
Sampai di kantor,Bian langsung masuk ke ruangannya diikuti oleh Rama.Hari-harinya sudah mulai membaik sejak istrinya kembali.Apalagi sang istri membawa serta buah cinta mereka,Biyan.
"Bagaimana?Apa semuanya aman selama aku tidak masuk?"tanya Bian memeriksa laporan yang Rama berikan.
"Ya,Tuan."
Tak berapa lama Rama keluar dari ruangan Bian,Sania masuk dengan membawa paper bag yang Bian yakin itu berisi makanan.Bian tak habis pikir dengan keponakan dari mantan istrinya ini,sudah ditolaknya secara terang-terangan,masih saja keukeh.
"Morning,"ucapnya.
Bian meliriknya sekilas lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.Tak mendapat respon dari Bian,Sania mendengus kesal.Sok jual mahal sekali,batinnya.
"Bi,kamu lihat aku dong!Aku bawain sarapan untuk kamu.Kita sarapan sama-sama,ya!"seru Sania.
"Sorry,aku sudah sarapan di rumah,"jelas Bian.
"Ckkk ... kamu tuh kenapa sih,nggak suka banget kayaknya dapet perhatian dari aku?"tanya Sania sebel.
Melihat penunjuk waktu yang melingkar di pergelangan tangannya,Bian bernafas lega karena bisa menghindari Sania yang terus mendekatinya.Bian bukanlah pria yang mudah terbujuk rayu seorang wanita.Apalagi suka memanfaatkan situasi.
Dia pria yang sulit melabuhkan hatinya dan sekali dia memberikan hatinya pada seseorang,maka dia akan melakukan apapun untuknya.Tapi,jika seseorang itu mengkhianatinya,Bian akan membuatnya membayar setiap detik rasa kecewa yang dia rasakan.
"Sorry,Sania.Saya harus meeting,"ucap Bian mengusir Sania secara halus.
Sania menghela nafasnya berat,sulit sekali mencairkan hati pria dihadapannya ini.Kurang apa coba dirinya.Cantik,pintar,seksi,dia punya semua itu.
"Ya,sudah.Ini untuk kamu makan siang aja,"ujar Sania memberikan paper bag yang dibawanya tadi.
"Tidak perlu,kamu bawa kembali saja!Atau kamu kasih ke orang lain,"tegas Bian.
"Nggak boleh nolak rezeki,Bian!"paksa Sania.
Tidak ingin memperpanjang perdebatan,Bian akhirnya menerimanya.Sania terlihat senang bukan kepalang.Tapi,rasa senangnya itu tidak bertahan lama karena Bian memberikan makanan yang dia beri kepada sekretarisnya.
"Ambil!"ucap Bian datar.
Sekretaris itu menatap Sania yang melotot kan matanya ke aranya.Mau menolak,dia lebih takut pada Bosnya.Lebih baik dibenci oleh Sania yang hanya rekan kerja bosnya daripada ditandai oleh bosnya.Mencari pekerjaan susah di jaman sekarang ini.
"Tidak boleh menolak rezeki.Iya,kan Sania?"tanya Bian mengulang perkataan Sania tadi.
Mau tak mau,Sania menganggukkan kepalanya.Ya sudahlah,tak dapat hari ini,akan dicobanya lagi esok hari.Sania pun pamit dari kantor Bian dengan rasa dongkol yang bercokol di hatinya.
__ADS_1
"Lain kali,kalau ada Dia,usahakan jangan suruh Dia masuk ke ruangan saya."
"Baik,Pak."
* * *
Di taman belakang rumah,Kia sedang sibuk merawat tanaman yang memang sudah ditata cantik di sana.Anaknya seperti biasa diajak main oleh kedua mertuanya di ruang keluarga sembari menonton acara TV.
Tuan David dan Nyonya Sofia masih betah bermain dengan cucunya itu.Mereka pada awalnya berat melepaskan keluarga kecil Bian untuk pindah ke rumah barunya.
Mansion nya yang luas sangat terasa sepi sekali.Tapi,mereka juga tidak bisa memaksakan kehendaknya pada Bian.Sudah cukup masa lalu mereka jadikan pelajaran.
"Cucu Opa bosan tidak main di rumah terus,hum?"tanya tuan David.
"Gimana kalau kita jalan-jalan,Dad?"usul Nyonya Sofia.
Biyan yang belum sepenuhnya mengerti hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.Nyonya Sofia mengambil gawainya dan mengetikkan sesuatu untuk putranya.
"Mommy bilang ke Kia nya dulu!"
Nyonya Sofia melenggang pergi menuju taman belakang,di mana Kia berada.Kia tersenyum melihat ibu mertuanya yang datang menghampirinya.
Berhubung semua bunga cantik di tamannya sudah mendapatkan perhatian darinya,Kia mengangguk setuju.Tidak ada pekerjaan juga di rumah.Kia mengajak putranya itu untuk bersiap-siap sebelum pergi,begitu juga mertuanya.
