
Seorang wanita cantik melangkahkan kakinya yang jenjang memasuki teras depan kediaman keluarga Tuan David.Maid membukakan pintu dan mempersilahkannya masuk karena tahu,wanita ini cukup sering berkunjung untuk menemui Nyonya Sofia.
"Nyonya,Nona Sania datang berkunjung,"beritahunya.
Sejak Seline resmi bercerai dari Bian,Sania gencar mendekati Bian berharap bisa menggantikan posisi sepupunya yang telah tersingkir sebagai istri dari Abian Abraham.
Sania juga menyandang status seorang janda tak lama setelah sepupunya itu bercerai.Dia menggugat cerai suaminya karena pria malang itu tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang glamor dan penuh hura-hura.
Itulah sebabnya,Sania memilih Bian sebagai targetnya selanjutnya.Dia sudah kalah dengan Seline waktu itu.Sekarang,Bian sudah menjadi seorang duda.Sudah saatnya dia maju untuk mengambil hati Bian.Sania tidak tahu kalau Kia,sang istri simpanan telah kembali bersama dengan Bian.
"Hay,Tante!"Sania mencium pipi kiri dan kanan Nyonya Sofia.
"Hay, sweetie!Long time no see,"balas Nyonya Sofia.
Nyonya Sofia mengajak Sania duduk di sampingnya.Tak lama,seorang maid menghampiri mereka membawakan teh juga kue untuk disajikan di atas meja.
"Iya.Kebetulan proyek kerjasama dengan perusahaan Bian yang di kota sebelah sedang sibuk-sibuknya,Tante!"ujar Sania.
"Oh,begitu."
Sebenarnya Nyonya Sofia tidak begitu menyukai kehadiran Sania yang dia ketahui sebagai sepupu dari mantan istri putranya.Dia tahu kalau Sania memiliki niat terselubung di balik sikapnya yang bermulut manis padanya.
Tapi,dia datang sebagai seorang tamu,meski tidak ada yang mengundangnya.Tidak mungkin juga kan, Nyonya Sofia mengusirnya.Jadi,mau tak mau,dia harus meladeninya.
Untunglah kali ini, kedatangan Sania hanya sekedar mampir karena harus melanjutkan pekerjaannya yang deadline,katanya.Key yang hari ini tidak datang ke butiknya menghampiri Mommynya yang habis mengantarkan Sania sampai ke depan.
"Ngapain tuh janda gatel datang kemari?Sudah bagus Dia lama nggak mampir,"ucap Key.
"Biasa,nanyain Kakak kamu,"ujar Mommynya.
"Oh,masih belum nyerah juga.Padahal Kak Bian nggak pernah tuh,nanggepin Dia."
"Sudahlah,biarkan saja!Kalau sudah tahu Bian sudah ada pawangnya,nanti Dianya mundur perlahan."
"Semoga aja,Mom."
__ADS_1
Key mengajak Mommynya untuk masuk kedalam menyusul Daddy David yang sedang sibuk berkebun di halaman belakang.Itulah kesibukan Tuan David dimasa tuanya.Sudah banyak sayuran organik yang ditanamnya sendiri di lahan yang memang dia sediakan untuk berkebun.
* * *
Hari ini,Bian mengajak istri juga anaknya untuk melihat rumah yang sudah lama ia buatkan untuk tempat tinggal mereka sebagai keluarga kecil.Pagi-pagi sekali mereka sudah berangkat menuju rumah yang letaknya masih di kota yang sama dengan orang tua Bian.
Hal itu dikarenakan kantor pusat dari perusahaan ABR COMPANY juga berada di kota itu.Bian tidak harus memburu waktu seperti dua tahun yang lalu,ketika masih tinggal di apartemennya.
Sampai di sana,pak Ali dan pak Beno menyambut pemilik rumah dengan senyum yang mengembang.Akhirnya,tugas mereka untuk menjaga Kia datang kembali.Apalagi kini ditambah satu pria kecil.Pak Ali dan pak Beno tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua yang Bian berikan kepada mereka.
"Selamat datang,Non!"seru pak Beno.
"Terima kasih,Pak Ali,Pak Beno,"balas Kia.
Bian menggamit tangan istrinya untuk masuk ke dalam dengan Biyan yang berada dalam gendongannya.Pak Ali dan pak Beno membawakan koper Kia juga anaknya mengikuti bosnya itu.
