
Di villa Bian yang letaknya tak jauh dari perkebunan,membuat udara dingin semakin terasa saat malam semakin larut.Kia saja sampai mematikan AC di kamarnya karena tak tahan dengan suhu udara di sana.
"Tambah malem,tambah dingin di sini udaranya,"kata Kia meringsek masuk dalam pelukan sang suami.
"Hem ... apalagi habis hujan tadi sore,"ucap Bian membenarkan.
Bian mengeratkan pelukannya pada sang istri,memberikan kehangatannya.Tadi sore memang sempat turun hujan yang cukup deras.Untung saja mereka sudah pulang dari jalan-jalan mengelilingi daerah tempat wisata yang ada di sekitar sana.
Jagoan mereka pun sudah tertidur pulas di sampingnya.Seharian dia bermain bersama aunty nya juga Rama.Mereka bertiga terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia.Sedang orang tuanya,asik berpacaran menikmati suasana menyegarkan di area taman.
"Oh,iya!Sebentar lagi,Biyan ulang tahun,kan?"tanya Bian dengan suara yang pelan.
"Iya.Kamu dan Biyan akan ulang tahun di bulan ini.Kenapa?"
"Aku ingin buatkan pesta ulang tahun untuk jagoan kesayanganku ini,"ucap Bian mengelus punggung putranya.
Sang jagoan semakin pulas tidurnya karena dielus punggungnya oleh ayahnya.Kia menatap wajah malaikat kecilnya yang tidur di bawah ketiak ayahnya.Anak itu sangat dimanjakan oleh suaminya,apalagi Oma-Opa nya.
Kalau ditegur, mereka pasti beralasan kalau yang mereka lakukan adalah untuk membayar masa-masa yang terlewatkan sebelum mereka kembali bertemu.Kia juga sudah kehabisan kata-kata untuk menghentikan mereka.
"Dia masih dua tahun,Mas.Nggak perlu pesta juga.Kita rayakan bersama keluarga kita aja,"saran Kia.
"Kayaknya kamu itu anti banget dengan yang namanya pesta,ya?Aku kan pengen semua orang tahu istri juga anakku.Memangnya kamu mau terus menjadi istri simpananku?"sebel Bian.
"Kok,istri simpanan,sih?"Kia menatap suaminya.
"Ya ... apa dong sebutannya kalau bukan itu?Kan nggak ada yang tahu kalau kamu istriku selain keluargaku."
Kia memajukan bibirnya karena apa yang suaminya bilang itu benar.Tapi kan,dia belum siap menghadapi komentar masyarakat yang julid nya tiada tara.
Tak mendengar lagi suara sang istri,Bian mengangkat dagu Kia agar terlihat olehnya karena penerangan hanya bersumber dari lampu tidur di samping kiri dan kanannya.
"Baiklah,jika itu yang kamu mau,"ucap Bian mengalah.
"Maaf.Aku egois ya?"
__ADS_1
"Hem ... sedikit."
"Kalau kamu mau buat pesta,ya sudah nggak apa-apa.Sekalian pesta ulang tahun kamu juga."
Bian tertawa pelan.Dia sudah tua,untuk apalagi merayakan ulang tahun dengan pesta?
"Kalau kamu nggak nyaman,lebih baik nggak usah.Biyan juga kayaknya nggak terlalu suka keramaian.Waktu pernikahan kita kemarin aja,dia hanya diam dipangkuan Daddy,"ujar Bian kembali mengingat acara pernikahan mereka.
"Sama seperti aku,"imbuh Kia.
Dia memang tidak terlalu menyukai suasana yang ramai.Ketika masih di desa,Kia tidak terlalu sering menghadiri acara-acara besar,seperti acara ulang tahun desa yang digelar oleh kepala desa.
* * *
Hari berlalu begitu cepat,tak terasa hari ulang tahun Biyantara Abraham akan dilangsungkan.Di bangunan dua lantai dengan taman indah di bagian belakang rumah,sudah dihiasi balon-balon khas perayaan ulang tahun untuk anak-anak.
Acara yang digelar hanya mengundang beberapa kerabat serta sahabat dari kedua orang tua anak yang berulang tahun.Makanan pun sudah tertata rapi di atas meja panjang yang khusus dipersiapkan di taman belakang.
