
Tok....tok....tok......
"Masuk!"
Seorang wanita paruh baya masuk dan menghampiri Bian yang tengah sibuk dengan berkas-berkas yang harus diselesaikannya.
"Tuan,saya permisi!"
Rama menunduk hormat pada Nyonya Sofia dan pergi meninggalkan ibu dan anak itu.Nyonya Sofia duduk di kursi berhadapan dengan putranya.Bian berdiri dan mendekati ibunya untuk memeluk dan mencium keningnya.Sudah lama juga tidak melihat ibunya sejak terakhir ia menjenguk ibunya yang sakit.
"Kenapa kemari?Kenapa nggak nyuruh Bian aja yang mengunjungi Mommy?"
"Apa harus Mommy yang meminta terlebih dahulu,baru kamu mau datang?Apa itu rumah musuhmu,sampai harus menunggu undangan baru mau menginjakkan kakimu di sana?"omel Nyonya Sofia.
Bian kembali ke kursinya dan kembali memeriksa dokumen yang dikerjakannya tadi. Nyonya Sofia berdecak melihat putranya yang benar-benar cuek,bahkan pada ibunya sendiri.
Tok....tok.....tok......
Pintu kembali diketuk dan sekertaris Bian masuk membawa nampan berisi secangkir teh dan kue untuk Nyonya Sofia.Setelah meletakkannya di hadapan Nyonya Sofia, sekertaris itupun pergi.
"Mommy mau bicara!"
"Bicaralah,aku akan mendengarkan."
Nyonya Sofia menghela nafas,"Kasih kesempatan untuk hubungan kalian!Cobalah untuk lebih manis dengan Seline,jangan kaku seperti ini!"
"Dari awal Dia sudah tahu aku seperti ini,"ucap Bian tanpa menghentikan pekerjaannya.
__ADS_1
"Awal kalian menikah,kamu sangat berusaha untuk memenangkan hatinya.Berarti saat itu,di hatimu sudah ada rasa cinta untuk Seline.Mungkin kalian perlu untuk mengulangi momen-momen saat kalian merasa bahagia di dalam pernikahan kalian."
"Aku hanya berusaha untuk membuat pernikahan kami sama seperti pernikahan yang lain,tidak lebih.Soal perasaan,itu sama sekali tidak ada,"jelas Bian.
"Cobalah sekali lagi!"
"Sudah bosan,"jawab Bian sekenanya.
"Apa karena ada wanita lain?"tanya Nyonya Sofia menelisik wajah putranya itu.
Bian menghentikan tangannya yang sedang menandatangani sebuah dokumen.wajahnya mendongak menatap Mommynya.
"Apa itu benar?"ulang Nyonya Sofia.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Mommynya, Bian melanjutkan pekerjaannya.Nyonya Sofia meminum tehnya yang sudah mulai dingin.
"Tinggalkan Dia!"pinta Nyonya Sofia.
Bian mengepalkan tangannya,"Apa Mommy memata-matai ku?"
"Apa Mommy harus melakukan itu?"tanya Nyonya Sofia tenang.
"Lebih baik kalian tidak ikut campur dalam setiap urusanku!"
"Apa kau bukan anakku lagi sampai kami tidak boleh ikut campur?Apa yang diberikan wanita itu yang tidak diberikan Seline untukmu?"
"Mom!"Bian menggertakan giginya.
__ADS_1
"Lihat!Wanita itu sudah berhasil mengubah putraku menjadi kurang ajar pada Mommynya."
Bian membuang nafasnya pelan,mencoba untuk menahan emosinya.Dia tidak mau berbuat lebih jauh kepada orang yang sudah melahirkannya.
"Lebih baik,Mommy pulang dan beristirahat! Sudah saatnya makan siang juga,jangan sampai terlambat makan,Mommy bisa sakit nanti."
Bian meminta Mommynya berdiri dan mengantarkannya sampai ke mobilnya.Nyonya Sofia kesal bukan main karena Bian secara tidak langsung mengusirnya dari sana.
"Kamu mengusir Mommy?"tanyanya kesal.
"Mommy bisa menganggapnya begitu."
"Kamu ingat,Mom and Dad tidak akan pernah memberikan restu untuk wanita yang tidak jelas asal-usulnya itu!"
"Baiklah,terserah kalian saja."
Nyonya Sofia menghentakkan tangan Bian yang merangkul bahunya lalu pergi dari ruangan kerja Bian dengan perasaan kesal.Putranya sudah tidak bisa lagi dikendalikan.Dia harus mencari tahu dimana Bian menyembunyikan wanita itu.Nyonya Sofia tidak ingin anaknya dipermainkan oleh gadis kecil yang hanya menginginkan hartanya saja.
"Rama,ke ruangan ku!"panggil Bian lewat intercom.
Tak butuh waktu lama,Rama datang menemui Bian.Bian memberikan perintah untuk lebih waspada saat mereka pergi ke apartemen dan memperketat penjagaan di apartemen.Bian takut keluarganya melakukan hal yang tidak baik kepada Kia kalau sampai mereka mengetahui keberadaannya.
* * *
"Ricky!"
"Ya,Nyonya!"
__ADS_1
"Cari tahu kemana Bian pulang selama ini! Sepupunya Seline sering melihat Bian di daerah xx.Saya mau laporannya secepat mungkin!"perintah Nyonya Sofia pada orang kepercayaannya melalui telepon.
"Baik,Nyonya."