
Sesampainya mereka di hotel tak jauh dari desa,Bian menyerahkan kemeja kerja yang selalu dia bawa di mobil kepada Kia agar mengganti bajunya yang basah.Kia menerimanya dan masuk ke kamar mandi. Bian juga mengganti bajunya yang juga basah kuyup.Setelah berganti baju,Bian mengistirahatkan tubuhnya di sofa.Bian memegang perutnya yang perih sejak kemarin.Wajahnya terlihat pucat,bibirnya pun menggigil.Kia keluar dari kamar mandi dan duduk di samping Bian.
"Kamu kenapa?"Kia meletakkan telapak tangannya di dahi Bian.
"Ya,ampun!Panas banget.Istirahat di tempat tidur aja!"
Kia memapah Bian untuk pindah ke tempat tidur.Dibaringkannya tubuh lemah Bian dan diselimuti nya agar tubuhnya menghangat.Kia mengambil ponsel Bian dan segera menghubungi Rama untuk meminta bantuan.
"Halo,Tuan!"
"Pak Rama!Ini saya Kia.Mas Bian badannya panas banget,apa Pak Rama bisa mencarikan obat dan keperluan untuk mengompres?"
"Baik,Nona!Secepatnya saya akan mengantarkannya ke sana!"
Kia mendekat dan duduk di tepi tempat tidur,kembali memeriksa suhu tubuh suaminya.Hotel yang mereka tempati adalah hotel kecil.Selain tempatnya yang kecil,banyak juga yang tidak tersedia di sana.
"Huh....dasar orang kaya,baru kena hujan segitu aja sudah demam,"lirih Kia membenarkan selimut Bian.
Tak lama setelah ditelpon,Rama datang mengetuk pintu,membawa apa yang dipinta Kia tadi.Kia membuka pintu dan memunculkan kepalanya.Kia tidak mungkin menemui Rama dengan kemeja Bian yang memperlihatkan setengah pahanya.
"Terima kasih!"ucap Kia.
Rama menunduk kecil dan pergi.Kia menutup pintu dan segera menyiapkan baskom dan mengisinya dengan air hangat.Kia mulai mengompres kening Bian.Sesekali Bian merintih memegang perutnya.Kia merasa khawatir melihat wajah pucat Bian.
Walau ragu-ragu,akhirnya Kia memutuskan untuk menghubungi Rama kembali.
"Iya,Nona!Apa Tuan Bian baik-baik saja?"
"Suhu tubuhnya masih panas dan wajahnya terlihat sangat pucat.Mas Bian juga sesekali merintih,memegang perutnya.Apa sebaiknya kita bawa ke rumah sakit aja,ya?"
"Baiklah kalau begitu,Nona Kia siap-siap dulu.Saya,Pak Ali dan Pak Beno akan mengurus semuanya."
"Oke,yang cepet ya,Pak!"
Kia memakai celana yang dipakainya tadi, walaupun masih lembab.Tapi Kia tetap memakai kemeja Bian.Tak lama kemudian,Rama datang.Merekapun pergi dengan memapah Bian masuk ke mobil.
__ADS_1
"Langsung ke apartemen saja!"ucap Bian setengah sadar.
"Tapi,kamu pucat banget,Mas."
"Suruh dokternya ke apartemen!"
"Baik,Tuan!"
Rama pun melajukan mobilnya segera dan menghubungi dokter yang biasa menanganinya untuk stand by di apartemen. Begitu sampai apartemen,Bian segera diperiksa dan diberikan penanganan yang tepat oleh dokter.
"Saya sudah katakan kemarin padanya untuk menjaga pola makan dan jangan terlalu memaksakan diri untuk bekerja terlalu keras,apa dia melakukannya?"tanya dokter pada Rama.
"Hufth.....lihat apa yang terjadi sekarang?"tanyanya lagi melihat Rama yang hanya diam.
"Ada apa,Dok?Sebenarnya Mas Bian sakit apa?"Kia menghampiri dokter dan Rama di bawah tangga.
