Istri Simpanan Pak Tua

Istri Simpanan Pak Tua
Sabar....Sabar.....Sabar......


__ADS_3

Kia mengantar dokter Vino keluar kamarnya sampai pintu.Setelah dokter Vino sampai tepat di depan pintu,Kia kembali menutup pintunya dengan keras sampai membuat tiga pria yang berdiri di depan pintu memegang dadanya.Untung jantungnya Tuhan yang buat,coba kalau buatan pabrik,aduh bisa copot itu jantung dari tempatnya.


Bian dan Rama yang menunggu didepan pintu menatap dokter Vino,menunggu penjelasannya.


"Istriku baik-baik saja kan?"


"Kenapa buru-buru?Ayo,kita duduk dulu!"ajak dokter Vino.


"Langsung aja,nggak usah bertele-tele!"sebal Bian.


"Ckk,gitu aja ngambek.Nona cantik baik-baik saja,nggak perlu khawatir berlebihan seperti itu!"


Dokter Vino berjalan menuruni anak tangga tanpa memperdulikan tatapan tajam yang Bian berikan karena sudah lancang memuji istrinya.Rama pun mengekor di belakang dokter Vino.Bian jadi tambah kesal dan ingin mengetuk pintu kamar,siapa tahu istri kecilnya sudah tidak terlalu marah.


"Sudahlah,biarkan Dia sendiri dulu!"ucap dokter Vino yang masih bisa melihat Bian yang akan mengetuk pintu.


Rama membawa nampan dengan tiga cangkir kopi diatasnya dari dapur dan meletakkannya di atas meja didepan Bian,Vino dan dirinya sendiri.


"Jelaskan lebih rinci mengenai istriku!apa yang dirasakannya?Jangan coba untuk menyembunyikan hal sekecil apapun!"tegas Bian.


Dokter Vino melihat tatapan mata Bian,gurat kekhawatiran tampak jelas di sana.Dokter Vino menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa dan menghela nafas panjang.


"Keadaan fisiknya baik-baik saja.Cuma sedikit luka di sudut bibirnya,mungkin tergores cincin saat ditampar,"jelas dokter Vino yang tadi melihat pipi Kia yang masih agak memerah.


"Ditampar?"ulang Bian dengan kilat amarah.


Dokter Vino mengangguk,"Mungkin,perutnya juga sedikit keram tadi katanya.Tapi gue sudah memberikan obat,tadi."


"Kia pasti sangat marah!"lesu Bian.


"Lebih tepatnya kecewa!"dokter Vino membenarkan.

__ADS_1


Terjadi keheningan sejenak diantara ketiga pria itu.Sampai suara ponsel Rama berbunyi. Rama membuka ponselnya,pesan dari Kia ternyata.Rama menatap Bian dan menunjukkan isi dari pesan itu.


[Pak Rama,suruh Pak Tua pembohong itu membeli nasi padang pake sayur daun singkong,sambal hijau dan ayam goreng.Dan jangan lupa es semangka]


[Harus Dia yang beli,nggak boleh orang lain]


[CEPAT!!!!!!]


Bian menyunggingkan senyum lebar dan langsung meminta kunci mobil dari Rama.Bian sadar kalau istri kecilnya sangat kecewa padanya,tapi Bian bersyukur Kia masih mau berinteraksi dengannya walau tidak secara langsung.Dokter Vino mengambil ponsel Rama dan melihat apa yang dilihat oleh Bian sampai berlari heboh seperti itu.


"Dasar bocah!Ada-ada aja kelakuannya,"dokter Vino geleng-geleng kepala.


"Dokter yakin tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari Nona Kia?"tanya Rama memicingkan matanya.


"Maksudmu?"


"Entahlah!Dokter yang lebih tahu."


"Kalau nggak percaya,tanya saja sama orangnya sana!"Dokter Vino memalingkan wajahnya.


"Sayang,ini pesanan kamu sudah aku beliin!"Bian mengetuk pintu.


"Tuan,biar saya yang bawa!"Rama menyusul dan memperlihatkan isi pesan dari Kia.


"Nona,ini saya!"ucap Rama.


Pintu terbuka dan Kia mengambil nampan dengan apa yang diinginkannya tadi.Rama pun ikut masuk karena memang Kia yang menyuruhnya.Bian cuma bisa menghela nafas berat.


"Sabar,Bian!Sabar!!!!!"monolognya yang mulai sudah agak kesal.


Di dalam kamar,Rama berdiri di hadapan Kia yang tengah meminum es semangkanya.

__ADS_1


"Pak Rama pasti tahu apa yang terjadi di kampus tadi!"


"Iya,Nona!"


"Dan Pak Rama pasti tahu kan apa yang akan terjadi besok!"


Rama mengangguk.Kia menatap Rama yang hanya menundukkan kepalanya.


"Apa Pak Rama bisa mengatasinya?Pak Rama tahu kejadian yang sebenarnya,tapi mereka nggak tahu apa-apa.Dan karena mereka nggak tahu apa-apa,mereka pasti akan dengan senang hati membuka suara tanpa diminta.Iya kan,Pak?"Rama lagi-lagi mengangguk.


"Saya hanya ingin lulus tanpa kendala,apa itu mungkin?Saya juga tidak ingin stress dengan pertanyaan-pertanyaan dan tatapan ejekan dari mereka,apa Pak Rama bisa mengatasi situasi yang akan terjadi kedepannya?"Kia memohon bantuan.


"Saya dan Tuan Bian akan mengatasinya sebaik mungkin!"


"Terima kasih dan maaf sudah merepotkan,"lirih Kia.


"Itu sudah menjadi tugas saya!Saya permisi,Nona!"


Kia mengantar Rama sampai pintu dan kembali menguncinya dari dalam.Rama menelan ludahnya dengan susah mendapat tatapan tak mengenakan dari Bian.Bian memberi kode Rama lewat matanya agar mengikutinya.


Di ruang kerja,Rama langsung menyerahkan ponselnya.Sebelum datang menghampiri Bian tadi,Rama sempat mengaktifkan perekam suara pada ponselnya.Hal itu dilakukannya untuk meminimalisir kesalahpahaman yang mungkin akan terjadi. Karena Rama sangat tahu bagaimana Tuannya yang sangat pencemburu itu.


Bian mengepalkan tangannya mendengar Istrinya memohon.Ini adalah murni kesalahannya,tapi istrinya yang mendapatkan penghinaan.Dan orang tuanya sendiri yang melakukannya.


"Bereskan semuanya!"perintah Bian.


"Baik,Tuan!"Rama pun pergi.


* * *


"Mom,bagaimana kalau Bian marah?"takut Seline.

__ADS_1


"Kamu tenang saja!Kalau Dia marah,biar Mommy yang menghadapinya."


Seline mengangguk,tak perlu meminta secara langsung untuk membatalkan perceraian.Bian sendirilah yang akan menarik gugatannya,karena Bian tidak akan bisa menolak permintaan Mommynya.Papanya juga tidak akan mengurusi urusan pribadinya lagi.Seline bisa bernafas lega.


__ADS_2