
Karena tidak adanya bukti yang menunjukkan bahwa terdakwa bekerja atas perintah orang lain,dan meninggal saat kejadian,kasus itupun dinyatakan gugur.Bian sendiri bingung harus bagaimana.Tidak adanya bukti juga membuatnya tidak tahu harus menghukum siapa.
Satu-satunya orang yang mengetahui kejadian itu dengan pasti pun tidak bisa diharapkan.Pak Ali yang sempat mengalami koma selama tiga bulan,mengalami amnesia karena cedera otak yang dialaminya.Untung saja nyawanya masih tertolong meski ingatannya terpotong beberapa bagian dan harus terapi sampai beberapa bulan karena cedera pada kakinya.
"Bos!Kita sudah mencari hampir ke pelosok negeri,tapi Non Kia belum juga kita temukan.Maaf,tidak menjaganya dengan baik sampai Dia hilang seperti ini."
"Pak Ali,sudah saya katakan kalau Pak Ali sudah berusaha sebaik mungkin untuk melindungi istriku.Pak Ali cukup membantu saya untuk mencarinya saja."
"Baik,Bos!Saya akan lebih berusaha lagi!"
"Hem."
Sambungan telepon pun terputus dan Bian memasukkan ponselnya ke saku jasnya.Walaupun Pak Ali kehilangan sebagian ingatannya beberapa tahun kebelakang,tapi Pak Ali terus saja merasa bersalah karena sudah lalai dalam tugasnya.
Awalnya Pak Beno merasa ragu untuk menceritakan apa yang terjadi pada Pak Ali.Tapi,itu akan sangat tidak adil untuknya yang menyayangi Kia seperti keponakannya sendiri.Pak Ali dan Pak Beno sudah menganggap Kia sebagai keluarga begitupula sebaliknya.
* * *
Sudah empat hari Bian berada di rumah sakit.Itu sudah cukup baginya yang tidak pernah tahan untuk berbaring terus dengan infus yang terpasang di tangannya.
Hari ini,Bian telah rapi dengan jasnya yang dibawa oleh asisten pribadinya,Rama.Sudah banyak pekerjaan yang menantinya karena absen beberapa hari.
"ayo!"Bian berjalan mendahului Rama.
"Hufth....."Rama menghela nafas panjang.
Tuannya ini sungguh sangat keras kepala.Dokter Vino sudah dengan jelas mengatakan agar beristirahat lebih banyak,tapi lihatlah dia.Dengan wajah yang ditekuk,Rama mengikuti Bian menuju mobilnya.
__ADS_1
Sesuai jadwal yang sudah diatur ulang oleh Rama,saat ini mereka sudah berada di sebuah bandar udara internasional.Mereka akan mengecek proyek yang sedang berjalan di kota tersebut.
* * *
Sudah lebih dari tiga jam,Bian mengecek para pekerja yang bertugas mengerjakan proyek pembangunan gedung rumah sakit yang dia kepalai.Pembangunan sudah mencapai tujuh puluh lima persen.
"Tuan,sudah waktunya makan siang!"ucap Rama memperingatkan.
"Kamu tuh,berisik banget!"kesal Bian.
"Maaf!Tapi,Tuan baru saja keluar dari rumah sakit.Jangan sampai,belum satu hari sudah terdaftar lagi!"ujar Rama.
"Apa?"gertak Bian.
"Ayo,Tuan!Kita cari tempat makan di sekitar sini!"
Tak menghiraukan pelototan tajam Bian,Rama mempersilahkan Tuannya jalan lebih dulu.Ini demi kebaikannya juga.
"Atau mungkin akan pergi dengan pria la-."
Rama meneguk ludahnya yang seakan tercekat di tenggorokan melihat wajah Bian yang sudah memerah.Mulutnya tanpa sadar mengatup rapat.
"Kau belum pernah ditonjok oleh tengkorak berjalan?Kau pilih,ingin yang kiri atau yang kanan?"tanya Bian menunjukkan kepalan tangannya.
"Tidak pernah dan tidak ingin,Tuan!Terima kasih."
Tidak ingin Tuannya lebih marah lagi,Rama segera melangkahkan kakinya menuju mobil dan membukakan pintu mobil untuk Bian.Tatapan tajam kembali Bian arahkan pada Aspri nya itu saat akan memasuki mobil.
__ADS_1
* * *
Sampai disebuah restoran,Rama memesankan makanan untuk Bian dan juga dirinya.Tanpa di duga,mereka bertemu dengan seorang wanita dan anaknya yang baru berumur beberapa bulan.
"Hey,kalian di sini?"sapanya.
"Hem,"jawab Bian datar.
wanita itu jadi merasa tidak enak karena orang yang disapanya merespon dengan mau tak mau.Bian terus menatap bayi yang didudukan di kereta bayi.Tangannya perlahan bergerak menyentuh pipinya yang kemerahan.
"Hai,"lirihnya tersenyum.
Senyum yang sudah lama pergi dari bibir Bian,akhirnya muncul kembali.Rama mengerti apa yang membuat senyum Bian terbit.Dia pasti mengingat kembali calon bayinya.
Kepercayaan Bian akan hidup istrinya sangat sulit dipatahkan,meski ditemukannya tas Kia yang tidak ikut terbakar di sekitar mobil menjadi buktinya.
Tanpa mereka sadari,ada wanita lain yang terus menatap kearah mereka.Mata dengan bulu mata yang lentik terus mengawasi senyum menawan itu dari luar restoran dengan dinding kaca tersebut.
"Lihat apa sih Kak Salwa?"tanya adiknya.
"Keluarga bahagia,"lirihnya terus menatap Bian yang mengajak main si bayi.
Putri,adik dari Salwa ikut mengarahkan pandangannya ke tempat kakaknya memandang.Matanya membulat dengan mulut yang sedikit terbuka,lalu kembali menatap kakaknya.
"Apa dengan menatapnya,kita akan cepat sampai ke rumah?Ayolah,Kak!Pangeran kita pasti sudah menunggu,"ajaknya.
"Oh,iya!Ya ampun,pasti pangeranku sudah menangis karena kelamaan menunggu,"ucap Salwa menepuk keningnya.
__ADS_1
Mereka berdua pun bergegas pergi.Jantung Bian tiba-tiba berdebar tanpa sebab.Pandangannya pun menyapu ke seluruh penjuru.Bian merasa ada sesuatu yang menariknya untuk melihat ke segala arah.
Bian memegang dadanya dan berlari ke luar.Entah apa yang mendasarinya melakukan hal itu.Yang pasti,perasaannya mengatakan kalau ada sesuatu yang membuatnya harus berlari dan mengejar.