Istri Simpanan Pak Tua

Istri Simpanan Pak Tua
Papa Merindukan Kalian


__ADS_3

Seorang pria tengah termenung di kursi sebuah taman.Pandangannya terus menyorot ke depan ke arah beberapa anak kecil yang sedang asik bermain dan tertawa seperti tidak ada beban di atas pundaknya.


Anak-anak itu saling bercanda,entah apa yang mereka tertawa kan.Tetapi,pemandangan hangat itu berhasil membuat senyum pria yang terlihat begitu malang menyunggingkan senyumnya.


"Kalian sangat bahagia meski hanya untuk hal yang kecil,"lirih Bian.


"Nak,kalian di mana?Bilang sama Mama agar jangan bersembunyi terlalu jauh dari Papa!Papa sangat merindukan kalian,"lirih Bian lagi dengan air mata yang menetes.


"Papapa......!"


Terdengar suara batita perempuan.Bian menengok ke arah kakinya yang dipeluk oleh batita cantik itu.Matanya bulat dengan iris yang terlihat tajam.Rambutnya hitam,tebal sedikit ikal.Apalagi pipi gembul nya yang mengundang orang lain untuk mencium gemas.


Dan satu yang paling Bian sukai,gadis cilik itu memiliki senyum yang mirip seperti seseorang yang sangat dirindukannya dengan gigi kelincinya yang imut.


"Hey,cantik!Kamu kok sendirian?Mana Papa dan Mama kamu,hum?"Bian mengangkat gadis kecil itu keatas pahanya.


"Papapa...papapa......!!!!"celoteh gadis kecil itu tak mengerti dengan yang Bian katakan.


Gadis kecil itu mengelus rahang Bian yang brewokan dan tertawa karena geli yang dirasakan tangan mungilnya.Tawanya begitu renyah sehingga membuat Bian juga latah ikut tertawa.


"Kenapa?Geli......?"tanya Bian mendusel hidungnya pada hidung gadis kecil itu.


Merekapun tertawa lagi sampai ada suara seorang wanita memanggil-manggil nama seseorang.

__ADS_1


"Durriyah.........!!!"panggilnya.


"Durriyah......!!!!"teriaknya lagi.


Gadis kecil dengan tubuh sedikit gempal itu turun dari pangkuan Bian dengan merosot kan tubuhnya.Bian terkesiap saat si gadis mungil nan lucu itu berjalan tertatih mendekat ke sumber suara.


"Mammamama.....mamamama.......!!!"celoteh nya menjawab panggilan itu.


Bian mencoba menangkap tubuh mungil yang sepertinya belum begitu lancar berjalan itu untuk mengantarkannya pada sang Mama.Tapi cahaya yang begitu menyilaukan terlihat dari balik tubuh Mama sang gadis kecil.Bian menyipitkan matanya dengan tangan yang terangkat menghalangi silaunya cahaya itu.


"Dadada.....dada......!!"ucap gadis mungil itu mengayunkan tangannya ke kiri dan kanan dalam gendongan Mamanya.


Senyumnya masih terus mengembang sampai keduanya hilang dari pandangan Bian menuju cahaya yang menyilaukan mata itu.Bian perlahan membuka matanya yang menyipit karena silau.


Tapi herannya,Bian hanya menemukan hamparan rumput hijau yang begitu luas didepannya.Bian ingin berteriak memanggil nama yang didengarnya tadi.Namun,suaranya hanya sampai di tenggorokan.


"Du-du......du.....du-,"gagap Bian.


Beberapa kali Bian terus mengulangi sampai tenggorokannya terasa sakit.Tapi Bian tak putus harapan,dia terus mencoba berteriak.


"Du-du.....Durriyah......!!!"teriaknya.


Bian membuka matanya lebar-lebar dan melihat ke sekelilingnya.Ruangan dengan dinding serba putih lah yang tampak di penglihatannya.

__ADS_1


"Tuan?"


Suara Rama menyadarkannya dari keheningan yang sejenak menguasai alam pikirannya.Bian akhirnya kembali pada kehidupan nyatanya dimana tidak ada kebahagiaan di dalamnya.


"Tuan,saya akan memanggil Dokter Vino!"Rama akan memencet tombol darurat di samping ranjang pasien.


"Tidak perlu,aku tidak apa-apa!"kata Bian.


Sudah dua kali dalam sebulan ini,Bian menginap di rumah sakit.Pola hidupnya yang tidak teratur,membuat Bian jadi sering terganggu kesehatannya.Apalagi pada lambungnya.Ditambah lagi dengan kurangnya istirahat akibat dari selalu memforsir diri dalam pekerjaan,semakin membuat kesehatannya terabaikan.


Semua orang sudah terus menasehatinya,tapi Bian tidak pernah mendengarkan apalagi menggubrisnya.Bian benar-benar sudah menikmati hidupnya dalam kesendiriannya.


Bahkan sampai dua tahun waktu berlalu,Bian tak juga meninggalkan kesunyiannya.Kehilangan Kia dan juga calon bayinya sungguh membuatnya menjadi lebih dingin.Bahkan sejak kejadian orang tuanya mengunjungi apartemennya,sejak saat itu Bian tidak pernah lagi bertemu dengan mereka.


Bian akan selalu mengurung dirinya di dalam kamarnya kalau sudah sampai di apartemen dan hanya akan keluar saat Rama membawakannya makanan.Itupun kalau dia sudah merasa benar-benar lapar.


Dan sampai saat ini,Bian masih bahkan tidak akan pernah percaya kalau istrinya telah pergi jauh meninggalkan dunia ini.Dia masih terus memantau orang-orang kepercayaannya yang terus mencari keberadaan istrinya.Mungkin sampai maut juga menjemputnya,baru Bian akan berhenti mencari.


Seperti biasa,Rama pergi meninggalkan Tuannya itu saat Bian sudah mulai tenggelam dalam pikirannya sendiri.Bian mendekap dua foto yang sudah dibuatnya menjadi satu itu begitu erat.Foto Kia dan foto calon bayinya yang masih sebesar buah ceri.


Foto itulah yang selalu menguatkannya disaat kehilangan harapan untuk hidup.Bian seakan tak pernah bosan menitikkan air matanya saat memeluk foto itu.


"Papa sangat merindukan kalian."

__ADS_1


__ADS_2