
Waktu berlalu begitu saja.Tanpa terasa,sidang pertama perceraian pun datang juga.Bian didampingi oleh pengacaranya dan Rama bergegas menuju pengadilan agama,begitu juga dengan Seline bersama pengacara dan mamanya.
Pada sidang pertama,hakim memberikan waktu untuk keduanya memikirkan kembali keputusan yang diambil selama kurang lebih satu bulan karena pihak Seline juga tidak menginginkan perceraian itu.
"Kamu harus memanfaatkan waktu yang diberikan dengan sebaik-baiknya,oke!"ucap Nyonya Sofia pada menantu kesayangannya.
Sepulang dari pengadilan agama,Seline sengaja berkunjung ke kediaman Tuan David. Tentu saja Nyonya Sofia sangat antusias mendengar kalau masih ada kesempatan untuk membuat pernikahan putranya bertahan.
"Iya,Mom!Tapi.....Seline sepertinya sudah tidak ada kesempatan lagi dihatinya Bian,"kata Seline memelas.
"Kenapa?Di awal pernikahan kalian kan,Bian memperlakukan kamu dengan sangat baik.Berarti pernah ada sesuatu yang hatinya rasakan terhadap kamu.Kamu tinggal mengulangi momen itu agar Bian mengingat kembali perasaan yang pernah Dia rasakan dahulu,"saran Nyonya Sofia.
"Tapi,Mom-"
"Kenapa sih,coba cerita ke Mommy!Apa yang ada dipikiran kamu?"
Seline mengambil ponselnya dari dalam tas dan memperlihatkan foto yang dikirim Sania tadi pada Nyonya Sofia.
"Foto siapa ini?Jam yang dipakainya seperti...."Nyonya Sofia menatap Seline
"Mommy benar,itu Bian!"
"Siapa wanita yang dirangkulnya ini?"tanya Nyonya Sofia terlihat kesal.
"Seline nggak tahu,Mom!Ini sepupu Seline yang kirim.Katanya Bian dan wanita itu terlihat sangat mesra,mereka bertemu di bioskop."
"Kamu sudah tanya ke Bian?Mungkin wanita itu temannya!"
"Seline nggak berani,Mom."
"Ya,sudah.Kamu tenang saja,biar Mommy yang nyari tahu nanti."
"Terima kasih ya,Mom.Seline benar-benar berharap Bian membatalkan keputusannya."
* * *
"Kia!Sendirian aja?"Pak Dani mendekati Kia yang keluar dari fakultas seorang diri.
"Iya,Pak.Kebetulan Tio dan Fira sudah pulang lebih dulu."
"Baguslah,"gumam Pak Dani.
"Bapak ngomong apa?"
"Nggak,kok.Oh,iya!Saya belum membalas kebaikan kamu waktu itu loh.Kamu inget kan?"
"Aduh,Pak!Nggak perlu,saya ikhlas kok bantu Bapak."
__ADS_1
"Nggak bisa gitu dong,Kia.Saya yang nggak enak jadinya.Kamu nggak mau kan bikin saya merasa berhutang budi sama kamu?"
"Tapi,Pak-"
"Nggak ada tapi-tapian,kamu harus mau saya traktir makan siang."
Pak Dani mengajak Kia makan siang di warung makan didepan fakultasnya.Dengan sangat terpaksa,Kia mengikutinya dari belakang.Pak Ali dan Pak Beno yang melihatnya hendak menghampiri,tapi Kia menghentikannya lewat gerakan tangannya.
Akhirnya Pak Ali dan Pak Beno hanya mengikutinya dari kejauhan sampai masuk ke warung makan dan duduk di kursi tak jauh dari Kia dengan mata yang terus mengawasi.
"Kamu mau pesen apa?"tanya Pak Dani melihat buku menu.
"Ayam geprek aja deh sama jus jeruk,"Jawab Kia.
"Ya,udah.Ayam geprek dan jus jeruknya dua,"pesan Pak Dani.
"Baik.Ditunggu ya Mas,Mbak!"ucap pelayan.
"Biasa aja kali mukanya,nggak usah tegang gitu!"Pak Dani mencoba mencairkan suasana.
"Saya biasa aja kok,Pak."
"Baguslah kalau begitu.Ini kan sudah di luar kampus,kamu manggilnya jangan 'Pak' dong."
"Hah?Tapi kan Pak Dani dosen saya!"
