
"Rama......!"
Panggil Bian dengan langkah cepat menuruni tangga.Raut wajahnya yang kusut membuat Rama heran.Keringat mengalir dari pelipis Tuannya itu.Nafas Bian terengah-engah karena berlari dari kamarnya.
"Ada apa Tuan?"Rama menghampiri Bian dengan waspada.
"Ra-Ram.....kita harus cepat menyusul Kia!"ucap Bian terbata.
"Cepatlah!"teriak Bian.
Mereka pun segera keluar dari apartemen dengan tergesa-gesa.Rama memerintahkan Pak Beno agar mengikuti mereka.Meski bingung dengan kepanikan yang terlihat di wajah Bian,Pak Beno tidak berani untuk mempertanyakannya.
Mobil yang dikendarai oleh Rama pun melaju kencang dan diikuti oleh Pak Beno dengan motornya di belakang sampai ke pusat perbelanjaan yang Kia kunjungi beberapa jam yang lalu.
Mereka langsung membawa mobilnya untuk berhenti di titik yang ditunjukkan oleh ponselnya.Bian meminta ponsel Rama dan mulai mencari keberadaan mobil istrinya itu.
Di parkiran basemen,tepatnya di bagian pojok,mobil Kia terparkir rapi.Bian segera menghampiri mobil itu dengan berlari.Bian menerawang bagian dalam yang tidak terlihat sama sekali.
"Kerahkan orang-orang kita menyusuri setiap sudut tempat ini,temukan istriku secepatnya!"teriak Bian.
Rama dan Pak Beno pun segera melaksanakan apa yang Bian perintahkan.Pak Beno juga merasa khawatir dengan Nona nya dan juga temannya yang belum pulang setelah sekian lama keluar.
__ADS_1
"Di mana kamu Kia?Jangan pergi!"Bian terduduk disamping mobil istrinya.
Mimpi yang dialaminya tadi terasa sangat nyata.Bian bahkan bisa merasakan ketakutan yang Kia tunjukkan.Kalau sampai mimpinya tadi pertanda kalau dia akan kehilangan istri dan juga calon bayinya,Bian benar-benar tidak tahu harus bagaimana dengan hidupnya.
Tidak,itu tidak akan terjadi.Dia akan mencari Kia dimanapun itu.Bersama dengan Kia lah,dia merasakan hidup yang bahagia.Sekalipun Kia terus mendorongnya menjauh,dia tetap tidak akan pergi.
Pencarian terus dilakukan,sampai setiap area pusat perbelanjaan itu tak luput dari orang-orang yang Bian kirimkan.Bian mengirimkan nomor ponsel Kia kepada Rama agar dicari juga titik lokasinya.
Setelah beberapa saat,akhirnya mereka menemukan titik lokasi yang ponsel Kia kirimkan.Letaknya tak jauh dari tempat mereka berada saat ini.Bian segera ke sana dan terus menghubungi nomor itu sampai nada dering terdengar dari balik semak yang ada di tepi jalan.
Seseorang yang ikut mencari,memberikan ponsel istri dari Bosnya itu.Wajah Bian sudah benar-benar khawatir,belum lagi saat Pak Beno juga memberitahu kalau ponsel yang biasa digunakan Pak Ali ditemukan hancur di tepi jalan tak jauh dari ponsel Kia ditemukan.Mungkin hancur karena terlindas mobil.
"Cari istriku sampai ketemu,bagaimanapun caranya,aku tidak peduli!Cepat!"teriak Bian frustasi.
"Tuan!"Rama menepuk bahu Bian yang terus mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"Kita cari lagi!"seru Bian mengayun langkahnya ke mobil.
Keadaan Bian sudah tidak lagi terlihat seperti seorang CEO dari perusahaan ternama.Baju yang sudah mulai kusut begitupula dengan wajahnya.Matanya yang memerah begitu terlihat sedih dan takut.
Takut akan kehilangan,itulah yang terpancar dari matanya.Bian mengambil foto USG calon bayinya yang dibawanya dalam saku dan memandangnya dengan nanar.
__ADS_1
"Kalian tenang saja,Papa akan segera menemukan kalian!Bilang sama Mama agar tetap bertahan!"lirih Bian terdengar pilu.
"Tuan,Nona Kia?"Rama melirik Bian yang duduk di kursi sebelahnya.
"Kia sedang hamil!"beritahunya.
Mobil pun berhenti mendadak karena Rama yang tak sengaja menginjak pedal rem.Bian yang terkejut,langsung melindungi foto USG calon bayinya agar tidak terlepas dari tangannya.
"Maaf,Tuan."sesal Rama.
Rama pun kembali melajukan mobilnya dengan pelan menyusuri jalan sembari mengedarkan pandangannya mencari.Kia tidak mungkin kabur kan?pikir Rama.
Lama pencarian dilakukan,tapi tak juga menemukan titik terang.CCTV pun tidak memperlihatkan adanya Kia dan juga Pak Ali.
Semuanya seperti terencana dengan baik.Bian sempat berpikir kalau istri kecilnya itu memang berencana untuk kabur darinya.Tapi,pikiran itu segera ditepisnya.Kia sendiri yang bilang kalau dia sangat mencintainya.
Bian mulai mencari-cari siapa yang telah mengusik kebahagiaannya bersama dengan istrinya.Orang tuanya,orang tua Seline,Seline atau mungkin.....dosen yang memiliki rasa pada istrinya.Bian bahkan tidak mau menyebut namanya sekalipun cuma dalam pikirannya.
Siapa pun orangnya,Bian tidak akan melepaskannya.
"Kita datangi mereka satu persatu!"ucap Bian.
__ADS_1
"Baik,Tuan."