
Pagi-pagi buta Bian sudah sampai di apartemennya dan menghampiri Kia dengan mengendap-endap seperti penculik.Hampir saja Kia melemparkan pisau yang dipegangnya ke wajah Bian yang tampan dengan brewok tipisnya itu.Untung saja,Bian punya refleks yang bagus.Kalau tidak,aduh nggak kebayang deh Kia akan masuk penjara karena tuduhan pelenyapan.Kia pikir setan berbulu yang memeluknya dari belakang tadi.
Kia mengambil kembali pisau yang dipegang Bian dan melanjutkan memasak nasi goreng.Bian memeluk Kia seperti tadi dan meletakkan dagunya di bahu Kia.
"Mau masak apa?"tanya Bian yang mengendus ceruk leher Kia.Bian suka wangi tubuh Kia.
"Nasi goreng.Tuan tunggu di ruang tengah saja, nanti kalau sudah selesai saya panggil!"Kia sangat risih ditempeli jin mesum seperti Bian.
Bian mendengus mendengar Kia memanggilnya Tuan.Susah sekali apa, memanggilnya dengan benar.Kalau tidak bisa pake panggilan sayang,kan lebih baik panggil Mas kek,Kakak atau Aa.Biar terdengar lebih menghormati suami,gitu.
"Sekali lagi kamu panggil suami kamu Tuan, saya kurung kamu di sini,selamanya!"Bian pun pergi ke ruang tengah sambil menunggu Kia menyelesaikan memasak nasi goreng.
Kia berbalik melihat punggung Bian dan ingin melemparkan pisau yang dipegangnya.Bian membalikkan badannya dan melotot tajam kearah Kia.Kia jadi gelagapan dan menelan ludahnya seret.
"Berani kamu?"
Kia menggeleng cepat dan mengayunkan tangannya ke atas,"Olahraga."Kia tersenyum kikuk dan kembali melanjutkan pekerjaannya.Kia menyiapkan kopi untuk Bian sembari menunggunya memasak.
Selang berapa lama,nasi goreng ayam suwir pun sudah tersaji di meja makan.Kia memanggil Bian untuk segera datang dan sarapan bersama.Kia mengambilkan nasi goreng dan menuangkan air putih untuk Bian.Bian menyukai situasi seperti ini.Inilah keluarga yang diinginkannya.Bersama Seline,Bian selalu merasa dia tidak diistimewakan.Seline terlalu mandiri dan tidak membutuhkannya.
"Apa pak Rama juga ikut kemari?"
Bian mengangguk dan memasukkan nasi goreng yang Kia buat ke dalam mulutnya.Bian tersenyum menatap Kia,nasi goreng yang Kia buat pas di lidahnya.Bian pun kembali memakannya dengan lahap.
__ADS_1
"Kenapa Pak Rama tidak disuruh masuk?Biar sarapan bersama-sama di sini."Kia hendak beranjak dari duduknya,tapi Bian segera mencekal tangannya dan menggeleng.
"Dia juga sedang sarapan bersama Ali dan Beno di cafetaria bawah."
Kia mengangguk dan melanjutkan makannya.Kia teringat akan ponselnya dan melirik Bian yang asyik memakan nasi gorengnya.
"Ponselku mana?"lirih Kia.
Kia sebenarnya masih takut dengan Bian.Bian sangat menyeramkan kalau lagi marah.Jadi, sebisa mungkin Kia menghindari kata-kata yang bisa memancing emosi Bian.Bian menghentikan makannya dan menatap wajah ketakutan Kia.Bian heran,sebenarnya apa yang ditakutkan oleh orang-orang.Padahal wajahnya tampan dan dia juga selalu bersikap biasa saja,menurutnya.
"Sudah ku buang!"
Kia melongo mendengarnya.Itu ponsel pertama yang dia punya.Selama delapan belas tahun,Kia tidak pernah memegang yang namanya Hp sendiri.Ayahnya memang mempunyai ponsel,tapi saat itu Kia masih anak sekolah.Jadi tidak diperbolehkan Ayahnya untuk memainkannya.Dan Kia baru memilikinya setelah dia bekerja di pabrik teh kemarin.Itu juga ponsel bekas temannya yang dijual dengan harga teman.Bisa-bisanya dengan santainya suaminya yang tampan tapi tua itu bilang sudah membuangnya.
"Ini tanggung jawabku sebagai seorang suami, pergunakanlah secara bijak!Jangan digunakan untuk hal-hal yang tidak penting apalagi cuma untuk pamer,mengerti!"
Kia mengangguk menampilkan senyumnya yang lebar dan memperlihatkan gigi kelincinya yang putih bersih.Dan Bian sangat menyukai gigi kelinci itu.
"Apa aku boleh pergi,nanti?"tanya Kia.
"Kemanapun kamu pergi,Ali dan Beno akan mengantarkan dan menjagamu!Ingat,apapun yang kamu lakukan aku akan tahu.Jangan coba macam-macam di belakangku.
Aku akan pergi ke Singapura selama sepuluh hari.Jangan lakukan hal-hal yang bisa mematik emosiku selama aku pergi.Selalu minta izin padaku kalau mau melakukan apapun.
__ADS_1
"Jangan hanya menganggukkan kepala saja."
"Iya....mengerti,sangat mengerti!"
Ting....nong.....
Kia membuka pintu dan masuklah Pak Rama membawa paper bag dan memberikannya kepada Bian yang masih duduk di meja makan.Bian sudah menyelesaikan makannya sejak tadi.Bian mengambil sesuatu dari paper bag itu dan menyerahkannya kepada Kia.
"Ini ganti ponsel yang sudah aku buang!"
Kia menerimanya dengan mata berbinar.Ponsel mahal pun kini dimilikinya.Entah Kia harus bersyukur atau tidak,dipaksa menikah dengan pak tua ini.Bian mengulurkan tangannya untuk dicium Kia.Kia mengerutkan dahinya diberikan tangan oleh Bian.
Bian yang gemas pun tak sabar dan mengambil tangan Kia dan mendaratkan punggung tangannya ke bibir Kia.Tak lupa pula Bian mengecup kening dan bibir Kia singkat dan segera pergi meninggalkan Kia yang masih bengong di sana.
* * *
"Apa kau sudah melakukan yang aku perintahkan?"
Rama mengangguk,"Semua sudah dihilangkan,Tuan!Tidak ada lagi berita mengenai pernikahan Tuan dengan nona Seline di media sosial apapun."
"Hem...."
Rama pun menjalankan mobilnya menuju bandara.Mereka akan pergi ke Singapura untuk mengunjungi perusahaan cabang, seperti yang mereka lakukan setiap beberapa bulan sekali.
__ADS_1