
"Pak Ali tahu nggak,jalan ke desa kembang?"tanya Kia yang sudah berada di mobil.
Saat ini mobil mereka sedang melaju menuju apartemen.Tadi Rama sempat mengejar Kia,namun Rama kalah cepat karena Kia sudah berada di dalam mobil yang sudah melaju pergi.
"Tahu,Non!"jawab Pak Ali.
"Kalau begitu,tolong antarkan saya ke sana ya,Pak!"
"Tapi,Non-"
"Pak Ali tenang aja,saya cuma mau berziarah ke makam orang tua saya.Cuma sebentar,kok!"
"Bapak minta izin Bos Bian dulu ya,Non!"
Pak Ali menghentikan mobilnya dan merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya.Kia yang melihat Pak Ali akan menelpon Bian segera menghentikannya.
"Saya sudah minta izin kok,Pak!Ini lihat!"
Kia memperlihatkan ponselnya yang menampilkan pesannya untuk Bian.Setelah dilihat oleh Pak Ali,Kia menghapus pesannya mumpung Bian belum membacanya.Di luar mobil,Pak Beno mengetuk kaca mobil dan Pak Ali pun menurunkan kaca mobil.
"Kenapa berhenti di sini?"tanya Pak Beno.
"Sebentar ya,Non!"Pak Ali menaikkan kembali kaca mobil dan keluar untuk berbicara dengan Pak Beno.
"Ada apa?"tanya Pak Beno lagi.
__ADS_1
"Non Kia minta anterin ke desanya!Gimana, kita anterin nggak?"
"Sudah izin Bos belum?"
"Tadi,Non Kia sudah mengirim pesan ke Bos."
"Ya sudah,kita anterin saja!"
Pak Ali setuju dan langsung masuk ke mobil untuk melanjutkan perjalanan diikuti oleh Pak Beno di samping mobil.Kia yang biasanya mengajak Pak Ali mengobrol,tampak diam dan melamun melihat ke luar jendela.
"Non...!Kok melamun?"
"Hem.....enggak melamun kok,Pak."
Sesekali Kia menghela nafasnya,sedih sekali rasanya tidak diakui seperti ini.Kia jadi berpikiran negatif terhadap Bian dan wanita yang bersamanya tadi.Kalau memang Bian ada hubungan dengan wanita itu,kenapa Dia yang Bian nikahi?Kenapa bukan wanita itu?Apa Dia cuma dijadikan Bian sebagai pemuas nafsunya saja?Apa Bian cuma menganggap Kia sebagai gadis penebus hutang,karena almarhum ayahnya tidak memiliki apa-apa lagi untuk menebus hutangnya?
Tak butuh waktu lama,merekapun sampai di area pemakaman.Pak Ali memarkirkan mobilnya dan membangunkan Kia.
"Non,kita sudah sampai!"Pak Ali mengetok pintu mobil.
Kia terbangun dan melihat ke sekelilingnya. Kia keluar dari mobil dan menghampiri ibu-ibu penjual bunga tabur tak jauh dari sana.Setelah itu,Kia langsung mengunjungi makam kedua orang tuanya yang berdekatan. Pak Ali dan Pak Beno menunggu di dekat mobil karena Kia yang memintanya.
Kia menatap makam orang tuanya dengan sendu.Kia sangat merindukan mereka berada di sampingnya.Setetes air mata jatuh di pipinya.Tak ingin kedua orang tuanya tidak tenang di atas sana karena melihatnya bersedih,Kia menghapus air matanya dan mulai membersihkan rumput dan daun kering di makam ayah dan ibunya.Setelah bersih,Kia menaburkan bunga dan menyiram makam keduanya.Kia memanjatkan doa untuk kedua orang tuanya dengan khusyuk.
* * *
__ADS_1
Sementara Bian yang sudah berpisah dengan Sania,segera meminta Rama melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju apartemennya.Bian sudah gelisah sejak tadi.Perasaan bersalah melihat kekecewaan di mata istri kecilnya bergelayut di hatinya. Pikirannya jadi tak tenang,takut Kia berpikiran macam-macam.
Sesampainya di parkiran apartemen,Bian segera bergegas menuju apartemennya.Bian bertambah khawatir kala tidak melihat Pak Ali dan Pak Beno di depan pintu apartemennya. Bian langsung masuk dan berlari menuju kamarnya.Saat di kamar,Bian tidak menemukan Kia di sana.Di bukanya pintu kamar mandi,lalu ke walk in closet.Kia juga tak ada di sana.Tapi Bian sedikit lega karena melihat pakaian Kia masih tersusun rapi di sana.
Bian keluar sembari terus menghubungi nomor Kia yang tidak bisa dihubungi.Rama yang baru keluar dari lift harus masuk lagi melihat Bian yang langsung masuk ke dalam lift dengan ponsel yang terus Ia tempelkan di telinga.
"Hubungi Pak Ali atau Pak Beno!"seru Bian.
Rama mengangguk dan segera menghubungi mereka.Tapi sayang,mereka berdua pun tak bisa dihubungi.Yang tadinya Bian merasa khawatir,sekarang berubah menjadi kekesalan karena tidak ada yang bisa dihubungi.
* * *
Kia memandang langit yang menggelap. Angin Pun berhembus kencang dan sesekali nampak kilatan cahaya menghiasi langit.Sepertinya akan hujan deras di desanya.Kia menghampiri Pak Ali dan Pak Beno yang menunggunya di dekat mobil.
"Pak!kita mampir ke rumah bude Reni dulu ya! Sepertinya akan hujan lebat,"beritahu Kia.
"Baik,Non!"Pak Ali membukakan pintu untuk Kia.
"Tapi,memangnya Pak Ali tahu di mana rumahnya?"tanya Kia heran.
"Tahu kok,Non.Kan kita juga ikut mengantar Non Kia waktu itu,"jawab Pak Ali tak enak hati.
"Oh,pantes kalian juga tahu desa ini.Padahal kalian tidak berasal dari desa ini,kan?Desa ini bahkan tidak ada di peta.Jangan-jangan kalian juga di suruh untuk mengawasi rumahku?"
"Iya Non,maaf!"
__ADS_1
"Nggak apa-apa,kalian juga disuruh.Mau bagaimana lagi."
Kia melihat ponselnya dan menarik nafas panjang.Karena cuaca yang buruk,sinyal juga ikutan buruk.Inilah tidak enaknya tinggal di desa terpencil,langit baru mendung aja sinyal sudah ngambek.