
Ceklek......
Pintu kamar mandi terbuka dan keluarlah seorang pangeran tampan tapi tua menurut Kia namun dewasa menurut si pangeran tampan itu.Kia menatapnya tajam,tapi suaminya itu tidak peduli sama sekali.Bian melenggang dengan tubuhnya yang terekspos sempurna.Pahatan roti sobek terpampang nyata dihadapan Kia.
Bian masuk kedalam walk in closet dan memakai celana tidur yang telah disiapkan oleh Kia.Bian membiarkan otot perutnya tanpa terhalang apapun.
Kia masih memainkan ponselnya membelakangi tempat Bian yang masih kosong.Kia sibuk memeriksa apakah ada tugas tambahan atau info tentang kuliahnya. Bian bergabung masuk ke dalam selimut dan memeluk Kia.Bian mulai mengganggu Kia dengan bibir dan tangannya yang sesuka hati mengecup dan meraba ke mana-mana.
Kia menghela nafas panjang,apa si'pak tua' ini tidak lelah setelah seharian bekerja? pikirnya dalam hati.
"Kita sudah menikah hampir dua bulan,apa sudah ada tanda-tanda kehidupan lain di sini?"Bian mengelus perut Kia di bawah selimut.
Deg...
Kia seketika menghentikan jarinya yang tadi sibuk menggulir layar ponselnya.Kia diam dan segera meletakkan ponselnya ke atas nakas.Kia memejamkan matanya cepat agar Bian tak lagi bertanya mengenai itu.
"Kia!Tidak usah pura-pura tidur,"Bian membalik tubuh Kia.
"Hey,buka matamu!"Bian menggigit hidung Kia.
__ADS_1
"Awww.....sakit,ih!"
"Makanya bangun,diajak ngobrol malah pura-pura tidur.Kenapa?Kamu nggak melakukan hal-hal yang aneh,kan?"tebak Bian.
"Hal-hal aneh apa sih?Gak jelas banget deh,"jawab Kia mengalihkan tatapannya dari kecurigaan Bian.
"Awas aja kalau sampai aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu yang bisa mematik emosiku,aku tidak akan segan untuk memberikan hukuman yang berat untukmu!"ancam Bian menjepit dagu Kia.
Kia menelan ludahnya dengan susah,seperti ada duri dalam kerongkongannya.Hukuman apa yang akan Bian berikan padanya nanti kalau Bian tahu rahasianya.
"Apa Mas benar-benar menginginkan seorang anak?"cicit Kia.
"Pufth....ha....ha.....,"tawa Kia pecah mendengar celotehan Bian.
"Kia......"Bian menggeram.
"Maaf.....maaf......."
Bian terpikirkan sesuatu mengingat Kia yang seperti menyembunyikan sesuatu saat ditanya tentang anak tadi.Bian turun dari ranjang dan mencari sesuatu di dalam laci nakas dikedua sisi tempat tidur.
__ADS_1
"Nyari apa,sih?"tanya Kia bingung.
Bian tak menggubris pertanyaan Kia dan berjalan menuju walk in closet karena tak menemukan apapun di dalam laci.Bian mengobrak-abrik tempat-tempat Kia menyimpan baju-baju,perhiasan dan meja rias.Bian membuka tempat Kia menyimpan aksesorisnya dan menemukan sesuatu yang membuat emosinya tersulut.
Bian keluar dan melempar apa yang ditemukannya ke hadapan Kia yang kembali memainkan ponselnya.Kia membelalakkan matanya,mengambil pil KB yang selalu diminumnya.Tubuh Kia tiba-tiba membeku melihat amarah Bian.
"Apa maksudnya ini?"tanya Bian mencengkram lengan Kia.
"Apa?"bentak Bian.
Kia masih diam seribu bahasa.Bibir Kia rasanya kelu untuk menjelaskan.Bian menyentak lengan Kia melepaskan cengkeramannya melihat Kia meringis kesakitan.Bian mencoba mengatur nafasnya perlahan agar bisa meminta penjelasan dari Kia tanpa membuatnya ketakutan.
Bian duduk di tepi tempat tidur,menyugar rambutnya kebelakang.Bian dan Kia sama-sama terdiam.Tak tahan saling diam,Bian mengambil rokoknya di laci nakas dan ke luar menuju balkon.Sesekali Bian memang merokok untuk meredakan kepenatannya.
Pushhh.....
Bian mengeluarkan asap dari sela bibirnya. Bian duduk di kursi santai yang memang disediakan di sana.Lagi-lagi Bian menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.Bian memejamkan matanya sejenak untuk menghilangkan amarah yang bercokol di hatinya.
Sementara Kia,menangis tanpa suara di atas tempat tidur dengan menggenggam pil KB.Bukan Kia tidak menginginkan seorang anak di dalam pernikahannya,Kia hanya takut kalau anaklah alasan Bian memaksanya untuk menikah dan akan memisahkannya dengan anaknya jika anak itu sudah lahir.Kia memang belum benar-benar percaya kepada Bian.
__ADS_1
"Maaf.....!"lirih Kia.