Istri Simpanan Pak Tua

Istri Simpanan Pak Tua
Aku Sangat Mencintai Kamu


__ADS_3

Tak terasa sudah hampir dua jam Bian menunggu istrinya,bolak-balik jam ditangannya dilihat.Beberapa panggilannya pun masih tidak ada yang diangkat.Kekhawatiran mulai mengganggu hatinya.


Istrinya ini memang suka sekali membuatnya tak karuan seperti ini.Menghubungi Pak Ali pun percuma karena nomornya malah tidak aktif.


"Coba kamu lacak,ada di mana sebenarnya istriku?"tanya Bian mulai geram.


"Baik,Tuan."


Rama membuka ponselnya dan mulai memeriksa keberadaan mobil yang menjadi transportasi yang Bian sediakan untuk istrinya berpergian.


"Nona Kia masih di pusat perbelanjaan,Tuan!"


"Oh,ya?Sudah selama ini,Dia belum selesai juga?Apa saja sih yang dibelinya?"gerutu Bian.


Tak ingin salah dalam menjawab,Rama lebih memilih diam dan pura-pura sibuk dengan ponselnya.Bisa tambah ngamuk lagi Tuannya ini kalau jawaban yang diberikannya tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya.


Daripada tambah kesal menunggu,Bian lebih baik ke kamarnya dan beristirahat.Selama tinggal berjauhan dengan istri kecilnya,tidurnya selalu terganggu karena sering terbangun saat merasa tidak ada yang meringsek masuk dalam pelukannya.


* * *


"Mas......Mas......bangun,Mas!"


Perlahan Bian membuka matanya.Wajah cantik yang sudah satu minggu lebih tidak dilihatnya secara langsung,kini hadir di depan matanya.Senyum itu,senyum yang selalu membuatnya cemburu kalau diperlihatkan ke pria lain.Benar-benar senyum termanis yang dia sukai.


"Bangun,sudah sore!"ucapnya.


Kia hendak berdiri,tapi Bian segera menarik pinggangnya agar masuk ke dalam pelukannya.Diciumnya aroma yang selalu membuatnya nyaman.Istrinya ini benar-benar candu untuknya.


"Kangen banget sama kamu!"bisiknya di ceruk leher Kia.


"Sama,aku juga."

__ADS_1


Kia menyambut pelukan suaminya dengan tangannya yang melingkar di leher Bian.Diusapnya rambut tebal suaminya itu.Sampai beberapa saat dalam posisi berpelukan,Bian sadar akan sesuatu.Bian melepaskan pelukannya dan mengambil kotak istimewanya yang diletakkan di atas nakas tadi.


"Apa ini benar?"tanyanya dengan wajah yang berbinar seraya menunjukkan baju bayi yang bertuliskan kalau dia akan menjadi ayah.


Kia membawa tangan suaminya menyentuh perutnya.Dengan senyum yang begitu manis,Kia menganggukkan kepalanya mengiyakan.Wajahnya begitu sumringah saat Bian turun dari ranjang dan duduk berlutut di hadapan istrinya itu.


"Halo sayang,ini Papa!Papa senang,akhirnya kamu hadir di antara kami!"Bian mengelus perut Kia yang belum membesar.


"Mas,mau ngapain?"tanya Kia karena Bian menaikkan bajunya.


"Mau nyium baby nya langsung,"ucap Bian.


Rasa geli yang ditimbulkan dari Bian yang mengecup perutnya membuat Kia tertawa namun tak juga menghentikan ulah suaminya itu.Kia malah mengusap kepala suaminya karena Bian lama sekali mencium perutnya.


"Lama banget nyium nya?Kamu nggak lagi modus kan,Mas?"curiga Kia.


"Aku sedang mendoakan calon bayiku.Kamu nggak usah protes!"seru Bian kembali mencium perut istrinya.


"Bisa diem dulu nggak sih?Jadi nggak konsen ini doanya,"Bian mendongakkan kepalanya.


Cup


Kecupan manis Kia mampir dibibir Bian yang terus memprotesnya.Merasa telah kalah start,Bian menarik tengkuk istri kecilnya agar bibirnya bisa membalas apa yang dilakukan Kia tadi.Karena didorong rindu,Bian semakin menekan bibirnya pada bibir ranum itu.


Bian semakin ******* bibir yang menjadi candunya itu.Saat merasa istri kecilnya kehabisan nafas,Bian melepas ciumannya lalu menyatukan kening mereka.


Keduanya saling tersenyum dengan nafas yang masih naik turun.Sudah terlalu lama hal ini tidak terjadi.Mereka sama-sama saling merindukan.


Tangan Kia mengelus rahang kokoh pria yang sudah memenuhi tempat di dalam hatinya.Air matanya menetes tanpa Bian tahu untuk alasan apa.Bian menautkan alisnya merasa heran dan bingung.


"Kok malah nangis?"tanyanya.

__ADS_1


"Aku sangat mencintai kamu."


"Iya,aku juga.Kenapa harus nangis begini sih?Bikin takut aja deh!"


"Kalau aku jauh,kamu harus tetap melanjutkan hidup,hum!"Kia masih meneteskan air matanya.


"Hei,kamu ngomong apa sih?Nggak ada yang akan pergi,kita akan terus sama-sama.Aku,kamu dan calon bayi kita."


"Maaf!Aku nggak bisa lagi ada disisi kamu.Apapun yang terjadi padaku,jangan pernah menyalahkan diri kamu sendiri!Janji?"


Kia menaikkan jari kelingkingnya agar Bian memberikan janjinya.Bian semakin heran dengan istrinya saat ini.Wajahnya yang tersenyum berganti dengan raut ketakutan.


"Kia,ada apa?Jangan menakuti ku!"


Tak menghiraukan ucapan Bian,Kia kembali mengecup bibir suaminya dengan air mata yang mengalir.


"Ah.........,"teriak Kia kesakitan dengan tangan yang meremas perutnya.


"Kia.....ada apa?Jangan menakut-nakuti aku seperti ini!"Bian mulai mengeluarkan air matanya pula.


"Kia......!


Kia........!


"Please,jangan pergi!"


"Bagaimana denganku kalau kalian pergi?"


"Nggak,kalian nggak bisa ninggalin aku!"


"Kia............!

__ADS_1


__ADS_2