
Nyonya Sofia memberikan kopi pada suaminya yang masih betah duduk di balkon kamarnya.Tuan David meletakkan kacamata bacanya di atas meja dan menyeruput kopi yang dibawakan oleh istrinya.
Nyonya Sofia duduk di kursi samping suaminya.Walau malam belum begitu menggelap,namun bintang-bintang sudah begitu indah menampakkan sinarnya.
"Ada apa?"tanya tuan David melirik istrinya yang begitu asik menatap langit malam.
"Bian memiliki wanita lain didalam pernikahannya!"Nyonya Sofia menghela nafasnya.
Tuan David kembali memakai kacamatanya dan membaca buku yang dipegangnya.Nyonya Sofia melirik suaminya yang hanya diam tanpa memberikan reaksi apapun.
"You hear me?"
"Hem,"jawab Tuan David singkat.
"Sudahlah,biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri.Kita sudah terlalu ikut campur dalam urusan pernikahan mereka,"lanjut Tuan David.
"Kenapa?Bukannya kemarin Daddy sangat marah mendengar keputusan yang Bian utarakan,kenapa sekarang tiba-tiba seperti ini?"tanya Nyonya Sofia tak habis pikir.
"Akulah yang berhutang kepada Anggara,bukan putraku!Dan putraku sudah membayar bahkan lebih dari hutang yang aku pinjam.Dia bahkan membayarnya dengan kebahagiaannya,"jelas Tuan David dengan sorot mata yang berkaca-kaca.
"Tapi,Seline adalah pasangan yang pas untuk Bian.Mereka hanya sedang bermasalah sedikit,tapi gadis itu sangat pintar memanfaatkan celah diantara pertengkaran mereka,"ucap Nyonya Sofia yang masih tetap kekeuh.
"Bian yang lebih tahu dengan siapa Dia akan bahagia!"
"Nggak,aku akan menyatukan mereka kembali!Aku tidak rela putraku dimanfaatkan oleh gadis kecil yang tidak tahu asal-usulnya dari mana."
"Jangan terlalu memaksa,atau kita akan kehilangan putra kita satu-satunya!"
"Jangan-jangan kamu sudah tahu kalau Bian menyukai gadis lain!"lirik Nyonya Sofia curiga.
"Tentu saja,aku Daddy-nya!"lirih Tuan David dalam hati.
Tuan David mengangkat bahunya dan beranjak dari sana,masuk ke dalam kamar. Orang tua sepertinya tidak baik berada di luar malam-malam.Nyonya Sofia pun masuk menyusul suaminya.
* * *
"Mas,mau bakso!"tunjuk Kia pada pedagang bakso gerobak.
"Kita cari di tempat lain,"Bian masih melajukan mobilnya.
__ADS_1
"Maunya disitu!"Kia menengok ke belakang.
"Di sana belum tentu menggunakan bahan yang baik untuk pembuatannya,Kia!"
"Maunya disitu!"rajuk Kia.
"Kita cari tempat lain!"Bian tak mau kalah.
"Pulang aja kalau gitu,"Kia menarik nafas sedih.
Bian menghentikan mobilnya dan membalik tubuh Kia.Tapi Kia malah membuang muka tak mau menatap wajahnya.Bian membuang nafasnya,menyandarkan punggungnya.
"Kamu kenapa sih,susah banget dibilangin?"lirih Bian.
Kia menatap Bian dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Begitu?Aku cuma ingin makan bakso,tapi kamu bilang begitu?"air mata itupun luruh juga.
"Hey,kok malah nangis?"bingung Bian.
Bian mencoba mengusap air mata di pipi Kia,tapi Kia malah menyentak tangan Bian dan membuang muka kembali.
"Kita pulang!"ucap Kia dingin.
Kia ikut turun menyusul suaminya dan memberitahu apa saja yang diinginkannya. Bian menarik tangan Kia untuk duduk di kursi yang disediakan.Kia pun menurut walau dengan bibir yang cemberut.Kia menarik tangannya yang masih digenggam oleh Bian,tapi Bian mengeratkan genggamannya.
"Maaf,"ucap Bian seraya mencium tangan istrinya.
"Hem,"gumam Kia.
"Kok cuma hem gitu,senyumnya mana?"
"Hufth....aku yang harusnya minta maaf.Cuma gara-gara masalah mau makan bakso aja sampe sedih seperti ini.Cengeng banget nggak sih aku?"
"Jadi,clear ya masalahnya?Nggak ngambek lagi,kan?"
"Iya....maaf ya!"
Bian mengusap-usap kepala Kia.Pesanan bakso mereka pun datang dan Kia langsung melahapnya.Setelah bakso di mangkuknya habis,Kia malah mengganggu Bian dan memakan baksonya yang masih beberapa butir.
__ADS_1
"Enak!!!Pak,bungkus tiga lagi yah!"seru Kia pada kang bakso.
"Tiga?"tanya Bian.
Kia mengangguk,"Untuk Pak Ali dan Pak Beno,satunya lagi untuk aku pastinya!"cengir Kia.
"Masih belum kenyang?"heran Bian.
"Cuma satu mangkok,mana kenyang!"jawab Kia.
"Kamu lihat tuh pipi,udah kayak ngemut bakso,"ucap Bian.
"Kamu ngatain aku gendut?"kesal Kia.
"Nggak,cuma nggak biasa aja kamu makan banyak seperti ini,"jelas Bian.
Kia jadi mengerutkan keningnya,berpikir. Benar juga apa kata 'pak tua' ini.Apa karena stress,kan akhir-akhir ini tugasnya sedang banyak-banyaknya.Aduh,Kia jadi migrain memikirkannya.
"Ini neng,baksonya!"
"Oh,iya.Berapa Pak semuanya?"tanya Kia.
"Tujuh puluh lima ribu,neng!"
"Oh,ini Pak!"Kia memberi uang seratus ribu, lima lembar.
"Kebanyakan,Neng!"
"Nggak apa-apa,Pak!Nggak boleh loh Pak,nolak rezeki!"ucap Kia.
"Terima kasih,Neng!Terima kasih banyak,"ucap bapak itu dengan mata yang berembun.
Bian mengambil kantong plastik ditangan Kia dan menggandengnya masuk ke dalam mobil.Bian membuka pintu mobil dan mengacak-acak rambut istri kecilnya itu.
"Bapak itu salah orang,"ucap Kia saat Bian sudah masuk dan memasang safety belt nya.
"Maksudnya?"
"Aku ngambil uangnya dari dompet kamu,berarti kan itu uang kamu dong.Tapi Bapaknya ngucapin terima kasih nya sama aku,harusnya kan sama kamu,"jelas Kia.
__ADS_1
"Aku atau kamu itu sama saja.Uang aku,uang kamu juga."
"Bener.Uang suami,uang istri juga.Uang istri ya....tetep uang istri."