Dokter melirik Rama,menanyakan siapa Kia lewat sorot matanya.
"Dokter!Apa ada yang serius?"
"Ini saya resep kan obat,tolong Nona bantu untuk menjaga pola makannya dan bilang ke Bian jangan terlalu memforsir diri untuk bekerja terlalu keras.Tidur yang cukup dan jangan terlalu banyak mengkonsumsi kafein,"dokter memberikan kertas resep obat pada Kia.
"Terima kasih,Dok!"
"Saya permisi dulu,Nona!"
"Saya akan mengantar dokter!Biar saya yang beli obatnya,Nona!"
Rama mengambil resep obat itu dari Kia dan mempersilahkan dokter untuk jalan lebih dulu.Dokter menatap Rama penuh selidik.Dokter Vino adalah sahabat Bian,dan yang dokter Vino tahu Seline lah istri dari Bian.
"Saya akan jelaskan nanti!"bisik Rama.
Kia kembali ke kamar untuk mengecek Bian kembali dan Kia bersyukur karena suhu tubuh Bian sudah tidak sepanas tadi.Karena hari sudah malam,Kia pun membaringkan tubuhnya di samping Bian dan menyusul ke alam mimpi.
* * *
__ADS_1
Malam perlahan hilang berganti pagi.Bian mengerjap pelan menyesuaikan penglihatannya.Dirabanya tempat disampingnya,ternyata Kia sudah tidak ada di sana.
Ceklek...
Bian melihat ke arah pintu dan muncullah Kia membawa segelas air putih hangat dan semangkuk bubur ayam.Kia mendekat dan meletakkan nampan yang dibawanya di atas nakas.Diceknya kembali kening Bian,Kia bernafas lega karena kondisi Bian sudah lebih baik.Wajahnya pun sudah tidak sepucat semalam.
Tanpa banyak bicara,Kia membangunkan tubuh Bian menjadi duduk dan memberikan air hangat untuk diminumnya.Bianpun menurut tanpa protes.Kia mengambil mangkuk berisi bubur dan menyuapkannya ke mulut Bian.Meski tidak berselera,Bian tetap menerima suapan demi suapan bubur yang Kia berikan.
"Masih marah?"tanya Bian melihat Kia yang tidak mengucapkan apapun dari tadi.
"Hem."
"Maaf!"
Kia menghentikan suapannya dan menatap Bian tepat di manik matanya.
"Apa salah kalau aku minta kejelasan sama kamu,Mas?"
"Kita memiliki buku nikah,Kia!Apa itu belum cukup jelas untukmu?"
"Hufth.....aku bukannya memburu kamu untuk memperkenalkan aku kepada keluarga kamu,Mas!Aku cuma merasa seperti istri simpanan bagi kamu.Kamu selalu bersembunyi dibalik penyamaran kamu kalau kita jalan keluar dan kemarin,kamu bahkan berpura-pura tidak kenal dengan aku.
Bagaimana kalau seperti ini terus sampai kita mempunyai anak,kamu bayangin bagaimana perasaan anak aku saat dia manggil kamu didepan orang banyak dan kamu melakukan hal yang sama seperti yang kamu lakukan kemarin,aku bahkan nggak sanggup untuk bayangin nya,"Kia mengeluarkan kecemasan yang ada di dalam hatinya.
Bian memeluk Kia mencoba menenangkannya.Tapi bukannya tenang,Kia malah menangis dalam pelukan Bian.
"Maaf!Aku janji akan menyelesaikan masalah ini secepatnya."
"Jangan terus meminta maaf!Karena aku tidak mempunyai hati yang lapang untuk selalu memaafkan.Kalau kamu terus melakukan itu,aku tidak akan ragu untuk pergi dari kamu."
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.Kamu istriku dan selamanya akan menjadi istriku!"
"Selalu memaksa."
"It's me!Your lovely husband."
__ADS_1