Istri Simpanan Pak Tua

Istri Simpanan Pak Tua
Penculikan


__ADS_3

Orang-orang suruhan Bian mengantarkan Kia sampai di depan pagar bambu rumahnya.Tanpa menunggu disuruh,Kia segera melangkahkan kakinya secepat mungkin keluar dari mobil dan berlari masuk ke rumahnya.


Setelah masuk, dengan tangan yang gemetar Kia mengunci pintu dan langsung beranjak ke kamarnya.Kia menaiki tempat tidurnya dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.Air matanya lagi-lagi jatuh.Kia terisak dengan menutup mulutnya dengan boneka beruang yang selalu menemani tidurnya.Apa yang harus dia lakukan ? Dengan siapa dia harus meminjam uang ?


Karena kelelahan menangis,Kia tertidur dengan jejak air mata yang menghiasi pipinya.Sesekali isakan itu masih terdengar dari bibir mungilnya.Matanya terpejam namun air matanya masih sering menetes dari sudut matanya.Biarkan Kia mengistirahatkan pikirannya sejenak malam ini.


* * *


Kia bersiap untuk pergi bekerja.Setelah lulus sekolah menengah atas,Kia memang langsung mendapatkan pekerjaan di pabrik teh di desanya.


"Kia......!"panggil bude Reni, tetangga sebelah rumah yang selalu membantu Kia saat Kia sedang sulit.


"Iya,bude !"jawabnya.Wajahnya terlihat sedikit pucat dengan mata yang sembab.


"Ini,kamu pasti belum sarapan,"bude Reni memberikan semangkuk bubur kacang hijau.Bude Reni prihatin melihat kondisi Kia.Kemarin,bude Reni tidak bisa berbuat apa-apa saat Kia dibawa dengan paksa oleh orang-orang yang menagih hutang ayahnya.


Kia menerimanya dengan tersenyum pilu."Terima kasih,bude."


"Kamu nggak apa-apa kan ? mereka nggak melakukan hal-hal buruk ke kamu kan Kia ?"tanya bude khawatir sembari memeriksa tubuh Kia.


Kia menggeleng dan meminta bude Reni masuk dan duduk di kursi reotnya.Kia pergi ke dapur, membuat teh untuk bude Reni dan dirinya.


"Diminum,bude !"Kia menyerahkan secangkir teh pada bude Reni dan duduk memulai sarapannya.Bude Reni mengangguk dan menyesap teh hangat buatan Kia.


"Kia bingung,bude.Ke mana Kia harus meminjam uang untuk melunasi hutang ayah ?"Kia menghela nafas berat menatap kosong bubur kacang hijau yang baru ia makan beberapa sendok.

__ADS_1


"Emang, berapa hutang ayahmu itu ?"tanya bude Reni.


"350 juta,bude !"jawab Kia lesu.


"Astaga ! untuk apa ayah kamu meminjam uang sebanyak itu ?"tanya bude Reni membulatkan matanya terkejut.


Kia menggeleng,"Kia nggak tahu,bude."


"Maaf ya Kia,bude nggak bisa bantu.Kondisi bude juga nggak jauh lebih baik dari kamu,"ucap bude dengan perasaan bersalah karena tidak bisa membantu.


"Nggak apa-apa,bude.Bude sudah membantu Kia lebih dari cukup selama ini.Kia yang sangat berterima kasih untuk itu,"Kia menenangkan bude Reni.


* * *


Kepalanya pusing, sepertinya Kia akan demam.Suhu tubuhnya pun agak panas,tapi Kia tetap harus bekerja.Mencari pekerjaan di jaman sekarang sangat susah, apalagi hanya bermodalkan ijazah SMA.Kia tidak mau,cuma gara-gara demam dia dipecat dari pekerjaannya.


Akhirnya waktu pulang pun tiba.Kia yang sudah sangat merasa lelah segera bergegas pulang untuk mengistirahatkan tubuhnya.Kia akan mencari pinjaman lagi besok, entah dengan siapa.Keluarga dari pihak ayah maupun ibunya juga mempunyai hidup yang tak jauh lebih baik darinya.


"Kia.....!"panggil bude Reni menyambut kedatangan Kia.


"Bude, mereka siapa ?"tunjuk Kia pada dua orang berpakaian rapi yang duduk di teras rumahnya.


"Mereka dari pihak bank, katanya,"beritahu bude Reni.


Kia dan bude Reni menghampiri kedua orang itu.

__ADS_1


"Dengan mbak Kia, anaknya pak Ramli ?"tanya salah satu dari dua orang itu.


Kia mengangguk,"iya betul,ada apa ya pak ?"


"Sebelumnya,kami turut berdukacita atas meninggalnya pak Ramli."Kia kembali mengangguk,"terima kasih."


"Mohon maaf, mbak Kia.Kedatangan kami kemari ingin menyampaikan bahwa hutang pak Ramli sudah lewat dari tempo yang kami berikan dan SP 3 pun sudah pihak kami berikan.Namun,pak Ramli tidak menggubrisnya sama sekali,"jelasnya.


"Dengan berat hati,kami akan menyita rumah ini.Kami beri waktu untuk mbak Kia membereskan barang-barang kalian dan rumah ini harus sudah kosong ketika kami kemari lagi besok siang,"lanjutnya.


Kia pingsan mendengar rumahnya akan disita.Bude Reni dan kedua orang itu pun panik dan segera membawa Kia masuk ke dalam rumah.


Tak berapa lama kemudian,Kia membuka matanya.Kia duduk di atas tempat tidurnya.


"Kia,kamu sudah sadar.Kamu yang sabar ya sayang,besok kamu menginap di rumah bude saja dulu.Kebetulan pakde kamu itu sedang tidak ada di rumah,"bude memeluk tubuh lemah Kia erat dan Kia pun membalas pelukan itu dengan berurai air mata.


* * *


Kia sedang membereskan pakaian yang akan dibawanya.Saat ini jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam lewat.Kia berencana akan kabur saja dari desa ini.


Dengan berbekal sisa gajinya bulan lalu,Kia akan memulai hidup barunya di kota.Kia pergi lewat pintu belakang dengan mengendap-endap.Kia tidak mau ada seorang pun yang tahu kepergiannya.Jalanan sudah mulai sepi karena hari sudah malam.


Sampai di gapura perbatasan desa, tiba-tiba hidung Kia dibekap seseorang dari belakang dengan sapu tangan.Kia memberontak dengan sekuat tenaga.Namun lama-lama tenaganya habis dan kepalanya tambah pusing karena menghirup aroma sapu tangan itu.Kia pun kehilangan kesadarannya dan langsung dibawa ke dalam mobil.Mobil itupun melaju kencang meninggalkan desa.


"Tugas beres, Boss ! kami akan membawanya ke sana !"

__ADS_1


__ADS_2