
Wajah-wajah penuh emosi tampak jelas pada ketiga pria di sana.Bian,Rama,bahkan pak Dani,mengepalkan tangannya mendengar cerita dari Kia.
"Untung saja Kak Salwa melewati daerah sana,kalau nggak ... aku nggak tahu,aku masih hidup atau nggak sekarang!"jelas Kia.
Bian mengeratkan genggamannya dan memeluk istrinya itu.Betapa menyakitkannya,apa yang dialami oleh istri kecilnya itu.Apalagi saat itu,Kia dalam keadaan hamil.
"Apa ...,"Bian menjeda ucapannya sejenak untuk mengambil nafas.
"Apa ... Dia juga selamat?"tanya Bian melanjutkan ucapannya.
"Dia?"bingung Kia.
Tangan Bian terulur ke perut Kia."Calon bayi kita,"jelasnya.
"Coba tebak!"seru Kia berteka-teki.
"Kia,sayang!Apa ini saatnya bercanda?"Bian menggertakan giginya dengan mata yang melotot.
"He ... he ... he ... sorry!"
"Coba Pak Bian tengok wajah Biyan kami ini!"seru Salwa.
Semua mata pun tertuju pada wajah mungil yang masih sesekali menguap di atas pangkuan Salwa.Key mengerutkan keningnya seolah mengenal wajah itu.
"Kek familiar mukanya,tapi siapa yah?"lirih Key mengetukkan jarinya di dagu.
"Itu wajah Tuan Bian saat masih kecil,Nona!"jelas Rama.
"Oh,ya ampun!Dia ...,"Key menatap Kia yang menganggukkan kepalanya.
Bian perlahan mendekati putranya.Benar,matanya sama persis seperti miliknya.Dengan gerakan cepat,Bian mengambil Biyan dari pangkuan Salwa.Dipeluknya tubuh mungil itu dengan mata yang berkaca-kaca.
Sungguh tak menyangka,keduanya bisa selamat dan dipertemukan kembali dengannya.Tak sia-sia masa pencarian selama dua tahun lebih.Bian sangat bersyukur,Tuhan memberinya kesempatan untuk bisa berkumpul bersama keluarga kecilnya lagi.
Biyan yang sudah sepenuhnya sadar dari kantuknya,tiba-tiba menangis ketakutan.Dia baru pertama kali melihat wajah Bian,wajar saja kalau merasa takut.
Bocah satu setengah tahun itu terus meronta minta diturunkan.Tangan mungilnya memukul-mukul bahu Bian.Kia segera mengambil alih putranya dari pelukan suaminya.
Melihat anaknya yang menangis sesenggukan,Bian menggaruk-garuk pelipisnya merasa bersalah.Ternyata benar apa yang dibilang Rama,dia terlihat menyeramkan dengan bulu yang tumbuh berantakan di sekitar rahangnya.Belum lagi,rambutnya yang sedikit lebih panjang.
Dia lebih mirip seorang penjahat dari pada seorang pemilik perusahaan.Key menahan tawanya melihat kakaknya yang seperti merasa rendah diri melihat penampilannya sendiri.
"Kan gue sudah bilang,zombie lebih enak dipandang mata daripada lo,"bisiknya mendekati kakaknya itu.
Mendengar ejekan yang terlontar dari mulut adiknya itu,membuat Bian bertambah kesal.Bian merangkul leher Key lalu memiting kepalanya dan mengacak-acak rambutnya sampai benar-benar berantakan.
__ADS_1
"Ram,kenapa alien satu ini belum kau lempar ke laut?"kesal Bian terus memiting kepala adiknya yang menjengkelkan itu.
"Aaaa ... sakit,kak!Ampun ...!"teriak Key.
"Ada apa dengan mereka ini?Sudah jadi orang tua,kelakuannya masih kek bocah aja,"gumam Salwa geleng-geleng kepala.
"Itulah persaudaraan,Yang!Kalau ketemu lebih sering berantem daripada akur.Tapi,kalau jauh,pada saling nyariin,"imbuh pak Dani.
"Anda benar sekali,Tuan!"Rama tiba-tiba bersuara.
"Astogeh!!!"kaget Salwa melirik Rama yang sudah berpindah tempat duduk disamping suaminya.
Melihat dua orang yang sedang bergulat itu malah membuat Biyan menghentikan tangisnya.Bocah itu seketika tertawa kencang melihat rambut Key yang sudah seperti rambut singa.
Bibir Bian melengkung mendengar tawa renyah putranya itu.Menyadari pertahanan kakaknya melemah,Key melepaskan kepalanya dari ketiak Bian.Bibirnya manyun lima senti,melototi kakaknya yang super duper tega padanya.
"Sudah dulu ya berantemnya!Hari sudah mulai sore ini.Sebaiknya kalian istirahat dulu!"ucap Salwa.
"Oh,iya!"Salwa menepuk keningnya.
"Kenapa,Sayang?"tanya pria yang baru beberapa jam menjadi suaminya.
