
Matahari pagi menyambut Bian yang bersemangat untuk meneruskan pencariannya.Senyumnya terus mengembang tatkala teringat mimpinya tadi pagi.
Keyakinannya akan sang istri yang masih hidup semakin bertambah.Bian sangat...sangat yakin kalau istrinya menunggunya di suatu tempat yang tak jauh darinya berada saat ini.
Namun senyum itu berganti dengan kerutan di dahinya.Di dalam mimpinya tadi,istrinya itu akan memperkenalkannya dengan seseorang. Tapi dengan siapa nya,Bian belum tahu.Mata Bian seketika terbelalak teringat ucapan Rama kemarin.
"Rama......!!!!"teriak Bian.
"Tuan,saya ada di samping Anda.Tidak perlu berteriak!"ucap Rama mengusap telinganya.
Bian menoleh kesamping,"Oh,kau di sini!"
"Saya dari tadi di sini,Tuan!"balasnya sembari menyetir.
"Hufth......menurutmu,apa Kia akan tertarik dengan pria lain?"tanya Bian dengan nada tak tenang.
Rama menaikkan alisnya sebelah,"Mungkin."
"Kau salah,Kia ku tidak mungkin seperti itu,"kesal Bian.
"Baik,jika itu yang Tuan harapkan,"balas Rama tak ingin mencari masalah.
Mobil pun berhenti di depan tempat makan yang menyajikan menu untuk sarapan.Dia butuh tenaga untuk mencari istrinya lagi.Untuk urusan kantor,Bian sudah menyuruh orang kepercayaannya untuk menghandle pekerjaan yang ada di sana.
Kali ini,Bian akan mencari Kia sampai ketemu. Tidak boleh menyerah,berapa pun waktu yang dibutuhkan.Mereka berdua pun mencari tempat duduk dan memesan makanan untuk sarapan mereka.
Di tempat yang sama,Key juga sedang menikmati sarapannya dengan Nila,sahabatnya yang semalam baru saja bertunangan.
"Widih,langsung dipake dong ya,kalungnya!"ucap Key melihat kalung dengan liontin berlian asli melingkar di leher temannya.
"Iya,dong.Hadiah dari calon suami masa disimpan doang,"ujarnya bangga.
"Ish,dasar!"Key melempar tisu pada temannya itu.
Mereka tertawa bersama dan tanpa sengaja,Nila melihat sekilas seorang pria yang menatapnya tanpa berkedip.Pria itu berdiri dan hendak menghampiri mereka sambil terus menatapnya.
"Eh,lihat deh!Tuh cowok menatap gue terus!"bisik Nila salah tingkah.
__ADS_1
"Oh,ya!Mana....mana.....?"Key melihat ke sana kemari.
"Itu.....Dia kemari!"ucap Nila.
"Eh,itu Kak Bian,Kakak gue!Kak Bian.....!"teriak Key melambaikan tangannya.
Tapi Bian tak mempedulikannya dan terus mendekati temannya itu.Saat sudah sampai di depan Nila,Bian merampas kalungnya, membuat Nila dan juga Key terkejut dengan aksi Bian.
"Kak,Lo apa-apaan sih?"kesal Key.
"Dari mana kau dapatkan kalung ini?"tanya Bian dengan sorot mata tajam.
"Tuan,"Rama menahan Bian.
"Jawab!"bentak Bian menggebrak meja.
Semua pengunjung yang tengah menikmati sarapannya pun mengalihkan pandangannya ke arah Bian dan yang lainnya.
"Kak,jangan bikin malu!"cicit Key.
"Kamu diem!Cepat jawab!"tekan Bian lagi.
"Siapa?"tanya Bian kurang jelas.
Nila tampak berpikir,"Tunangan saya?"tanyanya polos.
Bian memijat pangkal hidungnya,menahan emosinya agar tidak meledak di pagi hari yang cerah ini.Rama yang melihat itu,segera meminta Tuannya itu untuk duduk.
"Iya,Nona.Tunangan Anda,"jelas Rama.
"Oh,namanya Gerindra Santoso,"beritahu Nila berbunga-bunga.
Sepertinya Nila sudah lupa dengan rasa takutnya pada kemarahan kakak dari sahabatnya itu.Key jadi ikutan memijat pelipisnya melihat tingkah Nila.
"Gerindra Santoso,direktur utama dari PT.Sentosa?"tanya Rama.
"Bapak kenal?"tanya Nila antusias.
__ADS_1
Rama hanya menjawabnya dengan sedikit senyum yang sangat tipis,hampir tak terlihat. Bian menatap Rama memberi kode agar terus mencari tahu tentang kalung itu.
"Tuan Geri pasti membeli kalung ini di toko perhiasan yang terkenal di kota ini!Apa berliannya asli?"tanya Rama.
"Asli dong!"jawab Nila bangga.
"Langsung aja kali Pak Rama!Tuh kalung ada suratnya kan?"tanya Key jengah dengan tanya jawab antara Rama dan temannya.
"Ada,kalian mau lihat?"tanya Nila.
"Kalau bo-,"Rama menutup matanya saat Key memotong ucapannya.
"Kuy,ke rumah lo!"Key menarik tangan Nila.
* * *
Di sisi lain,Salwa berlari dengan nafas terengah-engah karena dikejar oleh orang yang tidak dikenalnya.Saat sampai di rumah,dia langsung bersembunyi di dalam kamar adiknya yang sedang mengajak main Biyan.
"Ada apa Kak?"tanya Putri khawatir.
"Itu,ada orang yang ngejar-ngejar Kakak!"ucap Salwa gemetar.
"Tadi saat Kakak mau bantu-bantu di restoran,ada pria yang mencurigakan.Terus ketika Kakak mendekat,Dia malah lari.Tapi,saat Kakak berbalik,Dia malah mendekat.Ya,Kakak lari aja kemari,"lanjut Salwa.
"Kenapa malah pulang,nggak masuk ke restoran?"tanya Putri.
"Kakak nggak kepikiran,"cengir Salwa.
Tok....tok....tok....
Suara pintu diketuk mengalihkan atensi keduanya.Putri menggendong Biyan dan pergi ke depan untuk melihat siapa yang datang.Salwa menghentikannya dan mengambil alih Biyan ke dalam gendongannya.
"Kakak tenang saja!"
Putri kembali melanjutkan langkahnya diikuti Salwa dan Biyan dalam gendongannya.Kebetulan Bu Asih belum datang.Siapa tahu itu Bu Asih yang mengetuk.
Ceklek....
__ADS_1
Pintu terbuka dengan Putri yang menampakkan wajahnya di sela pintu.Matanya terbelalak saat melihat pria yang tadi mengetuk pintunya.
"Kia.......!!!"