Rumah itu tidaklah besar seperti mansion utama orang tua Bian.Tapi,bangunan dua lantai itu sama persis seperti rumah yang Kia idamkan jika ia memiliki rumah sendiri.
'Speechless' itulah yang Kia rasakan ketika membuka pintu.Di dalamnya ternyata tak kalah cantik dengan penampakan luarnya.
"Kamu masih inget rumah idamanku,"ucap Kia dengan mata berkaca-kaca.
"Kita lihat ruangan yang lain?"tanya Bian merangkul leher Kia.
"Hem."Kia mengangguk semangat.
"Bawa langsung kopernya ke kamar utama!"seru Bian pada pak Ali dan pak Beno.
"Baik,Bos."
Setelah berkeliling melihat seluruh ruangan di lantai satu yang ada di rumah baru mereka,Bian pun mengajak istri serta putranya masuk ke dalam kamar mereka yang berada di lantai dua.Ternyata kamar Bian dan Kia dibuat terpisah dengan kamar Biyan.
"Biyan nggak tidur sama kita?Dia masih kecil loh,Mas!"ucap Kia sedikit khawatir.
"Untuknya tidur siang.Di sana juga ada mainan-mainannya.Jadi,kalau mau main di sana saja.Nanti,kalau usianya sudah tiga atau mungkin empat tahun,baru kita biasakan untuk tidur sendiri di kamar ini.Di pojokan sana juga ada connecting door nya,"jelas Bian.
__ADS_1
"Kamu benar-benar sudah menyiapkan semuanya."
"Kamu suka?"
"Banget ... banget ... banget ...."ucap Kia girang.
"Apa jagoan Papa juga suka?"tanya Bian menciumi pipi putranya.
Bukannya menjawab,Biyan justru tertawa karena ulah ayahnya yang terus menciumi pipinya sembari menggelitiknya dengan hidung mancungnya.Bian malah meneruskan ulahnya dengan membawa putranya ke atas ranjang.
Kia melanjutkan langkahnya untuk melihat-lihat ruangan yang ada di dalam kamarnya.Ada satu hal yang menarik perhatian Kia saat dia sampai di dalam walk in closet.
Di sana,ada sebuah ruangan yang tidak terlalu besar,tapi juga tidak terlalu kecil.Ruang rahasia sepertinya.Ruang tersebut berisi satu ranjang yang agak besar dengan dihiasi lampu LED strip yang membuat ruangan itu terlihat nyaman dan romantis.
Otak Kia langsung menjurus ke hal-hal yang membuat pipinya panas dan merona.Suami 'Pak Tua'nya ini terkadang out of the box,pikirannya.Kia hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Kamu suka di sini?"bisik Bian tepat ditelinga Kia dan mengecupnya.
Kia terkesiap mendengar bisikan Bian yang membuatnya merinding.Bian memeluk lehernya dari belakang sembari mengendus aroma vanilla pada tubuh Kia yang sangat disukainya.Kia memutar tubuhnya,tapi Bian menahannya diposisi itu.
"Di mana Biyan?"tanya Kia menahan rasa geli yang ditimbulkan dari ulah suaminya.
"Dia sudah diambil alih oleh Oma, Opa serta Aunty nya yang baru datang,"ucap Bian menciumi leher Kia.
Bian mengangkat tubuh Kia ala bridal menuju ranjang.Diletakannya secara perlahan tubuh istrinya seraya mendaratkan bibirnya pada bibir sang istri.Ciuman pun kini semakin turun,membuat ******* keluar dari bibir istrinya.Dan,saat tangan nakal si 'pak tua' akan membuka apa yang seharusnya dibuka,Kia berteriak.
"STOP!"Kia mendorong tubuh suaminya.
"Kenapa?"protes Bian.
"Aku lagi 'Red Day',Mas!"ucap Kia.
"Jangan bohong!Semalem kita masih melakukannya."
"Baru tadi pagi keluarnya!"
__ADS_1
Bian buru-buru mengecek apa yang istrinya itu katakan.Dan ternyata benar,Kia lagi palang merah.Bian menjatuhkan tubuhnya di samping Kia dengan lemas.Baru juga semalam melakukan malam pertama untuk yang kesekian kalinya,eh harus dipending lagi selama satu Minggu kedepan.
"Aarghhh ... nasib ... nasib ...!"