
Setelah lama menangisi nasibnya di dalam bathtub sambil berendam cantik,Kia pun beranjak untuk membilas tubuhnya.Walau masih agak kurang nyaman dengan tubuh bagian bawahnya,Kia tidak akan meminta bantuan pada orang yang sudah membuatnya seperti itu.
Kia membuka pintu kamar mandi dan melihat keadaan sekelilingnya mencari keberadaan Bian si 'Pak Tua' mesum.Kia membuang nafasnya lega,'Pak Tua' sudah pergi ternyata.Pergi keluar ya,bukan ke alam lain.Melihat tempat tidurnya yang masih berantakan,Kia meringis sendiri.Kemarin,saat mereka melakukannya,ada perasaan lain yang dirasakan Kia.Seperti ada yang menggelitik dalam perutnya.Awalnya memang Kia merasa sakit dan takut.Tapi lama-kelamaan Kia menikmati apa yang Bian lakukan.
Sebagai seorang remaja,Kia masih selalu penasaran dan ingin mencoba hal-hal baru yang belum pernah dilakukannya.Kia menggelengkan kepalanya mengingat kalau dia juga menikmatinya kemarin.Kia segera ke walk in closet untuk berganti pakaian.Setelah itu,Kia segera membereskan tempat tidurnya.
Kia melihat bercak darah yang ada di seprei putih tempat tidurnya.Lagi-lagi Kia mendesah dan buru-buru melepaskannya untuk direndam dan segera dicuci.Di apartemen ini, cuma ada Kia dan Bian.Setiap tiga hari sekali,akan ada orang yang bertugas untuk membersihkan seluruh ruangan kecuali kamar yang Kia tempati.
Kia turun membawa seprei tadi ke tempat cuci dan merendamnya agar noda darah malam pertamanya lenyap dan kembali putih. Kia melihat Bian membawa paper bag dari luar menuju meja makan.Bian terlihat sudah rapi dengan pakaian kantornya.
"Sini!Kita sarapan dulu!"pinta Bian.
Kia menarik kursi di sebelah Bian dan duduk di sana.Bian menyiapkan makanan yang dibelinya tadi.Kia mencebik,Bian jadi perhatian setelah mendapatkan apa yang diinginkannya.Kia menatap Bian dengan bibir yang cemberut.
__ADS_1
Cup....cup....cup....
Bian mengecup bibir Kia yang maju, membuatnya gemas saja.Kia mencubit lengan Bian kesal.Bian tertawa dan mengacak-acak rambut panjang Kia.Bian merasa lebih hidup sekarang.Mereka pun mulai memakan sarapannya.
"Terima untuk kemarin,"ucap Bian disela sarapan mereka.
"Kamu tenang saja,aku akan bertanggung jawab,"cengir Bian.
Kia menghentikan makannya,"Sampai kapan pernikahan ini akan berlangsung?Satu bulan, satu tahun atau sampai anda bosan?Ayo kita buat perjanjian,berapa lama saya harus menjadi istri anda untuk menebus hutang almarhum ayah saya?Biar semua jadi jelas dan lepaskan saya kalau sekiranya anda sudah puas bersenang-senang!"
Bian menggenggam sendok makannya mendengar kata-kata yang Kia ucapkan.Kia mulai memancing emosinya lagi.
"Apa menjadi istriku sangat menyedihkan untukmu,hah?Kau tidak melihat buku nikah yang kau punya?Kau istriku yang sah secara hukum dan agama.Apa menurutmu pernikahan yang kita lakukan cuma untuk sekedar bersenang-senang?"bentak Bian.
__ADS_1
Kia menunduk dan meneteskan air matanya. Kia tidak suka orang lain berbicara dengan suara yang keras padanya.Bian menghembuskan nafas perlahan guna mengurangi emosinya.
"Kenapa kau selalu ingin lari dariku?Apa aku begitu menyeramkan sampai membuatmu selalu ketakutan saat bersamaku?"Bian membalik tubuh Kia agar menghadap padanya.Suaranya sudah tak sekeras tadi.
Kia masih muda dan tidak suka di paksa apalagi sampai dikekang pergerakannya.Bian akan mencoba mengalah untuk menghadapi sikap Kia yang pemberontak.
Kia masih menundukkan kepalanya dan sesekali terdengar isakan dari bibirnya.Bian memeluk,menenangkannya.Kia membalas pelukan Bian dan meneruskan tangisnya. Entah untuk apa air mata Kia yang kali ini. Untuk menerima pernikahan ini atau untuk nasibnya yang masih muda sudah menikah.
"Sudah,berhenti menangis!Dinikahi pria tampan dan kaya kok sedih.Seharusnya kamu itu bersyukur,setidaknya kamu tidak harus bersusah payah lagi untuk memenuhi kebutuhan hidupmu,"Bian menghapus air mata Kia.
Bian melihat arlojinya,sudah saatnya dia pergi ke kantor.Dia bisa telat kalau harus melanjutkan sarapannya.Perjalanannya menuju kantor sangat jauh.Butuh waktu tiga jam,jadi harus segera pergi kalau tidak ingin terlambat.Disiplin waktu adalah salah satu kunci kesuksesan.
"Kamu teruskan sarapanmu!Aku pergi dulu!"pamitnya mengambil tangan Kia dan membawanya ke bibir Kia lanjut ke bibirnya.Tak lupa kecupan di kening dan bibir Kia.
__ADS_1
Bian buru-buru pergi meninggalkan Kia. Kia menatap punggung Bian yang semakin menjauh.Apa salahnya untuk mencoba menerima pernikahannya dengan Bian.Ini adalah takdir yang tertulis untuk perjalanan hidupnya.Apapun akhir dari pernikahannya, setidaknya Kia sudah berusaha untuk menjalankan perannya dengan baik.