Mereka berempat pun pergi dengan menggunakan mobil yang sengaja Bian siapkan.Pak Ali yang menjadi sopirnya seperti biasa.Untunglah,pak Ali tidak mengalami trauma berat akibat dari kecelakaan waktu itu.Mereka pergi dengan dikawal pak Beno dari belakang dengan motornya dan beberapa bodyguard nya Tuan David.
* * *
Hampir tiga jam Bian dan Rama melakukan presentasi untuk proyek yang mereka ajukan.Namun sayang, proyek itu jatuh ke tangan perusahaan lain.
"Wah ... ada apa ini Pak Bian?Apa Anda sudah tidak sehebat dulu saat bersama dengan putriku?"ejek pak Anggara,mantan mertuanya.
Bian tersenyum miring mendengar ejekan pak Anggara.Dia memang memenangkan proyek itu,tapi dengan cara curang.Pak Anggara sengaja membayar seseorang yang juga bertanggung jawab dalam pengerjaan rancangan proyek yang akan mereka presentasikan.Dan Bian sudah menangkap orang itu.
"Apa Pak Anggara tidak curiga?Kenapa Anda memenangkan proyek itu dengan mudahnya?"tanya Bian memasukkan tangannya di saku celananya.
"Karena saya sengaja memberikan proyek itu kepada Anda.Coba saja Anda memintanya baik-baik,saya pasti akan langsung memberikannya.Tanpa harus bertindak curang seperti ini.
Dan Pak Anggara tahu,karena tawaran dari Anda yang tidak seberapa,seseorang harus kehilangan pekerjaannya hari ini.
"Belajarlah dari menantu Anda.Meski perusahaannya tidak sebesar perusahaan Anda, setidaknya Dia merintisnya dengan kejujuran."
__ADS_1
Memang Ken,kekasih yang sekarang sudah menjadi suami dari Seline Anggara adalah seorang pengusaha yang bersih.Dia membangun perusahaannya dengan usahanya sendiri.Dia juga pekerja yang jujur dan bertanggung jawab.
Bian tidak pernah menaruh dendam pada Ken.Karena dia juga tidak sedikitpun mempunyai rasa pada Seline.Justru Bian merasa bersalah karena sudah menjadi penghalang diantara keduanya.
Oleh sebab itu,Bian menerima kerjasama yang Ken ajukan sebagai permintaan maafnya juga karena Bian tahu Ken itu pengusaha yang seperti apa.Dia selalu menyelidiki terlebih dahulu bagaimana track record orang yang akan menjadi rekan bisnisnya.
Pak Anggara mengepalkan kedua tangannya mendengar Bian mengungkit tentang suami dari putrinya yang belum dia restui hingga saat ini.Menurutnya,Ken tidak pantas untuk menjadi menantunya.Karena Ken hanyalah pengusaha kecil.
* * *
"Halo,kesayangannya Aunty!"
Teriak Key menyapa keponakan tersayangnya.Saat ini,mereka sedang berada di parkiran sebuah restoran.Mereka sudah puas berkeliling dan akan makan siang.
"Nty ...!"panggil Biyan.
"Uluh ... uluh ... sini sama Aunty!"Key mengambil Biyan dari gendongan Opanya.
Tuan David memang selalu ingin dekat dengan cucu satu-satunya ini.Dari berkeliling tadi,dia selalu menggendongnya.Kia merasa tidak enak karena Daddy dari suaminya itu sudah tidak muda lagi,takutnya dia malah kecapekan atau sakit.Tapi,Tuan David menolaknya saat Kia akan mengambil Biyan dari gendongannya.
Saat akan memasuki restoran,Bian dan Rama ternyata akan makan siang di sana juga.Jadilah mereka makan bersama di sebuah ruangan khusus.
"Pergi kok nggak minta izin sama aku dulu,sih?"sewot Bian.
Ckk ... Mommy kan sudah kirim pesan ke kamu!"jawab Nyonya Sofia tak kalah sewot.
Bian memeriksa ponselnya dan benar,pesan sudah terkirim dari saat dia mulai pertemuan tadi.Pantas saja dia tidak tahu,karena ponselnya dalam mode silent.
My Mommy
[Mommy bawa mantu dan cucu Mommy jalan-jalan.]
Isi dari pesan yang Nyonya Sofia kirimkan padanya.Bian berdecak,itu bukan minta izin lebih tepatnya memberitahu.
"Lagian kalian ini,kenapa malah pada nyusul sih?Kayak nggak ada kerjaan aja di kantor sama di butik,"kesal Nyonya Sofia.
"Idih ... Mommy gimana sih?Ini kan jamnya makan siang dan Mommy lupa apa kalau butik Key ada di seberang restoran ini?"
"Aku sama Rama juga habis ada pertemuan disekitar sini.Dan pas banget waktunya untuk makan siang.Ya udah,kita mampir dulu ke sini.Kalau nggak ... Hem,istriku yang cerewet bisa ngamuk nanti kalau tahu aku melewatkan makan siang,"jelas Bian menatap istrinya.
"Kamu itu Mas,diperhatiin kok malah ngatain cerewet,"rajuk Kia.
__ADS_1