,Non!Non Kia harus ke rumah sakit,muka Non pucat sekali,"khawatir Pak Ali dan Pak Beno pun mengangguk setuju.
"Nggak usah,Pak!Kita pulang aja!"pinta Kia.
"Kia,mereka siapa?"tanya Pak Dani.
"Mereka keluarga saya,Pak!Terima kasih sudah membela saya tadi.Saya pamit dulu,permisi!"
"Aku pulang dulu ya,bestie!"pamit Kia dengan sedikit senyum yang tersungging.
"Eum,hati-hati!"
Meski banyak pertanyaan yang ingin Pak Dani tanyakan,tapi dia tidak ingin memaksa Kia untuk menjelaskan.Saat ini,Kia sangat butuh istirahat dan menenangkan diri.Kia terlihat sangat shock tadi.
Pak Ali membuka pintu mobil dan menuntun Kia masuk.Setelah menutup pintu,Pak Ali memutar langkahnya dan masuk ke mobil.Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang diikuti Pak Beno dengan motornya di belakang.
"Nona yakin tidak ingin ke rumah sakit?"cemas Pak Ali.
Kia menggeleng dengan tangan yang masih memegang perutnya.Kia mengatur nafasnya perlahan untuk mengurangi keram yang perutnya rasakan.Saat akan menstruasi,Kia memang sering merasakan keram pada perutnya.
Sampai di apartemen,Pak Ali dan Pak Beno segera mengantar Kia ke unitnya.Pak Ali menghubungi Bosnya untuk memberitahu keadaan Kia.Tadi mereka tidak terpikir untuk menghubunginya karena begitu panik.
"Halo,Bos!Non Kia-"
"Saya tahu,saya akan segera sampai.Kalian di apartemen?"
__ADS_1
"Iya,Bos!"
Tak lama Pak Ali menghubungi Bian,mobil Bian sampai di parkiran apartemen.Bian buru-buru pergi meninggalkan Rama yang harus memarkirkan mobilnya terlebih dahulu.
Bian berlari menuju kamarnya saat sampai di unit apartemennya.Bian memutar kenop pintu dan ternyata Kia menguncinya dari dalam.Tak ingin membuang waktu dengan mengetuk pintu,Bian mencari kunci cadangannya.
Percuma juga mengetuk,Kia juga pasti tidak akan membukanya.Bian mengingat-ingat dimana dia menyimpan kunci cadangannya. Kenapa disaat begitu dibutuhkan,ingatannya justru kabur entah kemana.Apa dia menyimpannya di dalam kamar?Bian menepuk jidatnya dan meremas rambutnya sendiri.
"Bodoh...bodoh.....bodoh......!"lirihnya menepuk-nepuk kepalanya.
Bian menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan,"Tenang,Bian!Tenang!"
Baru saja Bian mengangkat tangannya ingin mengetuk pintu,seseorang menepuk pundaknya.
"Apa yang terjadi?"tanya dokter Vino.
"Lebih baik kau saja yang mengetuk!"suruh Bian tanpa menjawab pertanyaan dari dokter Vino.
"Orang nanya apa,dijawab apa,"sewot dokter Vino.
Tok....tok....tok.....
"Nona Kia,ini saya Dokter Vino!Boleh saya masuk?"
Kia membuka matanya dan menatap ke arah pintu.Perutnya sudah tidak terlalu sakit,tapi badannya masih lemas.Mungkin karena belum makan dari tadi pagi.Dengan berjalan tertatih,Kia membuka pintu.Kia melirik suaminya yang berdiri di belakang dokter Vino.
"Say-"
"Masuk Dok!"sela Kia memotong ucapan Bian.
Dokter Vino pun masuk diiringi Bian yang juga hendak masuk.Namun,belum sempat kakinya menginjak lantai kamarnya,Kia menutup pintu dengan kencang.Alhasil,jidat Bian terbentur pintu.
"Aww....!"ringis Bian mengusap jidatnya.
Di dalam kamar,dokter Vino mulai memeriksa Kia.Dokter Vino menatap Kia lekat saat memeriksa denyut nadinya.Kia menautkan alisnya,ditatap dokter Vino begitu.
"Kenapa,Dok?"
__ADS_1