"Nggak deh,Pak.Biar gitu aja saya manggilnya.Nggak enak kalau temen-temen lain denger,"tolak Kia.
"Hufth.....susah banget yah mau deket sama kamu."
"Maksudnya Pak?"
"Masa' sih kamu nggak sadar kalau saya mendekati kamu.Bukan sebagai seorang dosen tapi seperti seorang pria yang mendekati seorang wanita."
"Maaf,Pak!Sepertinya Bapak salah paham.Saya bukanlah wanita yang bisa Bapak dekati."
"Kenapa?"
"Saya sudah menikah,"jelas Kia.
Kia berdiri,"Saya permisi,Pak!Terima kasih untuk niat baik Bapak mentraktir saya."
Kia pun pergi meninggalkan Pak Dani yang masih terkejut dengan apa yang didengarnya tadi.Pak Dani menggeleng kuat,tidak percaya dengan pernyataan Kia barusan.
"Ini pasti hanya alasan yang Kia buat untuk menolak ku,"gumamnya.
Pak Dani berdiri hendak mengejar Kia tapi pelayan datang dengan menu yang dipesannya tadi.Pak Dani pun harus membayar makanan yang bahkan belum sempat dimakannya.Setelah itu,Pak Dani mengejar Kia.Namun sayang,Kia sudah hilang dari pandangannya.
__ADS_1
* * *
Di ruang keluarga,Bian dan Kia sama-sama tidak memperhatikan apa yang telivisi tayangkan.Keduanya tenggelam dalam pikirannya masing-masing.Hari ini,mereka sama-sama melewati hari yang melelahkan.
Kia tersadar dari lamunannya lebih dulu.Untung Dia sudah sangat memperjelas statusnya kepada dosennya itu.Semoga Pak Dani mengerti dan tidak menggangunya lagi.Kia melihat suaminya menatap TV dengan tatapan kosong.
"Mas....!"Kia menyentuh lengan Bian.
"Yah?"Bian terkejut.
"Kok melamun?"
"Nggak melamun kok."
"Sudah jelas-jelas melamun,pake nggak ngaku."
"Nggak melamun,cuma lagi mikir."
"Oh,ya!Emang lagi mikirin apa?"
"Kamu."
Otak Kia langsung memberi sinyal bahaya.Kia jadi teringat kalau Pak Ali dan Pak Beno juga mengawasinya yang tadi makan siang dengan Pak Dani.Apa suaminya mendapatkan laporan dari mereka.Kia melirik Bian takut-takut.Bian masih menampakkan wajahnya yang tak terbaca.
"Mas,aku bisa jelaskan!"
Bian mengerutkan keningnya,"Coba jelaskan!"
"Sebenarnya,Pak Dani cuma ingin mentraktir makan siang karena sudah membantunya.Itu aja,kok.Sumpah!"
"Kan aku sudah bilang,jangan terlalu banyak berinteraksi dengannya.Cara Dia melihat kamu aja sudah beda,Kia!"kesal Bian.
"Beda gimana sih,Mas?Sama aja kok sama yang lain,"Kia tidak ingin Bian semakin memojokkannya.
"Aku laki-laki,jadi aku tahu bagaimana seorang pria memandang orang yang mereka sukai.Awas kalau kamu masih dekat-dekat dengannya lagi!"
"Iya,maaf!"cicit Kia.
"Jangan cuma minta maaf,tapi dilakukan!Ngobrolin apa kalian tadi.Jawab yang jujur!"
"Nggak ngobrolin apa-apa kok.Dia cuma berterima kasih aja,"jawab Kia setengah jujur.
"Yakin?"Kia mengangguk.
"Tapi,kenapa Pak Ali dan Pak Beno nggak melapor?Apa kamu yang melarang?"Bian memicingkan matanya curiga.
"Hah?Jadi Pak Ali dan Pak Beno belum ngasih tahu?"Kia menepuk jidatnya.
__ADS_1
Bian menautkan alisnya melihat istri bocahnya itu berguling-guling sambil menepuk-nepuk jidatnya sendiri.Bian malah jadi terhibur melihatnya seperti itu.Tadinya Bian sangat lelah karena memikirkan proses sidang perceraiannya yang akan memakan waktu lama.Tapi istrinya ini,selalu bisa membuatnya melupakan masalahnya dengan tingkah konyolnya itu.