
"Kamu sudah puas sekarang?"Pak Anggara berdiri di dekat jendela kamar putrinya.
"Papa!"kaget Seline.
Seline baru saja pulang dari apartemen kekasihnya.Semalam,setelah semuanya terlelap,Seline mengendap-endap ke luar dari rumah papanya untuk menemui Ken.Dan baru kembali saat jam lima dengan diantar oleh Ken.Mereka tidak menyadari kalau papanya memperhatikan mereka lewat jendela kamarnya.
Setelah mobil yang Ken kendarai pergi,Pak Anggara pergi dan masuk ke kamar Seline. Seline berjalan perlahan mendekat ke arah papanya berdiri.Sejak dulu,Seline sangat takut ketika papanya hanya diam menatapnya tanpa bicara.
"Pap-"
Plakkk
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Seline.Pipinya sampai memerah akibat dari tamparan itu.Seline mengepalkan tangannya menahan rasa sakit di pipinya.Air matanya menetes begitu saja.
"Pantas saja Bian meminta perpisahan,ternyata ini semua ulah putriku sendiri yang memulainya.Apa kau belum puas bermain-main dengan pria itu?Bukankah sudah ku bilang jangan lagi berhubungan dengannya!Apa yang bisa dia berikan untuk hidupmu?Apa kau pikir dia bisa memenuhi kebutuhanmu yang suka berfoya-foya itu,hah?"
"Pa!Apa papa pikir aku bahagia hidup dengan orang seperti Bian?Bian memang bisa memenuhi semua yang aku butuhkan,tapi dia tidak bisa membuat aku merasa sangat di cintai seperti saat aku bersama dengan Ken,"isak Seline.
Plakkk
Lagi-lagi Pak Anggara menampar Seline.Dicengkramnya kedua lengan putrinya itu hingga membuat Seline meringis kesakitan.
"Apa kau pikir kau bisa hidup hanya dengan mengandalkan perasaan cinta yang dia berikan?Jangan sok naif!"
Pedih sekali hatinya diperlakukan seperti ini oleh papanya sendiri.Tapi Seline tidak sanggup untuk membalasnya.
"Jauhi pria itu dan perbaiki hubunganmu dengan Bian!Jangan hanya memikirkan perasaanmu sendiri,mengerti!"
Seline mengangguk dan Pak Anggara melepaskan cengkeramannya kemudian pergi.Seline terduduk lemas saat Papanya menutup pintu kamarnya dengan kencang.
* * *
Bian masuk ke ruangannya diikuti oleh Rama di belakangnya.Tadinya Rama hendak pergi saat sekertaris mengatakan kalau Tuan David menunggu di dalam,namun Bian mencegahnya.Bian tidak ingin membuang-buang waktu kalau Rama harus bolak-balik.Bian melihat Daddy-nya yang duduk di sofa dengan tenangnya.
"Sudah lama,Dad?"Bian menghampiri Tuan David.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan semalam?"tanya Tuan David to the point.
"Apa yang aku lakukan?"
"Kalian masih muda,wajar kalau sama-sama hanya mementingkan emosi masing-masing. Tidak harus langsung mengambil keputusan seperti itu!"
"Keputusan yang ku ambil ini bukan hanya sekedar emosi sesaat.Aku sudah memikirkannya baik-baik sebelum mengambil keputusan itu."
"Daddy nggak mau denger ini lagi.Bicarakan semuanya baik-baik berdua.Mungkin kalian butuh pergi berdua untuk menghangatkan kembali hubungan kalian."
"Kenapa?"
"Apa maksud kamu?"
"Kenapa Daddy sangat takut kami berpisah? Kalau soal perusahaan,perusahaan tidak akan rugi karena perpisahan ini.Perusahaan kita jauh di atas perusahaan Papa Anggara.Apa ada hal lain yang membuat Daddy sangat marah dengan perpisahan kami ini?"
"Tidak ada sejarahnya di dalam keluarga kita melakukan perceraian.Tidak usah berpikir yang macam-macam tentang Daddy!"
"Benarkah?"
"Abian!Jangan melewati batas!"emosi Tuan David.
"Kalian yang stop menjadikan aku sebagai boneka kalian yang bisa kalian atur semau kalian.Sudah cukup aku melakukan apapun yang kalian inginkan,sekarang saatnya aku menentukan jalan hidupku sendiri.Dan aku harap,kalian bisa menerima itu."
"Wah,sudah berani kamu rupanya.Apa kau lupa kalau perusahaan ini milik orang tuaku?"
"Apa Daddy juga sudah lupa kalau orang tua Daddy adalah kakekku?Dan sesuai apa yang KAKEKKU WASIATKAN,perusahaan ini sudah sah menjadi milikku saat aku dinobatkan sebagai CEO ABR COMPANY."
"Kau-"
"I'm so sorry,Dad!Daddy yang memancingku untuk bertindak kurang ajar.Aku tidak akan mengungkit hal itu,kalau Daddy tidak mengungkitnya terlebih dahulu."
Dengan perasaan kesal,Tuan David melangkahkan kakinya keluar.Bian menghela nafasnya berat.Ada perasaan bersalah di dalam hatinya saat mengatakan hal yang membuat Daddy-nya marah.Tapi Bian tidak bisa mundur,Bian akan tetap merealisasikan keputusannya.
"Tuan!Anda baik-baik saja?"
__ADS_1
"Hem.Apa kau sudah mengurus perceraianku?"
"Sudah,Tuan!"
"Bagus!Semakin cepat semakin baik.Tidak ada gunanya terus melanjutkan pernikahan ini."
Bian berpindah ke kursi kebesarannya dan Rama mulai memberitahu jadwal yang akan dilakukannya seharian ini.
* * *
"Kia!"panggil Pak Dani.
Kia yang sedang berkumpul bersama Fira dan Tio menoleh.Pak Dani mendekati mereka.
"Iya,Pak!Ada yang bisa saya bantu?"
"Bisa kita bicara sebentar?"
"Bicara aja,Pak!Nggak ada yang melarang,kok,"ucap Tio.
Pak Dani tersenyum mendengar ucapan Tio,"Bener nih,nggak ada yang melarang?"
Pak Dani sepertinya salah mengerti dengan kata-kata 'nggak ada yang melarang'.Kia menggaruk pelipisnya melihat dosennya yang senyum-senyum nggak jelas."Ada apa dengan dia?"pikir Kia.
"Bisa kita bicara berdua?"tanya Pak Dani lagi.
"Cuma berdua,Pak?"kali ini Fira yang bertanya dan diangguki oleh dosennya itu.
"Aduh,maaf sekali,Pak Dani!Kami akan pergi mencari referensi untuk tugas yang Bapak berikan tadi,"jawab Tio.
Kia menatap penuh tanya pada temannya itu.Tio mengedipkan sebelah matanya agar Kia mengerti dan mengangguk menyetujui perkataannya tadi.
"Iya,Pak!Maaf sekali."
Pak Dani menghela nafas kecewa,"Baiklah,lain kali saja!"
__ADS_1
"Maaf ya,Pak!"ucap Kia merasa tak enak.
"Hem,nggak apa-apa!"