"Tadi kan,rencananya kita mau belanja.Aduh ... mana sudah sore lagi,pasar sudah tutup ini pasti."
"Yah ... maaf ya Kak!Kita pesan makanan aja yah!"saran Kia merasa bersalah.
"Kalian tenang aja,sebagai permintaan maaf dari Kak Bian,biar Dia yang mengurus semuanya.Kalian tinggal terima beres,oke?"Key menyatukan ibu jarinya dengan jari telunjuk.
"Kamu memang Adikku yang paling tahu,"Bian kembali mengacak rambut Key.
"Okelah kalau begitu,"ucap Salwa mengembangkan senyumnya.
"Ya sudah,aku mandiin Biyan dulu!"pamit Kia.
"Rama!"Bian menatap Rama memberi kode.
"Baik,Tuan!"
Bian pun menyusul istrinya masuk ke dalam kamar tanpa permisi pada pengantin baru yang merupakan salah satu pemilik rumah itu.Salwa dan Kia membeli rumah itu berdua.Jadi,merekalah pemiliknya.
"Pak,mau nanya dong!"kata Key menatap pasangan dihadapannya itu.
"Ckk ... kenapa sih kalian suka sekali manggil saya Pak?Ini bukan ruang kelas,"protes pak Dani.
"Lah,kalo cowok kan dipanggil bapak atau nggak pak,kan?"tanya Key heran.
__ADS_1
"Dasar Dianya aja yang ... ah,entahlah!"imbuh Salwa.
"Ya,udah.Mau nanya apa?"sebal pak Dani.
"Pak Dani ini,orang kaya kan,ya?Tapi,kenapa nikahin anak orang kek gitu doang?Nggak modal banget, perasaan!"ujar Key mengundang kekesalan.
Orang yang dibilang tidak bermodal menyipitkan matanya,kesal.Sementara Salwa hanya menahan tawanya melihat wajah kesal suaminya.
"Nanti,saya akan mengadakan resepsi pernikahan yang sangat megah.Kamu tunggu saja undangan dari kami!"sewot pak Dani lalu beranjak pergi ke kamar.
"Idih,ngambek!"ucap Key.
"Kamu sih,ngomongnya,suka bener."Kedua gadis itu saling tatap lalu tertawa bersama.
* * *
Di dalam kamar mandi,dengan telaten Kia memandikan putranya sambil bersenandung kecil.Bian ingin ikut masuk dan memandikan putranya bersama.Tapi,melihat tampilannya di cermin meja rias Kia,dia mengurungkan niatnya itu.
Bian tidak ingin anaknya merasa ketakutan dan menangis seperti tadi.Akhirnya,dia hanya menunggu,duduk di tepi tempat tidur sembari memperhatikan setiap sudut kamar itu.
Kamarnya tidak terlalu besar dibandingkan dengan kamar mereka di apartemen.Tapi,semua tata letak barang-barangnya tersusun rapi.Ciri khas dari seorang Kia.Lantainya dipasang karpet empuk karena Biyan yang belum terlalu lancar berjalan.
Kia keluar dari kamar mandi menggendong Biyan yang terbalut handuk ditubuhnya.Ditaruhnya tubuh mungil itu tak jauh dari papanya,sementara dia menyiapkan baju.Keduanya saling terdiam.Bian bingung harus apa,sedangkan Biyan tak terlalu peduli dengan keberadaan pria yang terus memperhatikannya.
Kia melihat bayangan ayah dan anak itu melalui cermin.Senyumnya terbentuk melihat kecanggungan diantara keduanya.Buru-buru,Kia mengoleskan minyak telon pada putranya itu agar tidak kedinginan dan segera memakaikannya baju.
Setelah anaknya sudah rapi dan wangi,Kia sengaja menitipkan Biyan pada papanya.Awalnya Bian ragu,tapi dia harus mendekatkan dirinya pada putranya agar tak lagi takut padanya.
"Mama mandi dulu,yah!Kamu main dulu sama Papa,oke!"seru Kia lembut mencium pipinya.
"Tapi,Ki-"
"Kamu Papanya,Mas!Kamu nggak mau kan,anak kamu takut terus melihat kamu?"
"Hem ...."
Kia pun berjalan menuju kamar mandi.Bian menggaruk kepalanya,bingung.Perlahan,dia mendekati putranya.
"Halo,mau Papa gendong?Kita main keluar!"Bian mengulurkan kedua tangannya.
Bocah itu malah memandang pria dihadapannya itu begitu tajam.Wah,jiplakan gue nih bocah,batin Bian.
"Saya Papa kamu,bukan orang asing.Lihat,wajah kita hampir sama,kan?"tanya Bian menunjuk cermin.
Biyan melihat arah yang ditunjuk Bian,entah apa yang ada dipikirannya.
__ADS_1
"Aduh ... Dia ngerti nggak sih apa yang aku omongin?"tanya Bian pada dirinya sendiri.