Istri Simpanan Pak Tua

Istri Simpanan Pak Tua
Wajah yang Mencurigakan


__ADS_3

Bian sedang mandi saat Kia mendengar ponsel suaminya berdering di atas nakas samping tempat tidur.'Seline' nama yang tertera di layar ponsel itu.Kia membawanya ke depan pintu kamar mandi untuk memberitahu Bian,mungkin saja itu panggilan penting.


"Mas,ada telepon!"teriak Kia.


Kia mengetuk pintunya karena tak ada sahutan dari dalam.Mungkin karena gemericik air dan juga kamar mandi yang tertutup,membuat suara Kia tersamarkan.


Karena begitu lama tak ada jawaban dari panggilan itu,ponsel Bian akhirnya berhenti berdering.Kia kembali meletakkannya di tempat semula dan masuk ke walk in closet untuk menyiapkan keperluan suaminya bekerja.


* * *


Seline membanting ponselnya ke atas tempat tidur.Kekesalan tercetak jelas di wajahnya. Sudah beberapa hari ini,Papanya selalu mengawasi pergerakannya dan terus mendesaknya untuk membujuk Bian agar tidak kembali membahas tentang perceraian.


Bahkan untuk berbicara dengan kekasihnya saja,Dia tidak bisa.Kenapa cuma gara-gara hal sepele seperti ini,papanya harus sampai seperti ini.


"Ke mana sih Lo,Bian?Bahkan telepon dari gue Lo nggak mau angkat?Bikin susah hidup gue aja tuh orang,"kesalnya.


* * *


"Tadi ada telepon dari.....Seline,kalau nggak salah namanya!"


"Uhukkkk......uhukkkk......"Bian terbatuk mendengar Kia menyebut nama Seline.


Kia menepuk-nepuk punggung Bian dan memberikan minum padanya.


"Pelan-pelan makannya,Mas!"


"Em...terima kasih."


"Lebih baik?"


Bian mengangguk dan menatap istrinya itu.Bian menelisik wajah Kia,tidak ada ekspresi yang mencurigakan di sana.Haruskah Dia bernafas lega.Kia mengibaskan tangannya di depan mata Bian.

__ADS_1


"Mas.....Mas......!Kenapa?"


"Hah?"


"Kenapa malah bengong menatap wajahku?"


"Em...itu...e....apa dia menanyakan sesuatu?"


Kia mengernyit,"Siapa?"


"Seline.Katanya ada telepon dari Seline,tadi."


"Oh....em...nggak ada sih.Orang nggak aku jawab juga.Tadi itu aku ketuk-ketuk pintu kamar mandi dan teriak panggil-panggil kamu,tapi kamu nya nggak denger.Mungkin karena lama nggak diangkat,jadi orang yang nelpon kesal dan mematikan sambungannya."


"Hufth.....syukurlah!"


"Kenapa?Kok kayak takut banget gitu?Dari namanya sih sepertinya Dia seorang perempuan.Apa Dia-?"


"Ya abisnya muka kamu itu kelihatan mencurigakan banget."


"Nggak,biasa aja!"


"Kalau biasa aja,kamu kasih tahu aku siapa Dia?"


"Aku kasih tahu juga kamu nggak akan kenal juga,kan?"


"Tuh kan,kamu nggak mau jawab.Berarti memang benar ada apa-apa.Jangan sampe aku cari tahu sendiri ya,Mas!"


Bian menghentikan makannya dan memegang tangan istri kecilnya itu."Kamu nggak perlu berpikir macam-macam,aku pastikan dia bukanlah siapa-siapa untukku,hum!"


"Ok,aku pegang omongan kamu.Tapi,kalau sampai aku tahu kamu bohong,aku juga pastikan kamu akan mendapatkan hukuman yang berat dariku!"

__ADS_1


"Oh,ya?Hukuman apa sih emangnya,hum?"


Bian mendekatkan wajahnya hendak mencium bibir Kia,tapi Kia cepat mendorongnya.


"Aku akan kabur darimu!"cengir Kia.


Kia mengucapkan itu sebagai sebuah candaan tapi tidak bagi Bian yang mendengarnya.Wajahnya langsung berubah,rahangnya mengeras dengan gigi yang bergemelatuk.Bian tidak suka mendengar kata 'kabur' keluar dari bibir istrinya itu.


"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Kemanapun kau pergi dariku,aku pasti akan menemukanmu!"geram Bian.


"Iya...iya.....!Ya ampun,ngeri banget deh,mukanya.Sudah,makan lagi!"


"Aku sudah kenyang.Aku berangkat dulu!"


"Kamu marah?"


"Nggak."


"Kok nggak dihabisin makannya?"


"Aku sudah kenyang,Kia!Sudah telat juga kalau harus makan lagi,"sewotnya.


"Iya juga,sih!Kalau begitu,aku bawain kamu bekal aja,ya?"


Sementara Kia mempersiapkan bekal yang akan di bawa Bian,Bian melihat kembali ponselnya.Banyak panggilan tak terjawab dari Mommy,Key,dan Seline.Belum sempat membuka pesan dari mereka,Kia sudah berjalan kearahnya.Bian memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya.


"Ini!Jangan sampai telat makan lagi seperti kemarin-kemarin!"


"Hem."


"Kok,hem doang!Senyumnya mana?"

__ADS_1


Bian menghela nafasnya.Walau masih kesal dengan istrinya ini,Bian tersenyum juga.Istri bocahnya ini memang paling bisa membolak-balikkan perasaannya.Kia mencium pipi Bian dan tersenyum manis agar 'pak tua'nya itu tidak merajuk.Setelah melakukan kebiasaan yang seperti mereka lakukan sebelum berangkat bekerja,Bian pergi menemui Rama yang sudah standby di depan pintu apartemen dan berangkat menuju kantornya.


__ADS_2