
Di kampus,seorang pria yang banyak dikagumi oleh kaum hawa terlihat selalu menanti kehadiran seseorang yang selalu membuatnya tak bisa tidur beberapa hari ini.
Berjalan mondar-mandir tak juga membuatnya tenang karena seseorang yang dinantikannya malah menyampaikan bahwa dia tidak bisa hadir untuk beberapa hari ke depan.Pak Dani menyugar rambutnya gusar.Dia benar-benar ingin tahu kebenaran yang dikatakan oleh Nyonya Sofia.
"Kia.....kau membuatku kehilangan akal!"Pak Dani merasa frustasi.
* * *
Menonton drama kesukaannya seraya mengelus perutnya yang masih terlihat rata terus Kia lakukan sejak dia pulang dari rumah sakit.
Sementara di kantor,Bian tampak tak fokus mengerjakan pekerjaannya.Pikirannya selalu tertuju pada istri kecilnya yang masih tak mau mengangkat telepon darinya.
Bian khawatir karena mendapat laporan kalau Kia hari ini datang ke rumah sakit.Mau menelpon dokter Vino untuk mencari tahu,sayangnya dokter Vino sedang melakukan seminar di lain kota.Pak Ali ataupun Pak Beno cuma bilang kalau Kia hanya melakukan pemeriksaan,tapi tidak tahu pemeriksaan apa.
Bian terus mencoba untuk menghubungi istrinya itu.Dan syukurlah akhirnya Kia mengangkat juga telepon darinya.
"Dari mana saja?Dari tadi aku telepon nggak di angkat-angkat.Dari mana kamu,hah?Jawab!"
"Ckk.Aku sibuk!"
"Sibuk apa?Jangan bohong!"
"Sibuk nonton di bawah,hpnya aku tinggal di kamar."
"Hufth......Kia......!!!!!"
"Apaaa......."
Bian menjauhkan ponselnya dari telinga karena teriakkan Kia yang melengking.Lagi,Bian harus bersabar menghadapi istri kecilnya yang masih marah padanya.
"Ngapain kamu tadi ke rumah sakit?"
"Orang ke rumah sakit emangnya mau ngapain lagi?"
Kia sepertinya selalu ingin menguji kesabaran suaminya.Tapi,saat teringat kalau dia tengah mengandung,Kia jadi bimbang harus mengatakannya atau tidak.Kia sedikit melamun jadinya sampai Bian menyebut namanya dan membuatnya kembali sadar.
__ADS_1
"Kia?"
"Ya?"
"Jawab yang sebenarnya,kamu ngapain ke rumah sakit tadi?"
"Nggak ada,cuma pemeriksaan biasa."
"Pemeriksaan yang seperti apa?Yang jelas dong!"
"Yang biasa aja,kemarin kan perutku sedikit keram."
"Terus?"
"Ya,jangan keterusan,nanti nabrak!"
"Kiaaa.....!"
"Dokter bilang semuanya baik,nggak ada yang harus dikhawatirkan."
"Hem.Oh iya,kapan kamu pulang?"
Kia mencoba mengalihkan pembicaraan.Kejutan ini akan dia sampaikan secara langsung kepada suaminya.Biarlah orang lain menganggapnya seperti apa,karena telah mengambil suami dari wanita lain.Kia akan berusaha untuk tidak mempedulikannya.Anaknya lebih penting dari segalanya dan Bian sebagai ayahnya pun berhak tahu tentang kehadirannya.
"Pulang?"
"Iya pulang!Kenapa?Kamu nggak akan pulang lagi kemari?Apa kita juga akan berpi-"
"Kia.....jangan sembarangan berbicara!Jangan pernah mengucapkan kata itu padaku!Aku tidak akan pernah melepaskan mu sekalipun kamu memaksaku untuk melakukannya,ngerti?"
"Ya sudah....kapan kamu pulang?Gitu aja panjang banget jawabnya."
"Untuk sementara waktu,aku akan di sini dulu sampai semua urusanku dan Seline selesai."
"Oh!"
__ADS_1
Hatinya sedikit nyeri saat nama wanita yang merupakan istri pertama suaminya keluar dari mulut Bian.
"Kamu marah?"
"Menurut mu?"
"Maaf!"
"Lebih baik kamu pikirkan dulu keputusan kamu matang-matang.Aku nggak mau wanita lain bersedih karena aku.Orang lain pasti menganggap akulah penjahatnya karena merebut suami dari wanita lain."
"Kia,kita sudah membahas masalah ini sebelumnya.Hubunganku dan dia bukanlah hubungan yang seperti orang lain lihat.Ada atau tidak adanya kamu,kami pasti akan berpisah juga pada akhirnya.Dia hanya menunggu waktu untuk berpisah dariku.Dan kalau aku yang mengambil inisiatif duluan,memangnya kenapa?"
"Apa kamu akan tinggal bersama dengannya?"
"Tentu saja tidak!Kenapa?Kamu takut aku berubah pikiran?"
"Nggak juga sih."
"Bohong demi membahagiakan suami nggak dosa juga,Kia!Sekali-sekali cemburu,kek!"
"Nggak usah lebay deh,Mas!Ya sudahlah,aku mau istirahat!"
"Hem.Ya sudah,tidurlah!"
Bian mematikan sambungan teleponnya saat bersamaan Rama datang dan memberitahu kalau sudah waktunya pulang karena hari juga sudah larut.Bian sudah memberi instruksi pada Rama agar mempercepat proses perceraiannya.
"Tuan,apa Tuan akan pulang ke mansion?"
Bian berpikir sejenak dan menatap Rama,"No!"
"Lalu,menginap di hotel?"tanya Rama."Nggak mungkin kan kalau pulang ke apartemen?"lirih Rama dalam hati.
"Hei,kenapa harus ke hotel?Bukankah apartemen mu ada dua kamar?"
"I..ya....!"ucap Rama masih tak paham.
__ADS_1
"Ya sudah,ayo pulang!"seru Bian.