
Kia menyipitkan matanya karena silau dengan terangnya cahaya lampu di ruangan itu.Kia langsung bangkit dengan matanya yang membulat.
"Di mana ini ?"tanya Kia pada dirinya sendiri.Kia melihat ke sekelilingnya.Ini seperti di sebuah kamar hotel, pikirnya.Kia langsung memeriksa tubuhnya yang masih tertutup selimut.
"Syukurlah,"Kia menghembuskan nafas lega melihat keadaannya yang masih berpakaian lengkap.Kia mengingat kembali kejadian saat dia hendak kabur dan tiba-tiba ada seseorang yang membekapnya dari belakang.
Dibukanya selimut tebal yang menghangatkan tidurnya semalam dan segera turun dari kasur empuk itu menuju pintu.Kia mencoba membuka pintu itu,tapi sepertinya pintu itu sengaja dikunci dari luar.
"Buka pintunya ! Siapapun di luar,tolong buka pintunya !"teriak Kia dengan menggedor-gedor pintu.
Lama Kia menggedor-gedor pintu dan berteriak, namun tak ada sahutan dari luar.Kia berjalan ke arah jendela dan betapa terkejutnya ia melihat ke luar.Ternyata, kamar ini berada di lantai yang tinggi.Kia bergidik ngeri melihat ke bawah.Bisa tewas dia kalau memaksakan diri kabur lewat sana.Kia berpikir, siapa orang yang menculiknya semalam ?
Sedang asyik melamun, tiba-tiba Kia merasa ada lengan yang melingkar di pinggangnya.
"Sudah bangun !"bisik seorang pria sembari meletakkan dagunya di bahu Kia.
Kia tersentak kaget dan refleks membalikkan badannya menempel ke jendela kaca.
__ADS_1
"Tu-tuan,"ucap Kia terbata.Ternyata Bian lah dalang dari penculikannya semalam.
Bian mengunci pergerakan Kia dengan tangannya yang mengungkung di sisi kiri dan kanannya.Kia menunduk,tak berani melihat wajah Bian dengan tangan yang meremas gorden di belakangnya.Bian terus menatap Kia sehingga membuat Kia mendadak menjadi panas dingin.Kia ingin pergi menghindar,tapi Bian malah menarik pinggangnya cepat.
"Mau kabur lagi ?"tanya Bian tepat didepan bibir Kia.
Bian mengangkat tubuh Kia dan menjatuhkannya di atas ranjang.Kia semakin ketakutan dan berlari mencari jalan keluar.Bian membiarkannya dan tersenyum sinis melihat kebodohan Kia.Dia tidak akan bisa kabur dari seorang Abian Abraham, pewaris tahta tertinggi ABR Company.
Bian menarik tangan Kia dan mendorongnya ke tempat tidur.
"Tuan, tolong ampunilah saya ! saya janji akan mencicil hutang almarhum ayah saya segera.Tapi,saya mohon lepaskan saya !"Kia semakin takut saat Bian mengungkung nya di tempat tidur.
Kia mencoba mendorong dada Bian sekuat tenaga."Tuan, saya mohon jangan seperti ini,ini salah !"
Bian menangkap tangan Kia yang mendorong dadanya dengan satu tangan dan menciumnya."Terus menurut kamu, seperti apa yang benar ?"
Kia sepertinya sudah kehabisan stok kesabaran menghadapi tingkah Bian yang seenaknya.Entah dapat keberanian dari mana,Kia menggigit bahu Bian kuat.
__ADS_1
"Aww...."lirih Bian dan Kia segera mendorong tubuh Bian yang masih mengungkungnya .
"Wah......sudah berani rupanya, kelinci kecil kesayanganku ini !"Bian bangkit dan perlahan mendekati Kia.
"Kemari lah baby,kita akan melewati pagi ini dengan bersenang-senang,"Bian mengedipkan matanya seperti om-om genit.
Kia merinding melihatnya dan melemparkan apa saja yang ditemukannya ke Bian.Namun sayang,Bian selalu saja bisa menghindarinya.
"Come on, baby ! nggak usah malu-malu begitu,"ucap Bian dan hap......Bian berhasil menangkap Kia.
Kia memberontak dalam dekapan Bian.Dia tidak ingin menyerah begitu saja.Bian sampai kewalahan dengan pemberontakan Kia.Bian yang sudah mulai kesal, menjatuhkan Kia ke sofa dekat pintu dan memaksa mencium bibir Kia.Tamgan Kia dicekal nya di atas kepala.Kia terus menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan dengan kaki yang terus menendang-nendang.
"STOP !"bentak Bian yang mulai tersulut emosi.Air mata Kia jatuh karena bentakan Bian.
"Jangan terus memancing emosiku !"lanjut Bian mencengkram kedua pipi Kia.
"Kau pikir kau itu siapa,hah ? Apa kau lupa hutang ayahmu yang harus kau bayar ?"Bian melepaskan cengkeramannya dan meninggalkan bekas kemerahan di pipi Kia.
__ADS_1
Kia meringis kesakitan.Selain pipi dan tangannya yang sakit, hatinya pun terluka karena bentakan dan pelecehan yang dia dapat.Apa dia harus membayar hutang almarhum ayahnya dengan tubuhnya.
Tidak,Kia menggeleng kuat menepis pemikiran itu.Cuma kehormatannya lah yang menjadi kebanggaan orang tak punya sepertinya.Dia harus mencari cara agar bisa terbebas dan pergi menjauh dari orang seperti Bian.