
Kia membuka matanya saat alarm di ponselnya berbunyi.Dirabanya tempat yang biasanya suaminya tertidur,kosong.Suaminya benar-benar tidak tidur bersamanya.
Kia menghela nafasnya,dia sendiri yang meminta untuk tidak tidur sekamar dulu.Tapi kenapa seperti ada yang tidak lengkap.Kia melihat ponselnya yang menyala.Pesan masuk dari suaminya datang sepagi ini.
[Aku pergi!Tapi jangan pikir aku membebaskan kamu untuk pergi tanpa izin dariku!]
Ternyata suaminya sudah pergi.Kia turun dari ranjang dan masuk ke walk in closet.Dibukanya lemari bagian pakaian suaminya,masih lengkap.
"Oh,iya!Dia pasti punya baju yang lain di rumahnya yang lain ditempat istrinya yang lain juga,"gumam Kia.
"Hufth.....sedih banget sih hidupku!!!!"keluh Kia.
"Jangan gini dong Kia!!!!Hidupmu tidak sesulit itu sampai harus mengeluh seperti ini,"lirih Kia menyemangati dirinya sendiri.
"Ayo semangat demi kebahagiaan yang akan datang dalam hidupmu!!!!"Kia beranjak ke kamar mandi dan memulai aktivitasnya seperti biasa.
* * *
Di kediaman keluarga David Abraham,semua anggota keluarga termasuk Seline yang menginap di sana,sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama.
Bian datang dan langsung duduk di kursi yang biasa ia duduki saat dia masih tinggal di sana.Semua mata tertuju padanya yang tanpa basa-basi menyapa,langsung duduk dan mengambil makanan yang tersedia di meja.
"Kenapa menatapku?"tanyanya mencoba biasa.
"Kamu baik-baik saja,Nak?"tanya Nyonya Sofia balik.
"Apa aku terlihat baik-baik saja di mata Mommy?Oh iya!Aku dengar,kemarin Mommy bertemu dengan wanitaku,apa itu benar?"
"Apa Dia mengadu padamu?"sinis Nyonya Sofia.
Seline hanya menunduk takut melihat raut wajah Bian yang tidak bersahabat.Sementara Daddy David dan Key mendengarkan perbincangan antara ibu dan anak itu tanpa berniat menimpali atau melerai mereka.
__ADS_1
"Kenapa Dia harus mengadu kalau aku bisa tahu tanpa harus bertanya?Bagaimana,apa menantumu cantik?"
"Menantuku cuma satu dan itu adalah Seline," ucap Nyonya Sofia pasti.
"Hahaha.....haha....."tawa Bian.
"You're right,Mom!Tapi itu tidak akan lama lagi,"ucap Bian memakan sarapannya.
"Bian!"teriak Nyonya Sofia.
Bian yang tengah meneguk air putih,langsung meletakkan gelasnya dengan keras ke meja sampai gelas itupun pecah dan melukai tangannya. Wajahnya sudah memerah menahan emosinya sejak kemarin.Dia tidak bisa membalas apa yang Mommynya lakukan pada Kia.
Semua yang berada di meja makan terkejut dengan apa yang Bian lakukan.Terlebih lagi Nyonya Sofia,dia langsung berdiri hendak mendekat pada Bian.Namun Bian mengangkat tangannya menghentikan Mommynya itu.
"Luka ini adalah balasan untuk luka yang Mommy beri untuk istriku,"ucap Bian memandang luka ditangannya.
"Kak,biar Key yang obati!"sela Key.
"Istri?"tanya Daddy David pada akhirnya.
"Istriku,Azkia Putri.Istriku yang sebenarnya," jelas Bian menatap tajam pada Seline.
Semua orang terkejut kecuali Key yang sudah mendengar ceritanya dari Bian.Nyonya Sofia benar-benar kesal mendengar apa yang baru saja putranya itu ucapkan.Dia tidak rela kalau putra semata wayangnya dimanipulasi oleh gadis kecil yang entah darimana datangnya.
"Kamu lebih memilih wanita yang baru kamu kenal dari pada menuruti apa yang Mommy bilang?"ucap Mommy meneteskan air matanya.
Seline yang berada disamping Nyonya Sofia memeluk dan mengelus lengannya.Dia harus bagaimana kalau sudah seperti ini.Bian benar-benar sudah bertekad untuk berpisah darinya.Papanya pasti akan sangat marah karena melepaskan tambang emas seperti Bian.
"You always force me to do what you want.You always force me to do what you tell me to do.It's enough!I'm fed up with all of this!"ucap Bian mengeluarkan unek-unek yang selama ini dipendamnya.
"Bian!Kami hanya ingin yang ter-,"ucapan Nyonya Sofia terhenti.
__ADS_1
"Just this once,let me be happy with my choice!"pinta Bian memohon.
"Aku harap kalian bisa menghargai keputusanku dan tidak terus memaksa,"lanjut Bian.
Daddy David terdiam seribu bahasa.Ini semua berawal dari keputusannya untuk menikahkan Bian dengan Seline tanpa berpikir apakah putranya bahagia atau tidak.Ada rasa bersalah menyelimuti hatinya.
Bian pergi setelah mengatakan apa yang ingin dia katakan pada orang tuanya.Tapi,sebelum Bian melangkahkan kakinya,Bian menatap tajam pada wanita yang sebentar lagi akan diceraikannya.
"Aku tidak pernah melarang mu untuk melakukan apapun dibelakang ku,aku pun berharap kau juga melakukan hal yang sama.
Jangan pernah menghalangi perpisahan ini dan jangan coba untuk melakukan hal yang bisa membuatku kehilangan kewarasan ku atau kau benar-benar akan melihat sisi bagian terburuk ku.
Ini peringatan pertama dan terakhir untukmu,camkan itu!"
Seline menelan saliva nya,aura Bian sungguh menyeramkan.Nyonya Sofia ingin kembali berbicara,tapi suaminya menatapnya tajam tak ingin kembali memancing amarah putranya atau putranya itu akan benar-benar pergi menjauh meninggalkan keluarganya.
* * *
"Pak Ali dan Pak Beno pasti habis kena marah kan sama Mas Bian?Maaf ya!"sesal Kia.
"Memang kami yang tidak becus menjaga Non Kia.Jadi,wajar kalau Bos marah.Non Kia nggak perlu merasa tidak enak seperti ini!"Pak Ali juga merasa bersalah.
"Iya,Non tenang saja.Bos kalau marah nggak gigit kok!"kelakar Pak Beno.
"Pak Beno ini bisa aja,saya aduin loh nanti!"imbuh Kia menakuti.
"Jangan dong,Non!Nanti Bapak bener-bener digigit gimana?"
Kia tertawa mendengar guyonan dari Pak Beno.Kedua bapak merasa lega bisa mendengar tawa dari Nona nya lagi.Setidaknya rasa bersalahnya sedikit berkurang.
"Tetaplah bahagia,Non!Kalian berhak mendapatkan kebahagiaan.Non Kia adalah sumber kebahagiaan bagi Bos Bian.Jangan pernah pergi meninggalkannya atau Dia akan terpuruk dan hancur lebih dari yang bisa kita bayangkan,"ucap Pak Ali.
__ADS_1