Di dalam kamarnya,Kia sedang sibuk mendandani putra juga suaminya dengan baju yang sama.Dia juga akan memakai pakaian dengan warna yang senada dengan kedua pemilik hatinya itu.
Dokter Vino pun hadir bersama istrinya,dokter Rania juga putri mereka,Naya.Sudah lama sekali Bian tidak bertemu dengan dua sahabatnya dokternya itu.
"Akhirnya kebahagiaan Lo kembali.Mana nih calon mantu gue?"canda dokter Vino.
"Calon mantu?Hei ... Naya sudah lima tahun,anakku baru genap dua tahun,"balas Bian memberengut.
"Ha ... ha ... ha ...,gitu aja sewot lo!"
Acara pun dimulai dengan sambutan dari Bian.Lalu dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Happy birthday dan pemotongan kue.Setiap momen tak luput dari jepretan kamera Rama yang khusus hari ini dijadikan fotografer dadakan.
Acara pun berjalan begitu meriah sampai datanglah seorang wanita cantik bak model ke acara itu dan langsung memeluk Bian,memberikan selamat.
"Selamat ulang tahun,ya Bian,"ucapnya mencium kedua pipi Bian.
Kia membelalakkan matanya melihat adegan cipika-cipiki di hadapannya.Begitupula para undangan yang hadir.Perasaan tidak ada yang mengundang wanita ini,batin Key.
__ADS_1
"Hey,janda gatel ... siapa yang ngundang Lo kemari?"geram Key.
"Apa Lo bilang?Janda gatel?"kesal Sania.
Nyonya Sofia menatap putranya dengan rasa bersalah.Dia tidak sengaja memberitahu kalau Biyan akan mengadakan pesta ulang tahunnya saat Nyonya Sofia mendapatkan telepon dari Key.Sania pikir Bian lah yang akan berulang tahun,bukan putranya.
"Tante ...!"sapa Sania mendekati Nyonya Sofia.
Kia menatap tajam suaminya yang tidak berusaha mengelak saat dipeluk bahkan dicium oleh wanita cantik yang tidak dia kenal siapa.Begitupun dengan putranya,Biyan.Dia seolah mengerti dan tidak menyukai kehadiran wanita yang mencium ayahnya di depan mata sang ibu.
Tak menghiraukan tatapan tajam Key,Sania memberikan kado yang dibawanya pada Bian yang masih berdiri memaku menatap istri juga anaknya.Kia segera membawa putranya masuk ke dalam rumah dan mengajaknya ke kamarnya.
Bian hendak mengejar istrinya yang menggendong putranya masuk,tapi langkahnya dihentikan oleh Sania yang mencekal tangannya.
"Bian ... ini kado untuk kamu!"ucap Sania.
"Tinggal letakkan di atas meja sana,rusuh banget sih lo!"ucap Key mewakili kakaknya.
Bian menghempas tangan Sania dan berlari mengejar istri juga anaknya.Sania tambah kesal dengan perlakuan Bian yang menolaknya di depan banyak orang.
"Ini bukan pesta ulang tahun untuk Bian,Sania.Ini acara ulang tahun untuk putranya dan namanya juga Biyan,pake huruf y tapi,"jelas Nyonya Sofia.
"Putranya,Tante?"
"Hem,putranya.Istrinya Kia masih hidup dan sudah kembali,"jelas tuan David.
"Dan gue harap,Lo nggak ganggu Kak Bian lagi,"ucap Key menimpali.
Nafas Sania memburu mendengar penjelasan dari tuan David dan apa yang Key katakan.Sejak awal,memang adiknya Bian ini tidak menyukainya mendekati kakaknya.
Pantas saja,sikap Bian jadi lebih dingin padanya akhir-akhir ini.Dia pikir,saat Om Anggara,papanya Seline bilang kalau dia melihat Bian juga keluarganya sedang makan bersama seorang perempuan dan seorang anak laki-laki bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan.
Seline mengepalkan tangannya dengan menggertakan giginya dan pergi dari sana.Dia sudah kecolongan lagi.Dulu sepupunya,sekarang entah siapa yang Bian jadikan seorang istri.
"Awas kalian!"lirih Sania.
__ADS_1